Showing posts with label Sabdo Palon. Show all posts
Showing posts with label Sabdo Palon. Show all posts

Ramalan Sabdo Palon Perang Dunia Ketiga

 Ramalan Sabdo Palon Perang Dunia Ketiga

mbah subowo

Sabdo Palon penyintas abadi para penganut kejawen adalah titisan penguasa gaib sing "mbaurekso" Nusantara selama lebih dari 2500 tahun dengan urutan: Semar, Humarmoyo, Manikmoyo, Sabdo Palon, Noyogenggong. Ia "ngejawantah" jadi abdi penasihat di Wilwaktikta, istana Majapahit semasa Brawijaya V. 

     Sabdo Palon "sirna" ke mayapada 1478. Berselang 500 tahun sejak Majapahit runtuh itu sekali lagi ia "membo" ke marcapada pada 1978 di salah satu kota pedalaman Jawa Tengah. Pada kesempatan itu kepada para "muridnya" Sabdo Palon mewejang, bertitah atau "meramalkan" kelak di dunia akan terjadi goro-goro "besar"di jagad kasat mata "marcapada" dan dunia tak kasat mata "mayapada" selayaknya perang dunia ketiga yang berarti perang nuklir.

     Sabdo Palon bertitah sekali lagi tatkala tatanan dunia baru terbentuk pasca perang dunia ketiga maka negara Barat dan negara Oriental antara lain: Rusia, Amerika Serikat, Uni Eropa, Australia, Tiongkok, Korea, semua  musnah, bukan saja penduduknya juga negaranya. Yang masih eksis menurut Sabdo Palon an sich sebagai berikut: bangsa Barat berpusat pemerintahan di Spanyol, bangsa Oriental berpusat pemerintahan Jepang, dan bangsa kulit berwarna sebagian besar masih eksis dengan pemerintahan berpusat di Jawa.

     Sekian untuk sekali ini.

*****

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 9:49 AM

Ramalan Sabdo Palon Jaman Baru

Ramalan Sabdo Palon Jaman Baru

mbah subowo

Sekitar 1978, "Sabdo Palon" berujar bahwa kejayaan Nusantara akan terwujud setelah goro-goro besar melanda kehidupan di bumi. Salah satu Gogo-goro besar pendemi Virus Corona-19 belum berakhir hingga detik ini, padahal terjadi sejak dua tahun silam. Goro-goro berikutnya pasca periode serangan "teroris" menurut prediksi CIA sekitar 2000-an, adalah merajalelanya teror "monster", boleh jadi pengembangan paling canggih pada teknologi "drone".  Drone tercanggih saat ini pesawat tempur jet tanpa awak yang mampu membawa senjata nuklir, dan juga drone kapal selam nuklir yang mampu menggendong rudal hipersonik berhulu ledak nuklir.

     Baik Goro-goro berasal dari alam, maupun ulah manusia memang masih berlangsung terus. Goro-goro paling mutakhir yang gencar disebarkan (dipropagandakan) ialah bencana iklim: mencairnya es di kedua kutub, dan penyebabnya paling utama penggunaan besar-besaran bahan bakar fosil yang mengotori atmosfir serta hilangnya sebagian besar hutan yang menjadi paru-paru planet bumi.

     Bahan bakar reaktor fusi nuklir yang ramah lingkungan seperti Helium-3 melimpah di bulan sebagai alternatif sumber enegi pengganti bahan bakar fosil. Akan tetapi semua itu masih tahap eksperimental. Reaktor fusi dengan bahan bakar hidrogen yang melimpah di bumi sejauh ini masih dalam pengembangan.

     Goro-goro memang bukan hanya persoalan wabah penyakit, serangan teroris, teror monster, akan tetapi juga tersedianya energi bersih tanpa batas.

    Semoga segala persoalan akibat ulah manusia dan reaksi planet bumi terkait hal itu segera berakhir hingga kelak bakal mewujud jaman baru-nya Sabdo Palon dan Kejayaan Nusantara benar-benar terjadi.

Sekian untuk sekali ini.

