Showing posts with label majapahit. Show all posts
Showing posts with label majapahit. Show all posts

Laut Cina Selatan milik siapa?

 Laut Cina Selatan milik siapa?

mbah subowo

Donald Trump mengobok-obok semua saja, mulai dari rencana bikin tembok besar perbatasan AS-Mexico, hingga perang dagang melawan negeri kung-fu Shaolin. Selanjutnya tarian perang semakin seru dengan ditingkahi munculnya bencana global: pandemi covid-19 dengan segala variannya.

     AS-nya Trump yang lebih dulu menyerang negeri kung-fu, ya perusahaannya dianggap memata-matai, sampai menaikkan bea masuk impor dari negeri berpenduduk terbesar di bumi itu. Ujung-ujungnya tak pernah selesai walau Trump turun panggung, Negeri pendekar kung-fu Shaolin yang merasa tidak bisa meneruskan kemakmuran itu mulai gelisah, dan akhirnya mengeluarkan jurus "amok" andalannya.

     Korban jurus "amok" negeri yang satu itu ialah kepengin eksis seperti jaman dinasti masa lalu antara lain Dinasti Mongol di wilayah perairan "Laut Cina Selatan" atau Laut Natuna atau Nanyang. Ya, itulah jurus "amok" gara-gara diajak perang dagang oleh Trump -- yang kini sudah digantikan penerusnya.

     Kapan negeri Shaolin melepaskan klaim segala macam di Nanyang? Tentu jika perekonomian negeri Shaolin kembali cemerlang sediakala seperti sebelum "perang dagang". Barulah Nanyang akan dilepaskan hingga damai seperti sediakala.

     Kembali pada judul di atas, Laut Cina Selatan pada masa silam menjadi milik dua kekuatan laut terbesar di dunia, Tiongkok di belahan bumi Utara dan Majapahit dari belahan Selatan. 

     Selanjutnya masa berakhir PD 2 mengambil oper kredit beberapa pulau karang dari kekalahan Jepang. Tiongkok hari ini baru merdeka 1949 -- walau sebelum itu nebeng tenar dari AS ikut jadi pemenang PD 2. 

     Kalau menggunakan alasan "historis" Tiongkok masa silam bahkan tidak pernah peduli apalagi mengklaim Nanyang notabene cuma pulau karang dan perairan belaka. Sebagai penutup, patut dicari jawaban alasan paling serius mengapa negeri Komunis terbesar di bumi ini berubah dari kebiasaannya rendah hati dalam pergaulan internasional -- negeri dengan satu Partai Tunggal yang menjadi Penguasa Tunggal.

     Jangan-jangan negeri Panda tengah memasuki jebakan "dunia bebas" dengan terpaksa mengajukan klaim ekspansi "sembilan garis putus-putus" buatan mereka sendiri.

     Resesi ekonomi hampir melanda semua negara dampak covid-19 kini berubah -- tak peduli ekonomi cekak -- ramai-ramai borong alutista militer, geliat pasar tersebut membawa berkah bagi para produsen dari "dunia bebas" meraup untung serta dapat nilai tak terbatas.

     Sekian untuk sekali ini.

*****


   

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 7:17 PM

Arus dari Utara

Arus dari Utara
mbah subowo
1479 Saka.
   Wilwatikta sedang ramai arak-arakan besar-besaran yang diikuti oleh para pemeluk Syiwa-Buddha. Mereka sedang turun gunung. Tampak Kusumawardhani kakanda Sri Ratu berada di tengah mereka. Sri Ratu tidak bisa melakukan sesuatu mengetahui hal itu. Kegelisahan tengah melanda Majapahit sejak keluarnya aturan baru perubahan/revisi Amana Gappa. Pajak semakin memberatkan kawula Majapahit. Para ahli mengintip masa depan mengatakan, “Goro-goro sebentar lagi usai. Bulan Suro berada di penghujung.”
     Sementara itu di istana Majapahit terjadi pertemuan antara Sri Maharatu dengan Smodraksa Laksmana Ayu Candra Centini, “Yang Mulia, ini surat yang patik bawa dari Utara sana.” Ayu Candra baru pulang ke Wilwatikta setelah hampir tiga bulan berlayar secara rahasia di Laut Cina Selatan menuju Campa. Ia menyerahkan segulung kertas diikat pita. Bukan rontal!!
     Sri Ratu sejenak menyapu ruangan. Ia menyuruh kepala rumah tangga istana, Anjangkara untuk keluar ruangan. Dan berpesan agar pengawal bilik Maharatu tidak mengijinkan seorang pun mendekat, apalagi masuk.
     Setelah memeriksa tanda-tanda keaslian surat itu, ada cap rahasia yang sudah melalui persetujuan bersama, “Yang Mulia, sudah tepat semua tindakan dan kebijakan yang telah diambil selama ini. Kanda hanya menduga-duga saja apa rencana Ma San Pao. Pembersihan terjadi di sini, dan terpaksa kanda semakin jauh memasuki pedalaman.
     Ada kelompok yang memisahkan diri dari armada Kebesaran Tiongkok. Mereka bergabung dengan para bajak yang memang sudah menyingkir dan menyembunyikan diri karena merasa terancam oleh pembersihan yang diam-diam dijalankan oleh kekuatan Cheng Ho.”
     Sri Ratu terbelalak menatap surat itu, dan dalam hati berseru, “Armada Majapahit bekerja sama dengan bajak Tiongkok, untuk melawan Armada kebesaran Tiongkok!!”
     Perubahan air muka Sri Maharani diperhatikan oleh Candra Ayu. Smodraksa Laksmana itu tidak ingin menggugupi junjungannya. Ia hanya menebak-nebak saja tindakan selanjutnya dari petinggi Majapahit itu.
     “Terima kasih, Ayu! Sayang sekali upayamu gagal membawa beliau kembali ke istana, karena rupanya kanda Visyama terikat sumpahnya dan tidak mau kembali ke Majapahit!” Sang Ratu memecahakan keheningan dengan membuka suara.
     Tak ada lagi surat di tangannya, dan juga dalam ruangan itu. Ia telah menyimpan dengan memasukkan surat itu ke dalam bilik rahasianya. Candra Ayu tidak mengetahui keberadaan bilik itu. Karena sebentar tadi ia sempat diminta keluar sebentar untuk menengok situasi di luar ruangan.
     Sekian untuk sekali ini.

*****
Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 9:25 AM

Seberkas sinar di Wilwatikta Majapahit

Seberkas sinar di Wilwatikta Majapahit
Mbah Subowo.
1479 Saka. 1401 Masehi
Lelaki bugar itu masih bersetia menggurit daun rontal. Veteran Majapahit yang ikut mengawal Baginda Krtarajasa menembus hutan Tarik itu berusia satu seperempat abad. Ia Begawan pujangga Ra Vadia, memiliki putri berusia remaja. Mereka tinggal di selingkaran pinggiran Wilwatikta.
     “Kesuraman Wilwatikta bertambah nyata dari waktu ke waktu. Dulu sekali tatkala Ibunda Tribuwana Anumerta, Majapahit bersinar semakin gemerlap,” sepagi itu Begawan sudah memperdengarkan nyanyiannya dari salah satu rontal.
     Putri Anggia mempersilakan ayandanya untuk sarapan. Ia hanya mempersiapkan bubur Majapahit. Bubur merah-putih, yang biasanya menandai adanya “selamatan” tertentu.
     Ulang tahun, baru bikin rumah, mulai bercocok, dan sebagainya selalu diawali dengan sajian bubur yang satu itu. Akan tetapi jika yang punya hajat punya simpanan lebih, maka bubur itu akan digantikan hidangan lain: daging unggas, ikan, atau apapun juga yang lebih memeriahkan niat atau hajatan yang bersangkutan. Orang dari Atas Angin menamai “sedekah”.
     “Sri Ratu sudah melunak, tampaknya ia akan memenuhi keinginan kawula Majapahit. Hanya saja ia meminta sedikit seremonial, agar para Adhyaksa Majapahit mengajukan peninjauan atau gugatan atas Revisi Amana Gappa.”
    “Jika gugatan para Adhyaksa gagal, Sang Ratu akan mengeluarkan Perpu ya, Ayanda?” sahut putri Anggia.
     Begawan itu dapat mendengar suara hati putrindanya. Kondisi Majapahit yang suram belakangan ini memang berimbas pada semua saja. Kawula alit di seputaran pusat Majapahit merasai seretnya pasokan pangan dan kebutuhan sehari-hari. Perang, yang peperangan dengan Wirabhumi telah menelan harta, dan nyawa prajurit Majapahit.
     Bulan Suro memang akan digantikan beberapa hari, bisa dihitung dengan satu jari tangan. Bencana tentu akan segera usai.
    Sekian untuk sekali ini.

