Ramalan Jayabaya, ''Asal-usul Satria Piningit sang Ratu Adil''

Ramalan Jayabaya, "Asal-usul Satria Piningit sang Ratu Adil"

© mbah Subowo bin Sukaris

Sejak kerajaan Mataram Hindu di bawah Dyah Balitung, Empu Sindok pada 900-an memindahkan ibukota Mataram (akibat letusan Dahsyat Merapi) dari wilayah Dieng maupun Yogyakarta ke timur hingga mencapai dataran Madiun. Selanjutnya wangsa Isyana, semasa Erlangga (1000-an) penduduk kerajaan Mataram bergeser lebih ke Timur lagi hingga mencapai wilayah Kediri. Demikian pula semasa era kolonialisme Belanda dalam perang Jawa atau perang Diponegoro yang mulai berkobar sekitar 1825 pasukan Jawa yang menyebut dirinya orang dari Mataram ini setelah kehilangan sang pemimpin tertinggi yang diasingkan keluar Pulau Jawa, para penduduk/pasukan yang ditinggalkan dalam upaya menghindari kejaran pasukan Belanda atas amanat Pangeran Diponegoro dkk. menyebar ke timur terutama berada di wilayah yang berada di balik Gunung Lawu sisi Timur hingga mereka mencapai wilayah selingkaran Gunung Wilis.
      Diriwayatkan oleh mereka dari generasi tigapuluhan di Jawa Timur di wilayah Kediri (sekitar petilasan/pamuksan Sri Aji Joyoboyo) orang tua-tua meninggalkan cerita kepada anak cucu bahwa mereka berasal dari Mataram (sekitar Yogyakarta). Maka inilah bahan dasar untuk memecahkan misteri ramalan Joyoboyo bahwa Satria Piningit itu berasal dari wilayah Jawa bagian Timur saat ini.
     Satu lagi perlu dicatat mengenai adat perkawinan orang Jawa bagian Timur satu contoh mereka yang bermukim di seputaran Gunung Wilis yakni wilayah Kediri, Ponorogo, Madiun, Trenggalek, Nganjuk, dan Tulungagung, dalam mencari jodoh ada aturan tidak tertulis khususnya bagi kaum laki-laki terdapat sebuah pantangan kuno mencari seorang calon istri yang berasal dari jurusan barat laut, "Carilah istrimu ke empat penjuru mataangin atau mana saja kecuali satu, jangan mengawini perempuan yang dunungnya dari sebelah barat laut dilihat dari tempat tinggalmu." Yang selanjutnya terjadi mudah diduga yakni akan terjadi atau adanya pergeseran atau pergerakan penduduk di wilayah Barat seputaran Gunung Wilis akan terus bergeser dan bergerak menuju bagian pulau Jawa bagian lebih Timur lagi, misalnya orang Kediri akan mencapai wilayah Bilitar dan selanjutnya orang Blitar akan lebih ke Timur lagi. Satu pertanyaan timbul, "Mengapa perpindahan atau penyebaran penduduk Mataram harus menuju ke Timur dan tidak menuju ke Barat?". Jawabannya adalah wilayah bagian timur lebih kosong (waktu itu) dan wilayah perawan yang subur itu masih terbuka lebar bagi kaum pendatang baru dari Barat (orang Mataram). Jika pantangan itu dilanggar niscaya mereka yang melanggar itu akan mengalami nasib kurang beruntung dalam memperoleh keturunan yang baik, karena memang secara genetis dari arah barat mereka berasal, dan itu artinya percampuran genetis hasil perkawinan sesama sanak-saudara sendiri maka hasilnya akan menjadi kurang baik.
      Sri Aji Jayabaya si nujum paling masyhur berasal dari abad duabelas masehi itu pun menyatakan bahwa Satria Piningit sang ratu adil  dunungnya atau asalnya dari sisi Timur Gunung Lawu dalam bait syair ramalannya sebagai berikut:

dunungane ana sikil redi Lawu sisih wetan
wetane bengawan banyu
andhedukuh pindha Raden Gatotkaca
arupa pagupon dara tundha tiga
kaya manungsa angleledha
Jayabaya, abad xii Masehi

Satria Piningit cq Ratu Adil berasal dari sebelah Timur dataran kaki Gunung Lawu, wilayah sebelah timur kaki Gunung Lawu adalah wilayah Madiun, Magetan, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Kediri (wilayah ini berada di lingkaran Gunung Wilis). Satria Piningit ini berasal dari sisi timur sebuah sungai yakni sisi Timur sungai Madiun, sisi Timur sungai Brantas, atau sisi Timur Bengawan Solo. Ketiga sungai ini, pada satu titik di Jawa Timur bagian Utara ketiganya bergabung menjadi satu dan pada akhirnya juga sama-sama bermuara ke Laut Jawa pada titik Kali Mas dan Kali Porong di wilayah Surabaya.
    Satria Piningit sang Ratu Adil ini tinggal di rumah bertingkat atau bersusun tiga, rumah susun tiga dari bahan beton bertulang besi kebanyakan berada di kota besar, jarang sekali berada di wilayah pedalaman. Jika rumah susun tiga itu dibuat tanpa cor beton bertulang atau dari tingkat dengan papan kayu maka semua penduduk pedalaman mampu membangunnya.
       Satria Piningit sang Ratu Adil ini dari ketinggian tempat tinggalnya (misalnya di gunung) bagai seorang yang nangkring di ketinggian menggoda orang yang lalu-lalang di bawahnya.

******


Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 5:38 AM