*****


Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 6:11 AM

Semburan Lumpur Lapindo dan Kutukan Punggawa Majapahit

Semburan Lumpur Lapindo dan Kutukan Punggawa Majapahit

mbah subowo bin sukaris

Limaratus tahun yang silam, Sabdo Palon--Noyo Genggong, punggawa terakhir Majapahit sebagai tercatat dalam sejarah, telah menubuatkan suatu "kutukan", "ramalan", ataupun "titah" mengenai masa depan apa yang kelak terjadi terhadap Tanah Jawa.
     Sebagaimana para ilmuan sepakat bahwa Pangeran Wijil I (abad kedelapan belas) meramu kitab Asrar plus Bharatayuddha, Gatotkacasraya, dan Heruwangsa jadi gubahan "Ramalan Joyoboyo". Ramalan Joyoboyo isinya melulu mengenai perilaku manusia di masa depan. Demikianlah maka Sabdo Palon--Noyo Genggong juga meramalkan masa depan Tanah Jawa. Tempat kehidupan manusia Jawa akan berperilaku seperti digambarkan dalam "ramalan Joyoboyo" di atas.
     Tanah Jawa dan manusianya sudah diprediksi mengenai masa depannya sejak abad kelima belas hingga abad kedelapan belas, waktu itu kedatangan bangsa Barat baru dalam tahap awal dan belum mutlak menguasai wilayah Nusantara.
     Sebagaimana ramalan, kutukan, ataupun titah yang datang dari seorang yang berhati kecewa macam punggawa utama dan terakhir Majapahit tersebut di atas, adalah wajar saja isinya berupa bencana, kerusakan alam, bencana penyakit menular, dsb. Sebagai sejarah mencatat kisah Sabdo Palon--Noyo Genggong yang kecewa berat terhadap Brawijaya V -- yang terakhir ini raja terakhir Majapahit yang meninggalkan agama resmi kerajaan Syiwa-Buddha itu.
     Kekecewaan terbesar Sabdo Palon muntab dengan menyatakan bahwa sejak penguasa Majapahit tertinggi itu meninggalkan agama leluhur, maka Tanah Jawa tidak diberkati lagi (oleh Sang Baurekso atau Dang Hyang Tanah Jawi).
     Ramalan Joyoboyo yang digubah semasa bangsa Eropah telah menguasai Nusantara memang sangat akurat hampir tepat semua prediksinya mengenai solah-tingkah manusia Jawa/Nusantara. Sedangkan Ramalan Sabdo Palon--Noyo Genggong yang berasal dari sekitar masa peralihan Majapahit menjadi Kerajaan Islam pertama Demak, memang bernuansa pergantian "tatanan kehidupan Tanah Jawa" menjadi baru berbeda dari berabad sebelumnya.
     "Bukan karena Agama baru berarti penguasa yang baru juga," ...eh, salah, akan tetapi sebaliknya, "Penguasa yang baru akan membawa ajaran/agama/politik yang baru," kata sang pujangga nominee Nobel era Orde Baru.
     Tanah Jawa yang berganti tatanan baru, akan menghadapi bencana alam tiada akhir dan semua terjadi tanpa ada penangkal, dan perlindungan apapun.
     Masih ingat ramalan ilmiah oleh orang nomor satu NKRI pada 2016, Kota Jakarta akan tenggelam 2030?? Itu sudah dinyatakan limaratus tahun yang silam, bahwa air laut akan naik ke daratan utara Jawa. Karena Laut Jawa (bagian utara) memang kecil sekali diprediksi akan terjadi tsunami macam di Aceh tempo hari, akan tetapi akibat turunnya permukaan daratan Kota Jakarta akibat ulah manusia, maka air laut akan meluber ke daratan.
      Bagaimana semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo? Sebagai salah satu item berasal dari ulah manusia sehingga menimbulkan kerusakan Tanah Jawa maka itu juga termasuk yang sudah diprediksi limaratus tahun yang silam.

Bebaya ingkang tumeka,
Warata sa Tanah Jawi
Warna-warna kang bebaya,
Angrusaken Tanah Jawi
Sanget-sangeting sangsara,
Kang tuwuh ing tanah Jawi
Sabdo Palon--Noyo Genggong (abad kelima belas masehi)

Bahaya yang datang menghampiri merata tersebar seluruh Tanah Jawa/Nusantara. Bermacam-macam jenis bahaya serta bencana yang membuat Tanah Jawa rusak. Di masa depan kelak akan tiba masa masa paling sengsara di Tanah Jawa ini.

*****


Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 9:09 PM

Ramalan Sabdo Palon, “Satria Piningit”


Ramalan Sabdo Palon, “Satria Piningit”

mbah Subowo bin Sukaris

Selama berabad di tanah Jawa telah berkembang berbagai ajaran agama mulia dunia di antaranya ialah: Kejawen, Hindu, Buddha, Islam, Nasrani, Konghuchu, dan sebagainya berikut varian-varian dari agama tersebut di atas.
       Di tanah Jawa yang itu juga menjadi pengetahuan umum dan telah dikenal atau dianggap sebagai adat-istiadat yang lumrah bahwa di setiap dusun, dukuh, desa, kampung, akan selalu terdapat “manusia pertama” yang memasuki wilayah desa dan tinggal menetap hingga anak cucu bahkan hingga hari ini. Orang yang dianggap pelopor sebuah desa selalu dihormati dan diingat kehadirannya pada waktu upacara “bersih desa”.
      “Seseorang” yang pertama “berdiam” di sebuah kampung akan dianggap sebagai “pepunden”, dan julukan keramat lainnya. Begitulah di semua sudut tanah Jawa selalu ada “yang menjadi pelopor” menetap di sebuah tempat sampai keturunan anak-cucu nya berkembang pesat. Tokoh semacam ini di suatu wilayah sering juga disebut seorang “danyang”

Pulau Jawa dalam pengertian sempit dan Nusantara dalam pengertian luas, juga mengenal “manusia pertama” yang datang, tinggal, dan menetap hingga keturunannya berkembang dan hidup terus hingga hari ini. “Danyang” atau Dang Hyang tanah Jawa/Nusantara yang telah diakui sebagai sosok pertama yang menguasai alam nyata dan tak kasat mata ialah Sabdo Palon.
      Sabdo Palon yang pada abad kelima belas masehi mendampingi Prabu Brawijaya V -- seorang raja Majapahit terakhir. Pada kesempatan menjelang Sabdo Palon “lenyap” 1478 oleh perbedaan pendapat dan sang baginda, maka Sabdo Palon  sempat “meramalkan” kejadian masa depan.
      Kejatuhan Majapahit dari pentas sejarah Nusantara sudah sewajarnya diikuti beliau (Sabdo Palon) hingga saat akhir, karena Sabdo Palon merupakan tokoh “Danyang” yang selalu mengikuti periode jatuh bangunnya negeri Jawa/Nusantara. Seorang “danyang” atau “sing baurekso” memang akan selalu hadir di setiap ruang waktu dalam perjalanan sejarah Jawa/Nusantara.
      Sosok pemimpin yang “linuwih” “pinilih” yang setia mengabdi kepada rakyat jelata serta tidak pernah menghitung-hitung apapun itu yang mengaitkan dirinya dengan materi “uang” maka dialah pemimpin yang direstui oleh “Sabdo Palon” sang danyang Tanah Jawi.
      Dia si Ratu Adil akan bekerja lebih dulu tanpa pernah mau dan peduli menghitung nilai uang hasil jerih payah yang bakal diraihnya.
      “Uang” adalah hal tabu dibicarakan oleh seorang Ratu Adil (Satria Piningit) jika dirinya sedang bekerja “demi kepentingan rakyat jelata”.
      Berikut ini adalah “ramalan” Sabdo Palon mengenai eksistensinya sebagai penguasa alam gaib dan alam marcapada yang kehadirannya selalu menyertai jatuh bangunnya mulai dari rakyat jelata hingga nasib seorang penguasa/raja khususnya di Jawa/Nusantara:

Wit kulo puniko yekti,
    jer Ratuning Danyang Jawi,
    momong marang anak putu,
    sagunging kang poro Noto,
    kang jumeneng tanah Jawi.