*****  
Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 7:13 AM

Kabut kelam di Majapahit

Kabut kelam di Majapahit
Mbah Subowo.
1479 Saka.
“Seluruh kawula Majapahit menentang perubahan Amana Gappa, Yang Mulia Sri Ratu….”  Masih terngiang kata-kata dalam pertemuan berapa bentar dengan para komandan Armada Laut Majapahit, para Adipati, dan para syahbandar seantero Majapahit.
     Wanita perkasa yang lebih keras dari baja itu memasuki bilik pribadi Maharatu. Ia berpesan pada para pengawal tidak mau diganggu.
    “Aku tahu satu cara…. Yakni mengambil posisi sebagai tetua dari kelompok itu….”
    “Dengan begitu lebih mudah menjelaskan setiap tindakan kepada siapapun dari mereka ….”
    Dilema dalam keputusan untuk kali ini sungguh memojokkan Sang Penguasa Majapahit itu. Memang sudah jelas bagai matahari terbit di Timur, kekuasaan lembaga pimpinan Wiraprabha itu telah menjadi momok bagi pejabat dan pengusaha Majapahit. Revisi atas Amana Gappa demi meredam kelompok yang memburu rasuahtor itu.
    Kekuasaan Wiraprabha mendirikan gedung Hyang Guru tak jauh dari Bandar Gresik, sungguh meresahkan hampir semua petinggi Majapahit. Bisa kapan saja, dan siapa saja tiba-tiba diseret ke hadapan pengadilan yang telah menelan banyak petinggi sipil dan militer itu. Roda ekonomi macet, kapal-kapal mancanegara tidak ada lagi yang singgah di Gresik.
    Beberapa hari telah tersiar kabar Sri Ratu sedang gering.
    Centini sang smodraksa laksmana, wakil Ratu urusan armada Majapahit semakin dekat saja dengan sang adiknya Wiraprabha.
    Daun-daun memenuhi latar rumah penduduk di Wilwatikta dibiarkan saja berserakan. Jalan-jalan di seantero Wilwatikta tidak terurus lagi. Dana kas Negara memang sedang kosong. Pemulihan…. Ya paling tidak untuk sepuluh tahun….. tak perlu bertindak yang bakal menguras cadangan negara yang semakin kering….
*****



Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 5:28 PM

Kegalauan Ratu Majapahit

Kegalauan Ratu Majapahit
mbah Subowo.
1478 Saka. 
Sepagi itu sarapan pagi usai. Di ruang pribadi di istana Wilwatikta sang Ratu bertukar pandang dengan Smodraksa Candra Centini, “Adakah Yang Mulia sedang gundah?” sapa Smodraksa Laksmana yang baru saja diangkat mengepalai seluruh Armada Majapahit.
     “Ya, kekuasaanku tidak berdaya untuk menolak Revisi Amana Gappa pasal rasuah.”
     “Tekanan para kawula Majapahit semakin santer, Yang Mulia,” Centini melanjutkan seraya menjajaki keruwetan yang tengah terjadi pada junjungannya.
     Sri Maharatu Suhita memang sekeras Prabu Hayam Wuruk, namun sikapnya kali ini sulit diterka. Sebenarnya kekuatan apa yang membelenggunya untuk mengeluarkan Perpu Majapahit tentang rasuah. Adakah tekanan dari para pejabat, pengusaha, atau kalangan militer Majapahit sendiri?
     Sri Maharatu memutuskan akan mengikuti dan melihat apa yang bakal terjadi ke depan. Bagi siapapun, ia sendiri bisa diduga dan mudah ditebak jalan pikirannya, “Sri Maharatu selalu mendengarkan kawula Majapahit…. tanpa bercadang.”
     Sri Maharatu terbelenggu oleh balas jasa, balas budi, atau entah apa itu namanya. Kepada siapa? Tentu saja kepada kelompok yang berhasil menyelamatkan Wilwatikta dari serbuan Wirabhumi Adipati Blambangan. Merekalah yang getol membuat Revisi Amana Gappa Majapahit. Para kelompok yang terdiri dari gabungan berbagai elemen Majapahit itu khawatir dengan gencarnya pemberantasan rasuah yang dijalankan oleh adik sendiri daripada Smodraksa Diah Ayu Candra Centhini, Wiraprabha.
     Wiraprabha telah menghukum siapa saja dalam pengadilan rasuah di Pelabuhan Gresik. Pengusaha, pejabat, bahkan kaum militer diseret paksa untuk dihadapkan ke pengadilan rasuah.
     Untuk melawan kekuatan Wiraprabha yang gencar menangkapi para rasuahtor, terlalu sedikit diatur dalam Amana Gappa Majapahit. Kekuatan itu harus dilucuti, demikian seia-sekata seluruh elemen pendukung Sri Maharatu dalam menahan serangan Wirabhumi Blambangan.
     “Satu-satunya jalan ialah kami sendiri yang akan melucuti mereka,” tetak Sri Maharatu.
     “Jadi Yang Mulia akan menerbitkan perpu Majapahit sekaligus memberangus atau lebih tepatnya mengendalikan kekuasaan Wiraprabha,” sahut Smodraksa yang mendampingi Maharatu menghadapi tingkah para komandan Armada Laut Majapahit.
     Sekian untuk sekali ini.
*****



Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 7:36 AM

Menjelang Majapahit runtuh rasuah merajalela

Menjelang Majapahit runtuh rasuah merajalela
mbah Subowo.
Sasi Suro 1479 Saka.
Bulan Suro menjelang pertengahan. Bencana masih mengintai, orang Majapahit percaya serta menghentikan semua hajatan di bulan yang satu ini. Tak ada pesta, dan perayaan apapun. Satu-satunya abdi Majapahit sejak Raden Wijaya anumerta, Begawan Ra Vadia yang berdiam di pinggiran Wilwatikta tiba-tiba berseru,  “Yang Mulia Sri Ratu tidak punya pilihan lain kali ini!”
     “Apa itu Ayanda?” putri begawan itu memperdengarkan suara.
    “Dalam kekacauan Majapahit saat ini, kas negara sudah habis untuk mengatasi pembangkangan, maka jalan satu-satunya menerima uluran Tiongkok.”
     Putri Anggia menunggu kelanjutan uraian sang begawan. “Kukuh seperti ayanda Hayam Wuruk, Sri Ratu menolak uluran Tiongkok.”
     Dalam bayangan yang tergambar di mata bathinnya sang begawan menyampaikan, “Tiongkok berdiri dan menjadi dalang semua kekacauan ini.” Mulutnya tidak bersuara sedikit pun masih terkatup erat. Ia tidak berkata-kata lagi.
     Begawan itu tidak mampu menghidar dari bayangan di kepalanya….Tangan-tangan Tiongkok menjulur dan mengobok negeri. Mulai dari pembangkangan di bandar Palembang, Pahang, Tumasik, hingga Blambangan. Demikian pula agen-agen Tiongkok di Wilwatikta telah menjamah Amana Gappa Majapahit, Revisi atas UU Majapahit itu sepertinya akan melemahkan kekuatan pusat atas daerah bawahan. Melemahkan Sang Ratu di hadapan punggawa dan petinggi kerajaan. Rasuah terjadi di bandar-bandar Majapahit, menggoda para komandan Armada Majapahit, Adipati, dan pejabat negara, karena Tiongkok memiliki dana tidak terbatas.
     “Sri Ratu sedang kesulitan ya, Ayanda?”
     Begawan itu terus menggurat daun rontal, dan sesekali mengusap dengan jelaga. Ia tidak menyadari putrinya sudah meninggalkan ruangan.
     Sekian untuk sekali ini.
*****


Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 8:37 AM

Ibukota Baru NKRI -- Inilah Bandar Adikuasa Majapahit Rawan Rasuah

Ibukota Baru NKRI -- Inilah Bandar Adikuasa Majapahit Rawan Rasuah

mbah Subowo.