Terjemahannya sebagai berikut: Kami ini Dang Hyang (danyang) ratu penguasa tertinggi alam nyata dan tidak kasat mata setanah Jawa. Peran kami sepanjang masa ialah mengasuh anak cucu serta para raja (pemimpin) di tanah Jawa.

*****
Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 7:02 AM

Wabah Penyakit (pagebluk) atas Jawa/Nusantara Ramalan Sabdo Palon


Wabah Penyakit (pagebluk) atas Jawa/Nusantara Ramalan Sabdo Palon



mbah Subowo bin Sukaris



Pada awal abad keduapuluh satu ini di Pulau Jawa/Nusantara sesak akibat melimpahnya jumlah penduduk, maka yang tengah terjadi adalah kompetisi/rebutan ketat dalam upaya mencari nafkah penghidupan. Kebutuhan sehari-hari yang memaksa agar terpenuhi, antara lain karena keroncongan perut tidak bisa ditahan lagi terkadang membuat para penduduk jelata tidak peduli lagi pada aturan negara. Bagi mereka yang beruntung dalam kehidupannya dan mempunyai penghasilan cukup, maka kebutuhan dasar tidak menjadi masalah. Mereka yang demikian beruntung itu pun ternyata belum merasa puas dan cukup, masih menginginkan lagi pemenuhan atas kebutuhan terhadap barang mewah berupa: sandang mewah, kendaraan mewah, rumah mewah, dan mewah lainnya itu telah menggoyahkan iman oknum punggawa negara sehingga tidak lagi peduli pada hukum dan melakukan korupsi keuangan negara yang jelas melanggar sumpah jabatannya.

        Dan jika kelakuan para penduduk jelata dan para punggawa/abdi negara sudah pada tahap semua melanggar aturan negara maka itulah tandanya akan muncul musibah yang tersebar merata di Tanah Jawa/Nusantara. Musibah yang melanda para penduduk tanpa pandang bulu digambarkan akan mengalami sebagai berikut, "ada penduduk pagi mulai menderita sakit, maka sore akan meninggal dunia. Dan juga ada penduduk yang di waktu malam menderita sakit maka keesokan paginya telah meninggal dunia".
        Satu-satunya penyakit yang memiliki tanda ekstrim semacam demikian yang disebutkan di atas kemungkinan besar dapat terjadi akibat adanya sebaran radiasi nuklir, kimia (racun), dan biologi (kuman) yang bersumber karena adanya serangan senjata jenis tertentu atas Tanah Jawa/Nusantara, dan senjata demikian biasanya disebut senjata pemusnah massal. Senjata pemusnah massal yang saat ini sudah eksis di dunia dan dimiliki oleh negara tertentu adalah berupa senjata nuklir, senjata biologi, dan senjata kimia.
        Penggambaran di atas (serangan senjata pemusnah massal terhadap Tanah Jawa/Nusantara) adalah berdasarkan ramalan Sabdo Palon yang berasal dari abad kelimabelas masehi, atau sekitar enam abad (enam ratus tahun) yang silam. Ramalan Sabdo Palon yang tercantum pada syair ke-11 bunyinya sebagai berikut:


Heru horo sakeh djanmo,


rebutan ngupojo bukti,
tan ngetung anggering prodjo,
tan tahan perihing ati,
katungko praptanireki,
pageblug ingkang linangkung,
waradin satanah Djowo,
endjang sakit sore mati,
sonten sakit endjingnjo sampun palastro.


Sebagai solusi untuk menghindarkan diri dari serangan musuh yang menggunakan senjata semacam di atas, maka kekuatan militer negara Nusantara khusus untuk pertahanan diri harus selalu paling mutakhir. Antara lain guna menangkal rudal jarak jauh berkepala nuklir, biologi, dan kimia, maupun dari serangan oleh pesawat pembom musuh yang tengah berusaha menjatuhkan berbagai jenis bom tersebut di bumi Jawa/Nusantara.

*****


Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 9:24 AM

Ramalan Sabdo Palon, "Kerusakan moral orang Jawa/Nusantara."


Ramalan Sabdo Palon, "Kerusakan moral orang Jawa/Nusantara"

mbah Subowo bin Sukaris



Dari keduapuluh bait ramalan Sabdo Palon yang hidup pada abad kelimabelas masehi terdapat prediksi akurat mengenai musibah bencana alam dan kerusakan ekosistem di Nusantara. Di antara prediksi terpenting yakni yang terdapat pada bait pamungkas/akhir terdapat dua prediksi mengenai kerusakan moral orang Jawa/Nusantara. Bait terakhir ini tercantum pada bait/syair ke 19-20.
      Bait/syair ke 19-20 memang tidak tertulis dengan menyatakan secara langsung mengenai rusaknya moral orang Jawa/Nusantara akan tetapi justru mengemukakan solusi untuk memperbaiki moral orang Jawa/Nusantara yang telah rusak.
      Kerusakan moral orang Jawa/Nusantara terutama disebabkan oleh tibanya masa wolak-waliking jaman/jaman terbalik-balik yang sukar dimengerti oleh siapapun juga. Jaman terbalik ini pun telah diramalkan oleh Joyoboyo yang hidup pada abad keduabelas masehi.
      Kerusakan moral orang Jawa/Nusantara yang tengah terjadi pada awal abad keduapuluh satu ini memang tidak mengherankan, karena setelah jaman terbolak-balik selanjutnya akan berganti memasuki jaman edan (jaman tidak karuan juntrungannya). Siapapun akan terlindas jaman edan ini tidak terkecuali bagi mereka yang berasal atau tidak berasal dari kelompok agama/kepercayaan.
      Sedikit mengutip solusi Joyoboyo sembilan abad yang silam dalam menyiasati jaman edan ini: "Jadilah orang yang eling dan waspada". Maka Sabdo Palon enam abad yang lalu telah memberikan solusi yang senada sbb.:


 Podo siro ngupoyowo,
 sarono ingkang sejati,
 sahadad ingkang sampurno,
 sampurno jatining ngurip,
 kalamun tan biso olih,
 nyatakno ingkang satuhu,
 kang nganti prapteng loyo,
 loyo sajeroning ngurip,
 iyo iku margane kalis beboyo.


 Yen siro durung uningo,
 takokno guru kang yekti,
 kang wus putus kawruhiro,
 kawruh mring kasidan jati,
 budo budining yekti,
 kang kok anut rinten dalu,
 ing pundi dunungiro,
 lawan to asalireki,
 yen wus lojo ing ngendi iku dunungnyo.


Kalian semua (orang Jawa/Nusantara) berusahalah selalu mencari jati diri masing-masing. Beribadahlah kalian masing-masing sebaik mungkin (sesuai agama/kepercayaan). Kesempurnaan ibadah kalian itu akan menemukan jati diri yang sempurna dalam kehidupan yang sejati. Andai kalian telah mendapatkan kesempurnaan hidup itu pertahankanlah hingga datangnya peperangan akhir dalam proses kehidupan. Maka kalian akan kalis terhadap segala marabahaya.

Andai kalian (orang Jawa/Nusantara) belum mengerti serta mengetahui apa itu jati diri dan kehidupan sejati, bertanyalah pada guru yang berilmu, guru yang telah memiliki kemampuan ilmu kawruh. Ilmu kawruh itu mengenai segala sesuatu mengenai jati diri dan kehidupan sejati. Satu contoh bagi kaum Buddhis ialah guru yang telah memahami ilmu tentang budi (baik).
      Apapun agama/kepercayaan yang kalian anut dan jalankan ibadahnya siang malam, itulah letaknya si jati diri, tidak hanya mencari asal mula hidup kalian saja, melainkan cari juga hendak ke mana kalian akan menuju kehidupan (selanjutnya).

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 1:17 PM

Ramalan Sabdo Palon, "Hari Kiamat"


Ramalan Sabdo Palon, "Hari Kiamat"

© mbah Subowo bin Sukaris

Ucapan Sabdo Palon enam abad silam yang sebagian besar telah menjadi kenyataan di masa depan itu oleh berbagai kalangan telah diubah dan dianggap serta dipercaya sebagai ramalan, nujum atau nubuat. Berikut ini adalah ucapan atau titah Sabdo Palon bagian akhir dari 20 " ramalan" beliau yang bisa diikutsertakan sebagai sebuah ramalan masa depan mengenai musnahnya separoh umat manusia atau hari kiamat. 
      Adalah tidak mengherankan sangat sinkron-nya antara ramalan Joyoboyo sembilan abad silam dengan "ramalan Sabdo Palon" mengenai hari kiamat berupa musnahnya sebagian umat manusia di bumi oleh berbagai sebab antara lain terjadinya "perang dunia ketiga", terjadinya efek "global warming"/pemanasan global, jatuhnya benda angkasa berupa meteor/asteroid dan yang tidak kalah berbahanya ialah eksplorasi umat manusia ke luar angkasa yang berdampak terkontaminasinya bumi oleh makhluk alien dalam bentuk virus dan mikroba yang kelak akan dibawa ke bumi oleh robot maupun para astronot/kosmonot sekembalinya dari penjelajahan mereka di planet tatasurya.
Virus/mikroba yang berasal dari meteor maupun langsung dibawa dari planet/satelit di angkasa luar itu bisa berdampak negatif terhadap makhluk bumi.

Berikut ini ini "ramalan" Sabdo Palon mengenai hari Kiamat:

Menurut cerita kuno dari para leluhur yang memiliki kelebihan dalam urusan dunia gaib, semua cerita dan kisah kuno dari para leluhur itu telah tercantum dalam kitab Jongko (Joyoboyo). Kelak umat manusia di masa depan akan lenyap/musnah separoh dari jumlah total yang menghuni planet bumi.
     Dan bagi mereka yang tetap eksis dapat terus bertahan hidup di dunia, tentu ada syarat-syarat bagi manusia yang beruntung itu. Mereka yang pada akhirnya tetap bertahan hidup sehingga melahirkan generasi baru itu harus berusaha dan bekerja untuk menjauhkan diri sendiri dari berbagai marabahaya, yakni meneguhkan diri sehingga kalis dan dapat mempertahankan diri karena tak mempan lagi oleh bahaya yang tengah melanda.
      Bagaimana caranya untuk meneguhkan diri sehingga kalis dan mempertahankan diri dari prahara di masa depan itu? 
      Jawabannya ialah baca, lafalkan, resapi serta jalankan sebaik-baiknya ajaran-ajaran kebaikan peninggalan para leluhur dari jaman kuno di masa silam.

     Miturut carito kuno,
     wecane janmo linuwih,
     kang wus kocap aneng jongko,
     manungso sirno sepalih,
     dene to kang biso urip,
     yekti ono saratipun,
     karyo nulak kang beboyo,
     kalisse beboyo yekti,
     ngulatono kang wineco poro kuno. 
(Sabdo Palon, abad ke-15 Masehi)

Berikut ini dapat disebutkan betapa sinkron-nya/gathuk-nya antara Ramalan (jongko) Joyoboyo "Wong Jawa kari separo, Landa-Cina kari sejodho" dengan titah Sabdo Palon, "manungso sirno sepalih" -- kelak di masa depan manusia bakal lenyap separohnya. 
      Mengenai terjemahan ramalan Joyoboyo, "Wong Jawa kari separo, Landa-Cina kari sejodho". 
      Orang Nusantara -- bangsa kulit berwarna bersisa tinggal separoh, sementara bangsa Barat/kulit putih + bangsa berkulit kuning bersisa tinggal sepasang saja.