Sebagai Adidaya di Belahan Bumi Selatan Khatulistiwa kekuatan laut Majapahit semasa Prabu Hayamwuruk Anumerta memiliki kekuatan 5 Gugus Tempur Armada Kapal Perang Pasukan Laut.  
     Gugus Armada Pertama menjaga wilayah barat Nusantara yakni samudra Indonesia dan barat Sumatra.  Gugus Armada kedua menjaga Selat Malaka hingga Laut Cina Selatan, termasuk Utara Kalimantan. Armada ketiga pasukan Laut Majapahit bertugas menjaga perairan Selat Makasar, Mindanao, Ternate, Tidore, pulau Halmahera dan kepala burung pulau Papua.  Armada Jawa atau Armada Keempat yang langsung berada di bawah perintah penguasa tertinggi Majapahit menjaga Laut Jawa hingga Laut Banda di kepulauan Maluku. Gugus Armada Kelima Majapahit menjaga Laut Kidul mulai dari Selat Bali, Selat Lombok hingga perairan Pulau Timor atau perairan Selatan Nusatenggara.
     Armada Jawa memiliki jumlah Kapal Perang terbanyak dan persenjataan unggul terbanyak meriam Majapahit (cetbang) dibanding Armada lainnya. Tugas penghukuman seringkali dilakukan Armada Jawa terhadap Armada lain yang membangkang.
     Armada Ketiga Pasukan Laut Majapahit berpangkalan di Banjar Kalimantan Selatan dan di Bugis Sulawesi Selatan. Kedua Wilayah Bandar bawahan Majapahit ini  yang memiliki pertahanan paling kuat di seantero Nusantara. Mengapa? Komandan Armada Laut Ketiga memiliki strategi pertahanan istimewa: Gugus-gugus Kapal perang Majapahit disebar di kedua sisi sepanjang Selat, maka bisa muncul dan bersembunyi  di sepanjang pesisir Timur Kalimantan dan pesisir Barat Pulau Sulawesi. Tugas daripada Armada pangkalan Sulawesi ialah menutup jalur masuk bagian Selatan selat, dan tugas Armada pangkalan Kalimantan menutup jalur masuk bagian Utara Selat Makasar.
     Wilayah Bandar Majapahit yang paling “Basah” alias mudah terjadi rasuah berada di sini, di sisi Timur Kalimantan dan sisi Barat Sulawesi. Telah menjadi rahasia umum Para Panglima Armada Ketiga sering bertindak bagai raja diraja dengan memungut upeti yang sebagian kecil disetor ke pemerintah pusat dan sebagian besar demi kepentingan sendiri.
     Komandan Armada Laut Ketiga jika merasa perlu dengan mudah menghalau patroli Armada Kedua yang muncul dari Utara Selat Makasar dan patroli Armada Jawa yang muncul dari Selatan Selat Makasar. Kekuatan pertahanan wilayah ini karena adanya pembagian menjadi dua Gugus Kapal Perang Armada Ketiga yang siap bertugas menutup pintu masuk dari utara dan selatan daripada Selat Makassar. Dengan sendirinya wilayah Kaltim (Punai) ini terkunci rapat sehingga paling rawan terjadi rasuah karena penyalahgunaan kekuasaan di kalangan militer Pasukan Laut Majapahit, karena sangat tersembunyi dari jangkauan pengawasan Wilwatikta.
     Sekian untuk sekali ini.
*****

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 1:56 PM

Arus Balik, Impian Kejayaan Nusantara

Arus Balik, Impian Kejayaan Nusantara

mbah Subowo B. Sukaris

"Semasa Prabu Hayam Wuruk Anumerta (-1389), Majapahit masih jaya di perairan Nusantara. Kapal-kapal perang Majapahit berlayar dengan gagah menjaga dan menghalau perompak di segenap sudut perairan Majapahit: Samudera Hindia, Samudera Pasific, Laut Arafuru, Laut Tiongkok Selatan dan perairan Mindanao," dongeng yang terus berdengung bertahan selama berabad.
    Tiongkok mulai menjamah perairan Nusantara begitu Sang Baginda wafat. Armada Tiongkok dengan diam-diam menyebar harta benda ke segenap bandar di berbagi kawasan Majapahit: berupa emas, permata, dan segala jenis barang mahal lainnya untuk menggoyahkan pengaruh pusat atas kerajaan di kawasan Majapahit, hasilnya ialah mereka mulai mengadakan pembangkangan pada pemerintah pusat.
    Dongeng itu masih segar dalam ingatan di awal abad kedupuluh satu ini berubah menjadi kenyataan. Tiongkok menjelma menjadi kekuatan ekonomi dunia. Adakah itu menjadi berkah atau musibah bagi Negeri Nusantara ini? Dapat diambil satu taktik cerdas yang dijalankan Tiongkok di negeri Srilanka ialah menggelontorkan piutang tanpa batas, untuk selanjutnya mengubah tagihan piutangnya menjadi konsesi mengelola salah satu pelabuhan laut negeri macan itu.
    Dengan memberikan utang besar kepada Republik Nusantara ini adakah Tiongkok sedang mengincar sesuatu? Misalnya Selat Malaka yang strategis itu. Entah pulau mana yang ingin dikuasainya dengan kekuatan piutangnya pada negeri ini.
    Di jaman Sriwijaya abad ketujuh masehi perguruan Buddha di sisi Timur pulau Sumatera yang menghadap Selat Malaka itu ramai dikunjungi pelajar dan yang terbanyak dari Tiongkok. Arus ilmu pengetahuan bergerak ke Utara dari wilayah Nusantara. Juga di masa Majapahit arus perdagangan rempah-rempah dan bahan obat-obatan mengalir dari Nusantara ke Utara dan ke Barat melintasi India menuju ke wilayah sebelah Barat.
    Kini, modal, barang, tenaga kerja semua saja dari segenap arah mengarah ke Nusantara. Dari Utara bisa disebutkan Tiongkok, Korea, Jepang, Taiwan dan seterusnya barang-barangnya membajiri Nusantara. Dari sebelah Barat, semua saja, modal, budaya, senjata, dan sebagainya mengalir menuju Nusantara. Arus mungkinkah membalik lagi dari Selatan ke Utara, dan dari Timur ke Barat?
    Sekian untuk sekali ini.


Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 7:17 PM

Republik Desa dan jatidiri bangsa

Republik Desa dan jatidiri bangsa Indonesia

mbah subowo bin sukaris

Akhir-akhir ini situasi politik di tahun politik 2018, semakin tidak menunjukkan jatidiri "bangsa Indonesia". Musyawarah untuk mufakat dan gotong-royong salah satu sendi "demokrasi" asli bangsa, dan "republik desa" sebagai bentuk "pemerintahan" selama berabad telah dilupakan. Seolah mereka yang menang atau kalah dalam pemilhan umum adalah suatu sumber sah daripada kebenaran absolut dalam berbangsa dan bernegara.
     Tidak usah berpanjanglebar, situasi dunia yang sedang dilanda krisis perdagangan global "perang dagang" seolah hal yang terjadi di planet lain. Tak butuh perhatian. Perhatian penguasa dan "oposan" dengan segenap energi tetap dicurahkan untuk menjadi pemegang sah membawa arah politik yang utama sesuai keinginan masing-masing.
      Sejak Presiden Tiongkok, ketua tertinggi PKC berjumpa dengan petinggi Korut, Amerika Serikat mulai menabuh genderang perang dagang terhadap Tiongkok. Persahabatan dua negeri Komunis di pesisir Timur benua Asia itu rupanya membuat Pemerintahan Trump ketar-ketir. Ditingkahi dengan Rusia yang selama ini menjadi target serangan Britania Raya, membuat kedua negeri bertetangga itu memadukan kekuatan militer dan lainnya. Dunia diambang krisis besar, yang seperti diucapkan oleh politisi kubu oposisi bahwa Indonesia Bubar 2030.
     Baru saja "mingkem" menyatakan kejutan itu, tiba-tiba dalam dua puluh empat jam, menjadi kenyataan. Rusia dan Tiongkok bersatu menghadapi Amerika Serikat, seperti yang ada dalam buku "Ghost Fleet". Indonesia menuju skenario 2030 selama perang dagang belum usai, merasai dampak global tanpa pandang bulu.
     Dalam buku karangan ahli strategi politik dan intelijen itu disebutkan Rusia dan Tiongkok berhasil menghancurkan teknologi Amerika, sehingga hanya satu pilihan bagi US untuk melawan, dengan kapal perang yang serba manual. Perang dagang hanya pembukaan, atau testcase. 
     Gontok-gontokan, dan serangan terbuka terhadap lawan politik bukanlah jatidiri "bangsa Indonesia". Dan jatidiri bangsa Indonesia adalah "sokoguru" kebudayaan Timur.
     Kehancuran Majapahit dipicu oleh serangan Tiongkok, di samping faktor lainnya dari dalam negeri, antara lain korupsi.
     Tiongkok yang memiliki kekuatan ekonomi nomor dua dunia itu bisa saja dan mungkin memenangkan perang dagang. Walau berbagai kajian para ahli ekonomi dan politik mancanegara menyatakan tiada yang bakal keluar sebagai pemenang dalam perang dagang ini.
     Kemenangan Tiongkok, berarti kehancuran bagi negeri Indonesia. Kemenangan Amerika mungkin belum tentu Indonesia mengalami hal itu. Itulah pelajaran dari sejarah Majapahit, lagi pula semasa Majapahit belum ada itu negeri Paman Sam. 
     Kejutan besar pada 1997 berupa krisis moneter jelas satu faktor utama yang menggulingkan Orde Baru. Dan penemuan teknologi faximile telah membuat Sovyet Uni bubar. Pada menjelang kejatuhan Orde Baru, internet provider baru saja masuk Jakarta, berita-berita politik bawah tanah bebas beredar, itu juga faktor yang merontokkan rezim Soeharto.
     Medsos, dan gadget telah berulang kali coba menghancurkan Jokowi, ada alumni sekian-sekian yang bekerja menggunakan kecanggihan teknologi untuk mengumpulkan masa. Itu tidak sesuai dengan jatidiri bangsa Indonesia. Teknologi bukan lagi di tangan manusia yang mengendalikannya. Akan tetapi yang sebaliknya terjadi, manusia semakin dikendalikan robot. Robot yang berbentuk internet dan gadget dan variannya itulah yang mengendalikan manusia. Superkomputer mengendalikan semua arus lalulintas dunia maya. 
     Sekian untuk sekali ini

*****
Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 10:21 AM

Inilah pertarungan abadi sejak Majapahit hingga NKRI

Inilah pertarungan abadi sejak Majapahit hingga NKRI

mbah subowo bin sukaris

Pertarungan semasa Majapahit ca 1478 M, antara Sabdo Palon yang berpaham Syiwa-Buddha-Dewa Banyak melawan Kepercayaan Dewa Tunggal, kini tengah terjadi di penghujung tahun 2016. Pertarungan sepanjang limaratus tahun lebih belum ada yang bisa disebut sebagai sang pemenangnya. Apakah itu mungkin suatu pertarungan abadi? Tampaknya di satu sisi Sabdo Palon sendiri mengatakan, "Belum lega hati hamba.... sebelum dapat mengalahkan para musuh...."
      Nyatanya di penghujung 2016 bukan "Sabdo Palon" yang melakukan ofensif terlebih dulu, justru para lawan yakni dari pihak sang Kepercayaan Dewa Tunggal yang memukul duluan. 
      Sabdo Palon bukan sebangsa manusia (juga bukan sebangsa alien), beliau mengaku sebagai Danghyang Tanah Jawi atawa pepunden/leluhur Nuswantara kini sudah menitis/mengejawantah dengan baju modern dalam tatktik dan strateginya di medan tempur yang panjang. 
      Sabdo Palon tidak lagi menggunakan sarana kuno yang berupa kutukan berusia setengah milenium itu. Apakah para semua tidak dapat memahami dengan jelas bahwa semua yang terjadi di mana salah satu pihak ibarat menggunakan taktik ala Tentara Merah Tiongkok, "Musuh maju menyerang, Tentara Merah lari mundur -- Musuh diam bertahan, Tentara Merah mengganggu mereka -- Musuh berlari mundur, Tentara Merah mengejar mereka."
      Berkaitan dengan taktik perang gerilya memang dari data sejarah tidak dikenal sejauh mulai dari abad ketigabelas masehi dari Arok Singhasari hingga Raden Wijaya Majapahit. Semua pertempuran baik di darat maupun di laut harus dihentikan setelah terbenamnya mentari. Perubahan taktik menjadi perang gerilya yang sesungguhnya terjadi pada abad keenambelas masehi (tahun 1500-an), yakni sejak kedatangan bangsa Barat ke wilayah perairan Nusantara. Perang malam atau tanpa mengenal batas waktu mulai diterapkan oleh sisa-sisa pasukan Majapahit yang berusaha mengusir bangsa Barat yang berusaha mendarat dan menguasai berbagai pelabuhan di Jawa.
      Era modern, di mana manusia sudah melampaui batas, sampai-sampai ingin menghindar dari kepunahan spesiesnya dengan cara "merantau" ke bumi yang lain. Untuk kebutuhan "mengungsi" itu sementara ini teknologi yang dapat dicapai para ilmuan baru tahap di awal dari ujung keberhasilan. 
      Bisa disebutkan sebagai ilustrasi mengenai kemajuan teknologi yang dikuasai umat manusia, untuk menjelajah angkasa diupayakan suatu berupa pengganti tenaga roket terbaru yang tidak lagi menggunakan bahan bakar kimia (yakni teknologi baru EM Drive atau semacam "microwave" pendorong). Lantas juga tenaga sinar laser nonstop selama puluhan tahun yang ditempatkan di orbit bumi yang mampu menggerakkan pesawat nano dengan sepersekian kecepatan cahaya ke penjuru alam semesta. 
      Satu lagi impian manusia menciptakan matahari buatan dengan reaksi fusi nuklir (bukan fisi nuklir konvensional) yang sejauh ini masih tahap awal eksperimen.
     Itulah daftar proyek terbaru ambisius demi rasa keingintahuan manusia yang tanpa batas itu, yakni menciptakan pesawat dengan kecepatan cahaya dan memperoleh energi melimpah di bumi. Dalam kaitan kecepatan cahaya alhasil saat ini baru seukuran atom tertentu yang diuji coba untuk mencapai kecepatan itu. Reaksi fusi nuklir pun baru kurang lebih satu detik saja tingkat keberhasilannya
      Di satu sisi patut diapresiasi kemajuan teknologi, sementara di sisi lain terjadi pertarungan paham yang berakhir dengan jalan untuk saling menaklukkan satu sama lain.
      Bisa diibaratkan anak kecil memang memiliki naluri untuk bermain-main, dan juga sekadar perkelahian atau pertarungan anak-anak. Patutlah dimaklumi dalam masa pertumbuhan fisik mereka ingin memenuhi keinginan gerak tubuhnya. Orang dewasa lain lagi ceritanya, mereka tidak berkelahi dengan tubuhnya, akan tetapi dengan mulutnya yang melontarkan kata-kata serangan kepada yang dianggap musuhnya. Yang sudah dewasa berbuat demikian itu disebut "padu". "Padu" adalah naluri primitif semacam debat kusir penuh amarah yang terbawa ke jaman modern ini. Dan "padu" biasanya hal itu tidak dilakukan oleh mereka yang sudah relijius, atau mencapai tingkatan menguasai "ilmu". Dengan "ilmu"nya mencegah diri mereka dari perbuatan sembarangan melampiaskan emosinya. Kalau seseorang yang berilmu dan sangat religius lantas menyerang orang lain, itulah yang hanya mungkin terjadi sebagai salah satu fenomena di "jaman edan".
      Jika memang benar ini "jaman edan" sebagai diramalkan Joyoboyo dari abad keduabelas masehi, maka satu-satunya pilihan bagi yang waras ialah "eling dan waspada". Artinya dengan mengerti bahwa fungsi reliji adalah untuk mengolah jiwa dan batin menuju kesempurnaan hidup dan bukan sebagai sarana untuk kepentingan politik praktis. Sedangkan pertarungan dan pertempuran adalah hak dan kewajiban serta tugas bagi laskar atau pasukan perang yang memang dibentuk khusus untuk itu. Tidak boleh dicampuradukkan!