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 10:14 AM

Ramalan Joyoboyo-Sabdo Palon tentang Jaman Ratu Adil


Ramalan Joyoboyo-Sabdo Palon tentang Jaman Ratu Adil"

mbah Subowo

Ramalan Sri Aji Joyoboyo dan "Ramalan" Sabdo Palon ibarat tumbu dengan tutup, saling melengkapi satu sama lain.
      Sebagai contoh kecil pada satu sisi yakni bait terakhir (173) Ramalan Joyoboyo yang meramalkan kedatangan sang "Ratu Adil" terdapat bagian syair berikut ini "hiya iku momongane kaki Sabdopalon".  Artinya: "Dia (Ratu Adil) itu asuhan Ki Sabdopalon".
      Dan di sisi lainnya dalam "Ramalan" Sabdo Palon pada bagian akhir yakni bagian delapan belas dari 20 "ramalan" beliau terdapat informasi mengenai datangnya "Jaman Adil", yakni dalam bagian yang menyebut, "Kang kocap neng Joyoboyo".
      Berikut ini sinom kedelapan belas "ramalan" Sabdo Palon:

Tersebutlah dalam kitab ramalan Joyoboyo bahwa sejatinya hidup manusia itu ibarat rumput liar yang berada di tengah hutan.
      Kelak di masa depan tatkala sudah datang  "Jaman Adil" maka tiada bedanya lagi antara luku dan garu.
      (Luku adalah alat terbuat dari logam seberat beberapa ratus kilogram dipergunakan dalam membajak sawah dengan sumber tenaga ditarik oleh sapi atau kerbau. Sedangkan garu adalah alat berbentuk garpu besar dipergunakan untuk memilah dan menghilangkan rumput liar setelah proses membajak sawah selesai.)
      Luku dan garu telah berubah menjadi satu alat belaka atau fungsi alat itu sudah terkandung dalam satu alat sebagai pengganti luku dan garu.
      Walaupun dipergunakan membajak tanah pertanian di hutan belantara alat (luku-garu) masa depan itu tidak pernah gagal untuk menyingkirkan rumput maupun semak belukar hutan. Kelak luku-garu ciptaan masa depan itu hanya memiliki tingkat kesalahan kecil, karena garu-luku mampu menyelinap di sela yang sempit sekalipun.

Kang kocap neng Joyoboyo,
manungso urip puniki,
kadyo rumput aneng wono,
yen wus tekan Jaman adil,
kaluku ginaru sami,
yekti katah ingkang lebur,
kalamun nedyo yuwono,
luput ing sekalir-kalir,
garu luku biso nlesep selaniro.
(Sabdo Palon, abad 15 Masehi)

Berdasarkan "Ramalan" Sabdo Palon mengenai kedatangan "jaman adil" (abad 15 masehi), dan Ramalan Sri Aji Joyoboyo mengenai kedatangan "ratu adil" (abad 12 masehi) di atas maka dapat diprediksi ulang bahwa datangnya Jaman Adil dan munculnya Ratu Adil di Nusantara akan tepat pada waktu yang bersamaan.

*****

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 2:55 PM

Misteri Sabdo Palon dan bencana 2012


Misteri Sabdo Palon dan bencana 2012
7


1978
Tepat limaratus tahun sejak Majapahit runtuh. Di sebuah dusun di bawah naungan Merapi, Merbabu suasana damai, cuaca pun selalu sejuk sediakala. Seorang lelaki berperawakan sedang, wajahnya pribumi asli bernama Eyang "Kere" tampak di depan rumah batunya. Tidak biasanya ia berlama-lama di halaman rumahnya. Penduduk dusun yang lewat di jalanan desa berusaha menyapanya. Halaman rumahnya cukup luas sehingga siapapun yang mencoba mengamati Ki Kere harus menghentikan langkah kakinya dan menajamkan lensa mata sendiri. 
      Sorot mata lelaki tua itu dari kejauhan tampak tajam, menembus barangsiapa yang merasa pernah menjadi lawan bicaranya. Air mukanya selalu setenang telaga di puncak sebuah bukit.  Tak pernah muncul urat wajahnya tegang, atau lemas. Juga tidak sekaku urat wajah serdadu. Hidungnya tidak sepesek pribumi Jawa, akan tetapi juga tidak semancung keturunan brahmana. Dalam usianya "fisiknya" menjelang tigaperempat abad masih tetap tampak auranya yang muda, misterius, dan anggun.
      Di desa Tintang itu orang memanggilnya "eyang". Sosoknya dikenal penduduk sebagai seorang "pintar" akan tetapi tidak pernah melayani orang lain yang datang sebagai layaknya dukun kampung. Orang sedusun Tintang menganggapnya sedang mengasah ilmu, bertapa,atau apapun juga. Mereka tidak pernah mendapatkan keterangan resmi secara langsung dari yang bersangkutan, maupun dari orang lain yang pernah mengunjunginya. 
      Penduduk dusun Titang tidak pernah melupakan peristiwa tiga belas tahun yang silam. "Eyang" itu ramai didatangi tamu dari segenap penjuru. Dan tentu saja tidak terkecuali para intel kawan maupun lawan. 
      Penduduk Titang yang tua-tua masih ingat kala itu di seluruh Jawa tengah terjadi perang saudara antara golongan komunis dan bukan komunis, para tetamu "Eyang" datang dan pergi dengan wajah yang memburu-buru seolah ada sesuatu yang mengejar mereka. Para tamu yang datang dengan airmuka ketakutan itu meninggalkan rumah eyang dengan tenang, wajah mereka tidak segugup sebelumnya, bahkan mereka tampak sedikit lega.
      Suatu siang di tahun 1978 itu seorang tamu berkulit agak gelap, sosoknya tidak semampai malah cenderung pendek dan gempal. Usianya belum lagi berpaut setengah abad. Airmukanya selalu tampak tersenyum layaknya gaya seorang pejabat negara, tak pernah sekali saja ia bingung dan cemas. Ia selalu menyebut dirinya "Wayah" sejak "Eyang" itu berkata dalam Jawa, "Wisu, dirimu itu sejatinya wayah Ki Sabdo Palon".
      Hari itu Wisu baru tiba di desa Tintang setelah menempuh perjalanan dari selingkaran keraton Yogya, tempat tinggalnya.
     "Wisu, bagus sekali staminamu, tak tampak kelelahan seusai menempuh perjalanan sejauh itu." sambut eyang.
      Kemudian lelaki tua itu mulai bersiap mengajarkan kepada Wisu yang baru datang itu sebuah mantra yang dibacakan pelahan diiringi dengan teknik pernapasan khusus.
      "Coba pejamkan matamu, Wisu."
      Wayah yang sedang berbaring istirahat di ambin bambu memejamkan matanya. Ia mencoba menembus kabut merah selaput kelopak matanya dan membayangkan sedang melihat suatu kejadian.
     "Perang besar, eyang. Pasukan Amerika mendarat di pelabuhan Jakarta," sahut Wayah sejadi-jadinya antara sadar dan setengah sadar.
      "Wisu, engkau tahu siapa aku?" tetak eyang yang berdiri di tepi ambin.
       Wayah terdiam dan memasang telinganya baik-baik.
      Suara eyang yang melengking dan fasih melafaskan setiap kata yang sedang diucapkan itu mengulangi pertanyaannya yang tak terjawab oleh Wisu kemudian menanyakan lainnya, "Tahukah dirimu, Wisu, siapa itu Ki Sabdo Palon?"
      "Oh, dia itu seorang dalang," jawab Wayah kalem.
Eyang tersenyum, lelaki tua itu kemudian membangunkan Wayah agar duduk kembali di ruangan tengah.
      Sejak itu Wayah dan Eyang sering berlatih bersama, yang satu mewejang dengan atau tanpa teks, dan yang lain mendengarkan serta kadang mempraktekkan gerakan fisik yang dicontohkan oleh eyang.
      Sejak hari itu Wayah tinggal di sanggar eyang, setelah Wayah selesai digembleng sebulan penuh oleh eyang, "Wayah, sekarang segera pergilah pulang ke rumahmu."
      Wayah berkemas dan meninggalkan rumah eyang di Tintang itu. Selama menempuh perjalanan dengan berbagai transportasi itu masih terngiang-ngiang, tugas yang diberikan eyang, itu terjadi tanpa sadarnya bahkan tanpa perintah lisan maupun tertulis. Wayah merenungi semuanya dan menimbang dengan nalar, pikiran, dan hati nuraninya. "Keadaan di Nungsamulyatiyasa ini kacau-balau. Tatanan negeri di bawah Jendral Wartoni tidak dapat dibenarkan dan juga tidak boleh dibiarkan saja. Bangunlah kekuatan, solidaritas, dan jangan pernah merasa takut, karena takut itu awal kekalahan diri," kalimat itu tidak pernah diucapkan eyang, tetapi meluncur begitu saja dalam kepala Wayah.
      Sejak tiba di rumahnya di selingkaran keraton Yogya Wayah mengurung diri dan tekun berlatih seorang sendiri apa saja yang didapatnya dari dusun Tintang, dan ia mulai merasakan hasilnya. Orang lain yang mengenal Wisu merasakan telah terjadi perubahan dalam diri Wisu.
      "Ya, eyang telah memberikan ilmu mengenai 'bagaimana menjadi orang waras dan sadar tentang diri pribadi'."
      Pada suatu hari Wayah mengatakan, "Eyang berdawuh begini.....," kepada para pendengarnya dari berbagai kota besar di Jawa, dan ia selalu mengatakan apapun yang dikatakannya itu berasal dari eyang sendiri. Dan kewajiban yang dibuatnya sendiri ialah mengungkapkan semua itu kepada siapa saja. 
      Dan suasana represif dan mencekam yang diberlakukan Jendral Wartoni bersama segenap New Orde telah menjadikan semua berpikir seperti robot mulai khalayak luas mulai dari petani yang paling bawah dan para intelektual yang berada di atas. Semua saja yang berada di luar lingkaran kekuasaan tentu merindukan sesuatu perubahan negeri Nungsamulyatiyasa, itu nama lain negeri ini menurut sebutan eyang. Dan Wayah pun selalu didengarkan oleh mereka yang menginginkan perubahan dan suasana negeri, walaupun demikian pada akhirnya Wayah juga didengarkan oleh siapa saja yang tertarik dan berminat pada soal-soal baru yang diceritakan oleh eyang misterius itu melalui mulut Wayah.
      "Nungsamulyatiyasa kelak akan berubah pada 2012, ada kejadian besar melanda jagad semesta." Demikian Wayah mengatakan kepada siapa saja yang dikunjunginya di Jakarta, Surabaya, Semarang, dan tentu saja tanah kelahirannya Yogyakarta.
      "Itu masih lama, tigapuluh tahun lebih lagi," jawaban salah seorangtuan rumah di daerah Tebet, Jakarta Selatan.
"Wayah, lantas bagaimana agar kami semua bisa selamat menurut eyang?" tanya seorang tuan rumah di Kebayoran Baru Jakarta.
      Kemudian Wayah menceritakan tatkala Eyang memberikan sesuatu kepada Wayah. Dan kepada para sahabatnya Wayah menceritakan kembali wejangan langsung eyang, "Perbanyak ini dan berikan kepada siapa saja yang mau. Benda ini bisa membuat barang siapa yang memilikinya bisa terhindar dari bencana 2012 itu."
      "Oh, begitu. Baiklah kalau cuma itu yang harus dilakukan." Pendengar Wayah pun menerima benda itu, dan menganggap kejadian mendatang tigapuluh dua tahun lagi yang belum terbukti itu pun sudah ada penangkalnya yang terpasang di atas pintu rumahnya.
      Semua sahabat Wayah berharap dengan benda penangkal yang dipasang di depan rumah itu berharap bukan hanya keluarganya sendiri selamat, akan tetapi mereka juga berharap agar peristiwa bencana besar 2012 itu tidak pernah akan terjadi. 
       Andai bencana itu benar-benar batal terjadi, tentu semua itu berkat benda penangkal ajaib yang semakin banyak di pasangkan di atas pintu rumah siapapun yang sudah punya rumah sendiri. Rumah kontrakan lain lagi soalnya, mungkin akan menjadikan geli sang pemilik kontrakan memandang benda itu.