*****


Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 10:15 AM

Semburan Lumpur Lapindo dan Kutukan Punggawa Majapahit

Semburan Lumpur Lapindo dan Kutukan Punggawa Majapahit

mbah subowo bin sukaris

Limaratus tahun yang silam, Sabdo Palon--Noyo Genggong, punggawa terakhir Majapahit sebagai tercatat dalam sejarah, telah menubuatkan suatu "kutukan", "ramalan", ataupun "titah" mengenai masa depan apa yang kelak terjadi terhadap Tanah Jawa.
     Sebagaimana para ilmuan sepakat bahwa Pangeran Wijil I (abad kedelapan belas) meramu kitab Asrar plus Bharatayuddha, Gatotkacasraya, dan Heruwangsa jadi gubahan "Ramalan Joyoboyo". Ramalan Joyoboyo isinya melulu mengenai perilaku manusia di masa depan. Demikianlah maka Sabdo Palon--Noyo Genggong juga meramalkan masa depan Tanah Jawa. Tempat kehidupan manusia Jawa akan berperilaku seperti digambarkan dalam "ramalan Joyoboyo" di atas.
     Tanah Jawa dan manusianya sudah diprediksi mengenai masa depannya sejak abad kelima belas hingga abad kedelapan belas, waktu itu kedatangan bangsa Barat baru dalam tahap awal dan belum mutlak menguasai wilayah Nusantara.
     Sebagaimana ramalan, kutukan, ataupun titah yang datang dari seorang yang berhati kecewa macam punggawa utama dan terakhir Majapahit tersebut di atas, adalah wajar saja isinya berupa bencana, kerusakan alam, bencana penyakit menular, dsb. Sebagai sejarah mencatat kisah Sabdo Palon--Noyo Genggong yang kecewa berat terhadap Brawijaya V -- yang terakhir ini raja terakhir Majapahit yang meninggalkan agama resmi kerajaan Syiwa-Buddha itu.
     Kekecewaan terbesar Sabdo Palon muntab dengan menyatakan bahwa sejak penguasa Majapahit tertinggi itu meninggalkan agama leluhur, maka Tanah Jawa tidak diberkati lagi (oleh Sang Baurekso atau Dang Hyang Tanah Jawi).
     Ramalan Joyoboyo yang digubah semasa bangsa Eropah telah menguasai Nusantara memang sangat akurat hampir tepat semua prediksinya mengenai solah-tingkah manusia Jawa/Nusantara. Sedangkan Ramalan Sabdo Palon--Noyo Genggong yang berasal dari sekitar masa peralihan Majapahit menjadi Kerajaan Islam pertama Demak, memang bernuansa pergantian "tatanan kehidupan Tanah Jawa" menjadi baru berbeda dari berabad sebelumnya.
     "Bukan karena Agama baru berarti penguasa yang baru juga," ...eh, salah, akan tetapi sebaliknya, "Penguasa yang baru akan membawa ajaran/agama/politik yang baru," kata sang pujangga nominee Nobel era Orde Baru.
     Tanah Jawa yang berganti tatanan baru, akan menghadapi bencana alam tiada akhir dan semua terjadi tanpa ada penangkal, dan perlindungan apapun.
     Masih ingat ramalan ilmiah oleh orang nomor satu NKRI pada 2016, Kota Jakarta akan tenggelam 2030?? Itu sudah dinyatakan limaratus tahun yang silam, bahwa air laut akan naik ke daratan utara Jawa. Karena Laut Jawa (bagian utara) memang kecil sekali diprediksi akan terjadi tsunami macam di Aceh tempo hari, akan tetapi akibat turunnya permukaan daratan Kota Jakarta akibat ulah manusia, maka air laut akan meluber ke daratan.
      Bagaimana semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo? Sebagai salah satu item berasal dari ulah manusia sehingga menimbulkan kerusakan Tanah Jawa maka itu juga termasuk yang sudah diprediksi limaratus tahun yang silam.

Bebaya ingkang tumeka,
Warata sa Tanah Jawi
Warna-warna kang bebaya,
Angrusaken Tanah Jawi
Sanget-sangeting sangsara,
Kang tuwuh ing tanah Jawi
Sabdo Palon--Noyo Genggong (abad kelima belas masehi)

Bahaya yang datang menghampiri merata tersebar seluruh Tanah Jawa/Nusantara. Bermacam-macam jenis bahaya serta bencana yang membuat Tanah Jawa rusak. Di masa depan kelak akan tiba masa masa paling sengsara di Tanah Jawa ini.

*****


Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 9:09 PM

Perang paregreg Angkatan Laut Majapahit


Perang paregreg Angkatan Laut Majapahit

mbah Subowo bin Sukaris

1404 Masehi
Kelemahan Majapahit yang ditunjukkan dengan pembangkangan terhadap Majapahit oleh Bhre Wirabhumi sang Adipati Lumajang itu menyeret bawahan Majapahit lainnya: kerajaan Klungkung, Bali, dan juga kerajaan Dompu di Jembatan Matahari. Mereka ramai-ramai berusaha melepaskan diri dari pusat kekuasaan.
      Pembangkangan oleh kerajaan Klungkung di Bali yang membawahi Lombok; dan pembangkangan kerajaan Dompu yang membawahi Jembatan Matahari ditambah Demung di Sulawesi Selatan rupanya mendapat sokongan dari Armada Keempat Angkatan Laut Majapahit yang menjaga Laut Selatan. 
      Wilayah yang berusaha melepaskan diri ini memang berada di bawah kekuasaan Armada Keempat AL Majapahit yang meliputi perairan selatan Jawa, Bali, Lombok, terus ke Timur hingga Pulau Timor. Armada Keempat ini dipimpin oleh Laksamana Mandarang dari kerajaan Demung, Sulawesi Selatan. Demung merupakan kerajaan bawahan dari kerajaan Dompu yang memiliki pangkalan AL terbesar di teluk Sumbawa.
      Armada andalan Majapahit dalam keadaan sulit ialah Armada Kelima yang menguasai Laut Utara Pulau Jawa dipimpin oleh Gde Sadiarta seorang Laksamana dari Bali. 
Dengan berlarut-larutnya paregreg, maka kali ini Gde Sadiarta sedang menjalankan misi rahasia mendaratkan pasukan di beberapa titik sebelah utara Lumajang.
      Perintah Sri Maharatu Hyang Smodra Wisesa Suhita itu demikian kerasnya, "Tembak, tembak, dan tembak siapa pun yang melakukan pembangkangan terhadap kami."
Sejak pagi Armada Kelima meninggalkan Gresik kini tengah memasuki perairan Selat Madura, terus menuju ke Timur. 
      Di kapal bendera Armada Kelima itu terdapat seorang bocah yang memiliki pandangan mata terbaik di seluruh Armada. Narman yang berada tepat di bawah juru tinjau itu tiba-tiba berseru, "Ada yang sedang mendatangi ke arah sini, Yang Mulia!"
      Gde Sadiarta yang berdiri di anjungan pimpinan berseru, "Juru tinjau, coba lihat di depan sana ada apa!" Panglima Armada itu mulai bertanya-tanya dalam hati. Operasi ini tidak mungkin bocor, karena yang tahu cuma dirinya, sang Maharatu, dan Ni Ken Parsini.
      "Tidak ada apapun, Yang Mulia," jawab juru tinjau dari atas menara kapal.
      "Coba lihat sekali lagi, Narman!" perintah panglima armada kelima.
      "Betul, mulai terlihat titik-titik, mungkin sebarisan kapal, Yang Mulia," sahut pemuda belia itu sambil menunjuk ke suatu arah.
      Gde Sadiarta merasa ada yang bakal mengganggu wilayah kekuasaannya. Tak mungkin armada lain yang kesasar di perairan ini, "Coba lihat lagi ke jurusan sana, juru tinjau," perintah Panglima Armada itu sambil menunjuk ke suatu titik di Timur.
      "Tidak terlihat apapun, Yang Mulia." Juru Tinjau itu mengucek matanya berkali-kali, dan tetap saja tak tampak apapun di kejauhan sana.
      "Turun, kau!" Tiba di tingkatan lebih rendah, tempat yang diduduki juru tinjau itu kini digantikan oleh Narman. 
"Sebarisan kapal sedang lurus mengarah kemari. Yah, kapal perang, Yang Mulia!" Narman terus mengamati titik di kejauhan yang mulai terbentuk itu.
      "Bagaimana dengan bentuk gelar kapal itu?" tanya Gde Sadiarta.
      "Mereka membuka gelar "lidi terapung", tampak jelas itu Armada Keempat."
      Jadi Mandarang telah memihak Wirabhumi, pikir Gde Sadiarta. Sejenak laksamana itu termenung. Ia yang tengah berada di kapal bendera dan membawa pengikut armada sebesar ini mungkin saja bisa mengikuti jejak Mandarang. Bukankah mudah baginya mendarat di Selatan Bali dan kemudian tinggal mengutarakan niatnya kepada raja Klungkung. Maka armada sebesar ini akan menjadi miliknya, dan tinggal tenang-tenang saja di Bali menjadi penguasa pulau itu. Mandarang memang memberikan ilham kepada dirinya, yakni, dengan membangkang terhadap Majapahit, dan membawa kabur armada laut yang besar itu selanjutnya tinggal diam-diam saja tanpa melakukan sesuatu sambil menunggu pertarungan antara Wirabhumi melawan Majapahit. Siapapun yang keluar sebagai pemenang di antara keduanya maka tak bakal mereka mampu mengadakan serangan balasan terhadap wilayah yang berada jauh dari pusat Majapahit. Majapahit terlalu lemah jika telah keluar sebagai pemenang dalam paregreg itu.
      "Segera bentuk gelar 'Dua Jajaran'," perintah Gde Sadiarta kepada juru bendera. Kesibukan pun terjadi isyarat-isyarat kepada seluruh armada agar segera membentuk gelar perang "dua jajaran" mulai dilaksanakan.
      "Narman, bagaimana kekuatan mereka di depan sana itu?" tanya panglima armada kelima Majapahit itu sambil mengawasi kejauhan.
      "Yang Mulia, kekuatan mereka besar sekali, lebih besar dari kekuatan armada Yang Mulia...." sahut Narman tanpa ragu-ragu.
      Gde Sadiarta segera memerintahkan juru bendera memberikan isyarat untuk mengganti gelar "dua jajaran" menjadi gelar "piting gangsir"
      Gelar dua jajaran pun berubah menjadi piting gangsir, kapal-kapal pemburu armada kelima kini berpindah ke ujung kiri dan kanan dari jajaran kapal perang yang tengah melaju. Kapal pemburu yang berlapis-lapis jumlahnya itu segera melesat maju meninggalkan jajaran sambil mempersiapkan senjata cetbang mereka. 
      Tugas kapal pemburu ialah menyerang kapal bendera lawan. Sementara dalam formasi gelar dua jajaran tidak bisa dilakukan untuk menghadapi kekuatan musuh yang memasang formasi lebih lebar dan besar dalam jumlah itu. Armada keempat Mandarang tidak mengubah gelar "biting kambang" (lidi terapung) rupanya mereka terlalu percaya diri dengan kekuatan sebesar itu.  Gelar "dua jajaran" armada kelima bisa-bisa malah membuat musuh mudah mengepung dengan "biting kambang" mereka dan membuat armada Gde Sadiarta tak bisa berkutik lagi.
      Armada keempat dan Armada kelima Angkatan Laut Majapahit memiliki kekuatan hampir separoh dari kekuatan Majapahit secara keseluruhan.
      Armada kelima yang dibawa Gde Sadiarta yang dibawanya itu memang bukan kekuatan seluruhnya dari Armada Laut Jawa. Sebagian armada kelima telah ditugaskan untuk tetap menjaga wilayah bagian barat perairan Laut Jawa.
      Gde Sadiarta berusaha sekali lagi agar tidak terjadi tembak-menembak di antara armada Majapahit, "Naikkan isyarat agar armada keempat segera meninggalkan dan menjauhi laut Jawa!" Isyarat pun segera diberikan kepada Armada keempat agar segera menjauh dari Laut Jawa dan kembali ke Laut Selatan. 
      Mereka, armada keempat rupanya bukan mematuhi isyarat penguasa perairan di selatan Pulau Madura itu akan tetapi malah terus maju menantang.
      Narman melaporkan lagi, di atas kapal bendera Mandarang telah terpasang bendera isyarat "siap bertempur".
      Pimpinan Armada Kelima memutuskan untuk meladeni pertempuran laut dan memerintahkan memberi isyarat "siap menghadapi pertempuran" kepada seluruh armada.
      Laksamana Gde Sadiarta tertegun menyaksikan betapa besar ukuran kapal bendera Armada Keempat. Juga kapal-kapal pengiringnya yang jumlahnya sebanyak itu, dari mana mereka membangun armada sebesar itu. Ia tidak habis pikir mengenai itu. Kali ini ia sungguh berusaha lebih memusatkan perhatian pada pertempuran laut sangat berat ini.
      Gde Sadiarta dan Mandarang tidak jauh berbeda kedudukannya di daerahnya sendiri. Dua-duanya merupakan pewaris potensial kekuasaan di kerajaaan sendiri, oleh sebab itu mereka ditarik ke Majapahit agar tidak merecoki pemerintahan yang menjadi bawahan Majapahit.
      Kebijakan bagi Armada Laut Majapahit ialah memang memungkinkan untuk memelihara armadanya dengan berbagai sumber dari wilayah kekuasaannya. Maka yang terjadi kemudian ialah persaingan dari masing-masing Armada untuk menunjukkan kelebihan dan kebesarannya sendiri.
****
Turino yang sedang berada di kapal pemburu itu telah bersiap di belakang cetbangnya. Peluru-peluru cetbang sebesar buah kelapa itu telah disusun rapi. Pemuda itu berasal dari daerah Karangsetra, ia bertekad pertempuran sekali ini harus dimenangkan dengan dirinya dapat keluar dalam keadaan hidup.
      Ia telah berjanji kepada tunangannya untuk berdinas pada Angkatan Laut selama dua tahun. Setelah menyelesaikan masa dinas itu ia akan pulang kampung dan hidup sebagai nelayan seperti yang lainnya.
      Tanpa pernah menjadi prajurit Angkatan Laut maka anak kecil pun tahu bahwa siapapun tidak akan sanggup melawan bajak.
      Kapal bendera yang menjadi sasarannya itu tampak begitu besar, Turino telah bersiaga, begitu mendekati sasaran maka pemburu-pemburu itu mulai melepaskan cetbangnya sambil terus berputar-putar cepat terus mengelilingi sasarannya. Kapal pengiring yang menjaga kapal bendera armada keempat segera saja menjadi sasaran tembak puluhan pemburu yang datang dari kiri kanan "piting gangsir" dari Armada Kelima dan setelah menyingkirkan kapal pengiring dilanjutkan dengan terus menembaki kapal bendera Mandarang. 
      Sekali ini tembakan Turino mengenai lambung kapal, dan sekali lagi mengenai tiang agung kapal bendera itu.
     Kapal-kapal pengiring Armada Keempat yang masih selamat terus  sibuk melayani serangan pemburu-pemburu Gde Sadiarta. Pada akhirnya kapal pengiring itu tak mampu bertahan dan mulai terpisah dari kapal bendera.
      Kebiasaan awak pemburu kapal Majapahit menorehkan pisau pada lengan dan menutup lukanya dengan jelaga setiap kali kapal musuh berhasil mengenai tembakannya dan tenggelam. 
      Sudah sembilan torehan di lengan Turino demikian juga yang dilakukan oleh teman-temannya sekapal.
      "Kalau kapal bendera ini tenggelam terkena tembakan maka satu torehan besar akan menyilang," katanya dalam hati.
      Tanpa ada kapal pelindung lagi kapal bendera yang terlalu besar itu pun akhirnya menjadi sasaran empuk cetbang pemburu, dan kini mulai terbakar layar-layarnya. Tiang agungnya pun sudah patah tertembak. Kapal itu kini tidak mampu lagi memimpin armada.
      Gde Sadiarta begitu melihat kapal bendera Mandarang tidak berdaya segera menghentikan pertempuran dan memerintahkan pemburu untuk mengusir armada keempat meninggalkan laut Jawa dan kembali ke Laut Selatan melalui Selat Bali.
      Menjelang senja pendaratan pasukan itu pun berjalan mulus dilakukan sebagaimana misi yang diemban Armada Kelima. Tiga titik pendaratan berlangsung dan para prajurit yang diturunkan ke darat itu akan memasuki medan pertempuran darat di wilayah Lumajang.
      Menjelang gelap Gde Sadiarta memerintahkan kapal untuk bersauh di tengah laut pada suatu jarak dari tempat ia mendaratkan pasukan. Esok pagi ia akan melanjutkan perjalanan kembali ke Gresik untuk melaporkan kepada Sri Maharatu mengenai jalannya pertempuran oleh adanya pembangkangan Armada Keempat Majapahit.