*****
by Subowo bin sukaris


Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 10:19 AM

Satria Piningit, Sabda Palon, dan Jayabaya

Satria Piningit,  Sabda Palon, dan Jayabaya


Kitab Musarar Jayabaya sebagai sumber rujukan yang meramalkan kedatangan Ratu Adil yang populernya adalah Satria Piningit. Kitab Musarar Jayabaya yang bernuansa Islamis berseberangan dengan Serat Darmogandul yang bernuansa Sabdopalonis. Sebagai imbangan di antara kedua manuscript warisan leluhur itu  adalah Ramalan Jayabaya. Dalam Musarar yang islamis tidak terdapat sepatah pun menyebut peran Sabdo Palon, akan tetapi dalam Darmogandul maupun Ramalan Jayabaya terpampang jelas peranan Sabda Palon. Perbedaan dan pertentangan pandangan dalam kerangka filosofis, visionis, dan paradigmatis mengenai Sabda Palon dalam kedua sumber tersebut tentu saja jika dipertemukan dengan analisis serta nuansa yang tidak berimbang hasilnya dapat dikategorikan dalam kelompok otak-atik gathuk, yang dapat diterjemahkan sebagai berikut: dalam menyambung dua benda yang berbeda yang tidak mungkin dipersatukan lantas dipaksa diakali dengan cara menggetok, memaku, lantas mengikatnya. 
      Bait pamungkas sekali Ramalan Jayabaya (abad 12) yang terkenal itu sampai abad keduapuluh satu atau hari ini awal 2012 ada yang terbukti dan juga yang belum terbukti dan masih menjadi impian belaka, warisan leluhur sendiri sembilan abad yang lalu secara bebas pengertiannya sebagai berikut:

Jayabaya telah memprediksi Sabda Palon adalah sang pamomong atau pengasuh bagi Ratu adil (yang populernya kini sebutannya Satria Piningit) kelak yang akan muncul untuk membawa kejayaan bagi rakyat di negeri tropis di antara dua benua Asia dan Australia.
     Sabda Palon yang (kelak) menanggung malu akibat momongannya yakni Raja Brawijaya V (abad 15) telah murtad meninggalkan ajaran leluhur dan berganti haluan memeluk ajaran lain. Walaupun demikian kesalahan seorang murid atau yang diemongnya itu bukanlah tanggung jawab sang guru (Sabda Palon) karena itu adalah kehendak dan takdir sejarah. Sehingga hal tersebut sama sekali tidak mengurangi kemasyhuran Sabda Palon sendiri.
     Ramalan Jayabaya itu yakni Sabda Palon bersama asuhannya sang Ratu adil jika di masa depan kelak terbukti kebenarannya akan memancarkan sumber cahaya gemilang, mercusuar bagi segala segi kehidupan rakyat di Nusa-Antara menjadi terang-benderang, adil-makmur, aman, dan tenteram.
     Di masa itu rakyat banyak tak merasakan lagi kesusahan hidup, segala kebutuhan serba cukup, tak ada kekurangan pangan, tak ada kesulitan tanah garapan dan tersedia melimpah tempat berteduh, dan juga pendidikan bagi anak dapat terjangkau, demikian pula dengan sarana kesehatan bagi semuanya.
      Itu juga yang menjadi tanda bahwa Jaman Kalabendu telah menyingkir yakni berakhirnya jaman penghisapan manusia oleh manusia; berakhirnya penghisapan negara oleh negara lain (penghisapan dan penindasan antarnegara); berakhirnya jaman sifat dan tindak kejahatan yang selalu menang dalam pertempuran melawan semua kubu kebaikan. Dan bermulanya kebaikan kekal-abadi menang melawan kejahatan.
      Tatkala itulah, penduduk di Nusa-Antara dengan kemampuan sumber daya manusia yang unggul dan menggenggam teknologi mutakhir ikut berperan menjaga tatanan dunia sehingga perdamaian abadi di bumi maupun planet lain di segenap alam semesta dapat terwujud.
      Makhluk hidup satu sama lain di alam semesta saling menghormati satu sama lain. Tak ada perang antarnegara, perang antarplanet, dan perang antargalaksi.



hiya iku momongane kaki Sabdopalon
sing wis adu wirang nanging kondhang
genaha kacetha kanthi njingglang
nora ana wong ngresula kurang
hiya iku tandane kalabendu wis minger
centi wektu jejering kalamukti
andayani indering jagad raya
padha asung bhekti

                                           (Jayabaya, abad keduabelas masehi.)

                                         *****


Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 12:45 PM

Sabdo Palon, "Kejayaan Islam di Nusantara."


Sabdo Palon, "Kejayaan Islam di Nusantara."