***** 

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 12:30 AM

Analisis Intelijen Panglima Angkatan Laut Majapahit

Analisis Intelijen Panglima Angkatan Laut Majapahit

mbah Subowo bin Sukaris

1410 Masehi
Nyi Ken Parsini utusan rahasia Kaisarina Majapahit  berlayar dengan kapal dagang ke Campa guna menjumpai Resi Haking. Tatkala itu situasi jagad Majapahit sedang genting. Pasukan darat kerajaan Klungkung Bali-Lombok menyeberangi selat Bali dan mendarat besar-besaran di Blambangan guna membantu pasukan Wirabhumi di medan tempur Lumajang. Pasukan Wirabhumi rupanya tengah keteteran dalam pertempuran menghadapi pasukan darat Majapahit yang menggempur dengan menempuh jalan darat dan membuncah melalui armada kapal laut di pesisir utara Lumajang.
      Sementara itu Parsini tiba bandar pelabuhan Campa, begitu menginjak daratan Campa segera meninggalkan para pengawalnya. Ni Ken Parsini Smodraksa Laksamana Majapahit seorang diri  menyusuri pantai sejauh lima ratus kaki menuju sebuah gubuk sederhana. Ia cepat-cepat memasuki bilik itu dan menunggu. Memang benar seperti yang diharapkan tak berapa bentar seorang anak melongoknya kemudian masuk gubug itu menemuinya.
      "Resi Haking.... saya ingin bertemu dengan dia," ujar Parsini dalam basa Jawa. Tatkala itu bahasa Jawa menjadi bahasa internasional di Asia Tenggara sejak Tapasi putri Krtanegara disunting oleh seorang raja Campa.
Anak itu bergegas pergi meninggalkan Parsini yang kembali berada di gubug itu seorang diri.
      "Hanya Sri Maharatu yang mengetahui petunjuk menuju ke tempat ini." Seorang lelaki setengah baya berjubah kuning memasuki gubuk itu. Bahunya terbuka sebagian dan memperlihatkan ototnya yang kukuh-kuat. Penutup kepalanya terbuka sebagian dan tampaklah kepalanya yang gundul.
      "Hamba Parsini, Yang Mulia resi." Parsini memperkenalkan dirinya.
      Setelah sang Resi memeriksa tamu itu dengan beberapa pertanyaan rahasia, dan setelah meyakinkan diri dengan tanda berupa cincin kerajaan yang dibawa Parsini bahwa memang betul ia utusan dari Majapahit. Resi Haking mengetahui bahwa cincin kerajaan di tangan Parsini itu terdapat tanda rahasia yang menunjukkan keasliannya.
      "Mari kita berjalan-jalan, Parsini," ajak sang resi.
      Keduanya melangkah keluar gubug menyisiri tepi pantai. Setelah mereka menemukan sebuah biduk kecil yang ditambatkan tak jauh dari gubug itu maka keduanya segera menaikinya, seseorang menghampiri dan memberikan sepasang dayung. Resi Haking kemudian mendayung pelahan biduk itu menuju ke tengah laut.
      "Ada apa gerangan sang Maharatu mengirim utusan sejauh ini, Parsini?"
      "Yang Mulia, Sri Maharatu menitahkan hamba menyampaikan keadaan Majapahit yang sedang gawat membutuhkan Yang Mulia Resi sebagai Mahapatih...."
      Resi Haking tertegun sejenak. Parsini segera melanjutkan:
      "Ketahuilah oleh Yang Mulia, armada kebesaran Cheng Ho telah memberi bantuan kepada Lumajang dengan beribu-ribu saga emas."
      "Kembali ke Majapahit.... Itu tidak mungkin...." sahut Resi Haking yang teringat kembali pada sumpahnya.
      "Jadi Yang Mulia lebih memilih yang mana: kehidupan bagi mahadewata atau kehidupan bagi jagad bumi manusia?" tanya Ni Ken Parsini.
      "Aku memilih kehidupan bagi mahadewata....." sahut Resi Haking. "Bukankah kau seharusnya Buddha sebagai wanita Majapahit beribukan wanita Campa, Parsini?"
      "Hamba memuja Mahadewa Syiwa, sama seperti Yang Mulia Resi pada saat ini memuja sang Buddha." Keduanya sama-sama tersenyum.
      Ni Ken Parsini melanjutkan, "Dan ratusan ribu saga emas itu dipergunakan oleh Wirabhumi untuk.....melamar Sang Maharatu!"
      "Kusumawardhani yang turun takhta Majapahit dan melakukan pertapaan di gunung Klotok, bekas pertapaan Dewi Sanggramawijaya (Resi Kilisuci) dan Prabu Erlangga, kini menganggap dirinya telah menemukan satu-satunya solusi mengakhiri perang paregreg ialah perkawinan antara Bhre Wirabhumi dengan Maharatu Suhita," ujar Parsini.
      "Itu tidak akan terjadi! Wirabhumi semakin dekat dengan sang Maharatu, maka ia akan semakin menjadi beban bagi Sri Maharatu Suhita!"
      Resi Haking tertawa, setelah mengetahui Kusumawardhani yang membuatnya berada sejauh ini dari Majapahit, kini tengah menjadi comblang bagi Wirabhumi. Dan rupanya perbuatan kakaknya itu dianggap lebih jauh oleh Suhita sebagai memihak Wirabhumi.
      "Kalau Yang Mulia tidak berkenan kembali ke Majapahit untuk mengemban tugas sebagai Mahapatih..... titahkan melalui hamba apa yang harus diperbuat oleh sang Maharatu."
      Keduanya diam sejenak mengawasi daratan yang semakin jauh, dipenuhi pagoda, dan di antara pucuk-pucuk berkilauan itu ada sebuah yang bersinar paling terang, puncak pagoda itu terbuat dari emas 24 karat.
      "Wirabhumi.... aku tahu betul bagaimana masa kecilnya. Wirabhumi adalah seoran putra dari selir, Prabu Hayam Wuruk menempatkannya di Selatan Majapahit untuk menghadang para penyerang dari arah Selatan. Dan kini justru dia sendiri yang menusuk Majapahit dari Selatan." Resi itu melanjutkan.
      "Sri Maharatu sudah benar dalam segala tindakan. Ia teruskan saja langkah-langkahnya yang telah berjalan selama ini." Dayung di tangan sang resi telah diletakkan di dalam biduk. Kini biduk itu terombang-ambing gelombang.
"Bagaimana dengan Melayu yang kini membangunkan kerajaannya sendiri. Juga Punai (Kalimantan Barat) yang melepaskan diri, Brunai yang tidak hadir dalam penghadapan tahunan. Dompu (Sumbawa) yang memberontak dengan menguasai armada Majapahit keempat berikutnya adalah Lomblen (Flores), Sumba, Timor, Solor.
     Dan kerajaan Demung di Sulawesi Selatan yang berhasil melepaskan diri dari Dompu kini berdiri sendiri. Dan juga pembangkangan terhadap Majapahit oleh Sri Jama Muka dari Tidore yang membawahi Papua."
      Ni Ken Parsini masih terus menyebutkan satu persatu wilayah kerajaan bawahan Majapahit yang ramai-ramai mengadakan pembangkangan sejak kedatangan armada Cheng Ho.