Limaratus tahun sejak masa keruntuhan kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Brawijaya, rejim Orde Baru berkuasa penuh di bumi Nusantara. Seiring kejayaan Orde Baru juga diiringi Islam berkembang sangat pesat dalam segala hal. Berbagai aliran atau mazhab dalam Islam atau apapun istilahnya ramai-ramai menunjang kejayaan Islam di bumi Pertiwi. Persatuan dan kesatuan umat Islam berjalan sangat baik sekali di masa Orde Baru yang otoriter. Tempat peribadatan bagi kaum muslim mendapatkan prioritas pembangunan tidak hanya di dalam negeri, akan tetapi juga sampai ke Bosnia Herzegovina. Majelis Ulama bertindak dan bersuara sesuai dengan keinginan penguasa Orba.
       Hampir tidak ada perseteruan berarti antara Islam fundamentalis melawan Islam Pluralis, Islam Syiah, Aliran Ahmadiyah, Khadiriyah, dan seterusnya. Pada waktu itu memang ada gerakan untuk mendirikan Negara Islam di Nusantara yang kemudian bermetamorfosa menjadi gerakan mendirikan kekhalifaan Islam atau lainnya. Yang dimaksud dengan Islam fundamentalis atau garis keras di atas secara awam ialah yang murni menjalankan Syareat Islam berdasarkan Al-Qur'anul Karim dan Hadist Nabi Muhammad s.a.w.
      Sabdo Palon, seorang penasihat spiritual Raja Majapahit terakhir, Brawijaya, sudah mengatakan tentang dia akan muncul kembali di masa kejayaan Islam di Nusantara 500 tahun sejak 1478, yakni saat beliau yang konon adalah Dang Hyang Tanah Jawi, atau pepunden Nusantara akan muncul kembali untuk menyebarkan ajaran beliau yang disebut "kawruh budi". Kemunculan Sabdo Palon tersebut tentu tidak tepat jika terjadi di masa kehancuran Islam, malahan sebaliknya, yakni di masa kebesaran Islam, karena Islam tidak mungkin hancur sendiri tanpa sebab-akibat sesaat tatkala Sabdo Palon sedang atau baru muncul kembali setelah menghilang selama 500 tahun.
      Maka tatkala Orde Baru sedang mengalami era keemasan, dan Islam juga sedang mendulang kejayaan, menjadi saat yang tepat bagi Sabdo Palon turun dari alam gaib (mayapada) kembali ke Bumi, ke alam marcapada. Hal tersebut sudah diucapkan Sabdo Palon di era Majapahit sebagai berikut:
Jangkep gangsal atus tahun,
Wit ing dinten punika,
Kula gantos kang agami,
Gama Buda kula sebar tanah Jawa.
Sinten tan purun nganggeya,
Yekti kula rusak sami,
Sun sajekken putu kula,
Berkasakan rupi-rupi,
Dereng lega kang ati,
Yen durung lebur atempur.

Kelak di masa depan limaratus tahun sejak hari ini saya akan mengubah agama negara Nusantara dengan agama Buddha dengan menyebarkan ke seluruh tanah Jawa. Barang siapa yang menghalangi usaha saya itu, maka siapa pun akan saya hancurkan menjadi santapan jin, setan, dan makhluk halus lainnya. Niat saya itu lurus dan belum lega hati saya jika mereka belum musnah dan hancur lebur.

Apa yang sudah menjadi titah Sabdo Palon tersebut kini (2011) mulai tampak dengan jelas, bahwa kaum jin dan setan sedang bekerja keras merasuki tubuh-tubuh para teroris, para fundamentalis, dan para lainnya. Mereka kesetanan membunuh sesama dan sesaudara kaum muslimin. Dan juga mereka yang kerasukan itu menyebarkan teror ke mana-mana, menganggap suatu pemikiran pihak tertentu bisa berupa ramalan kuno atau berupa apapun yang tidak disukai kelompoknya sebagai bukan ajaran Islam = sesat syirk zindiq khianat, dan bahkan membikin negara tandingan yang tidak masuk akal, ditambah lagi membikin semacam fatwa lebay yang tidak sesuai lagi dengan progressif jaman atau hukum perkembangan sejarah sehingga berbeda dengan inti atau saripati daripada Hadist Rasulullah yang Agung. Mengenai hal ini Bung Karno mengatakan, "Ambillah api daripada ajaran Islam itu, dan bukan mengambil abunya." Barangsiapa berbeda faham sedikit  apalagi banyak dengan si manusia yang sedang kerasukan seperti itu berarti cari perkara atau musuh.  Dan perkara yang paling besar ialah segala tindakan yang mengatasnamakan agama itu kelak akan menjadi bumerang bagi diri sendiri yang ibarat menggali lubang kubur sendiri. Kejayaan Islam di Nusantara yang diharapkan berlangsung sepanjang jaman itu mulai pudar digerogoti tindakan anarkis demi kepentingan kelompok tertentu yang ingin berkuasa  atau  merebut kuasa politik, dan tentu saja sebagai akibatnya menjadi sasaran empuk bagi serangan dari para setan dan makhluk halus lainnya yang selalu membantu manusia yang berkeinginan jahat.
      Kejayaan Islam di Nusantara saat ini tidak terbantahkan lagi, mulai dari rakyat jelata hingga kaum akademisi yang bergelar doktor ramai-ramai pata cengke berfikir seragam dan sepakat untuk terus melanggengkan keagungan Islam. Juga segala macam media massa dan multimedia menunjukkan hal yang seragam dan serupa untuk terus menjaga masa keemasan Islam di Nusantara.
        Di sisi lain Sabdo Palon yang tengah membangkitkan dari kubur dan kemudian mengerahkan mereka para makhluk halus, mulai dari jin, setan, genderuwo, wewe gombel, wedon, iblis, leak, kuntilanak, dan lain-lain untuk "menghancurkan manusia siapa pun tanpa kecuali yang tidak mau tunduk", apalagi menolak "kawruh budi" yang baik. 
      Manakah yang lebih unggul kelak dalam pertarungan ini: Islam yang sedang jaya atau Kawruh Budi yang baik? Jawabannya tentu dapat diketahui kelak seiring perjalanan dalam ruang dan waktu ke masa depan.

***
by Subowo bin sukaris

Tulisan bersinggungan : Sabdo Palon Lengkap
Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 10:33 AM