Resi Haking telah mengirimkan utusan ke Wilwatikta sejak mulai kedatangan Armada Kebesaran Tiongkok di bawah Ma San Pao alias Cheng Ho mancal dari Shanghai. Berulang-ulang diperingatkannya kepada Sri Maharatu Suhita agar berhati-hati dan waspada terhadap orang yang satu ini.
      Kenyataan yang kemudian terjadi memang sedemikian dahsyat membawa kehancuran bagi Majapahit.
      Armada Cheng Ho telah menyebarkan harta-benda berupa emas berlimpah-limpah diberikan kepada kerajaan bawahan Majapahit. Dengan emas itu kerajaan bawahan Majapahit mampu membeli gugus-gugus armada Angkatan Laut Majapahit. Kapal-kapal Majapahit pada akhirnya berkumpul dan dikuasai oleh kerajaan bawahan Majapahit yang mulai memperkuat diri.
     Suhita di saat peristiwa itu terjadi tengah menitahkan sepuluh tahun kehidupan damai di Majapahit untuk masa pemulihan. Ia tidak bertindak apapun terhadap pembangkangan kerajaan bawahan kecuali di wilayah yang merupakan jalur rempah-rempah yakni mulai perairan Laut Jawa hingga Jembatan Matahari (Nusa Tenggara).
      "Sri Maharatu harus terus berusaha mengatasi pembangkangan yang sedang terjadi pada kerajaan bawahan. Jika terpaksa dan harus dipaksakan maka kekuatan Majapahit bisa hanya terbatas dipusatkan di Pulau Jawa saja. Besok kembalilah ke Majapahit. Semakin lama kau berada di sini semakin tidak berguna bagi Majapahit, Parsini. Dan malam ini menginaplah di biara." Hari mulai temaram. Sang resi buru-buru mengayuh biduk itu memantai kembali.
      Parsini menampakkan air muka penuh tanda tanya.
      "Jangan khawatir, Parsini, di sini terdapat banyak biara yang diurus oleh orang yang datang dari Jawa. Maka kau akan merasa nyaman." Resi Haking menutup pembicaraan.
      Ni Ken Parsini Smodra Laksamana Majapahit (Panglima Angkatan Laut Majapahit) memutar-mutar persoalan Majapahit dalam kepalanya. Ia bertanya-tanya mengapa persoalan itu berkisar pada Bhre Wirabhumi, Dewi Ratna Suhita, Kusumawardhani, Resi Haking, semua adalah putra-putri Baginda Hayam Wuruk Anumerta.

******

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 2:47 AM

Formasi intelijen Angkatan Laut Majapahit di Laut Cina Selatan

Formasi intelijen Angkatan Laut Majapahit
di Laut Cina Selatan

mbah Subowo bin Sukaris

1405 Masehi
Salah seorang putra selir Prabu Hayam Wuruk Anumerta dalam upaya membuang diri karena asmara tak sampai dengan penguasa jagad Majapahit Ratu Kusumawardhani memegang peran sebagai Kepala dinas rahasia kerajaan Majapahit berkedudukan di Campa.
     Resi Haking, tiada henti mengirimkani surat rahasia  menyangkut urusan keamanan di wilayah Utara Majapahit kepada Kusumawardhani.  Ia menjadi mata dan telinga bagi Majapahit sekaligus telah menjadi sumber keterangan dari istana bagi armada pertama Majapahit yang berada di perairan Laut Cina Selatan, Puni (Singkawang), Brunai, maupun Mindanao (Filipina). Armada pertama Majapahit di bawah pimpinan Laksamana Suhadi itu juga termasuk menjaga keamanan bawahan Majapahit: Pahang, Tumasik, dan Malaka.
     Kusumawardhani yang lebih memilih Wikramawardhana bahkan pada akhirnya tidak mengindahkan satu pun laporan rahasia yang mahapenting yakni mengenai gerak-gerik Cheng Ho yang gencar menyebarkan ajaran baru mulai dari Yunnan hingga Tiongkok Selatan.
     Siapa gerangan Cheng Ho ini? Keberhasilah Cheng Ho memarakkan ke singgasana Tiongkok bagi kaisar Yongle Huang Ti pada akhirnya menjadi saingan pribadi sang Kaisar.
     Kusumawardhani dari singgasana Majapahit untuk masa selanjutnya bahkan tidak pernah mau tahu apa isi laporan Resi Haking. Ia khawatir jangan-jangan itu berisi surat cinta.
     Sang resi yang membuang diri dari pusat Majapahit memang masih saudara kandung Kusumawardhani karena ia lahir dari rahim seorang selir Hayam Wuruk Anumerta.
     Oleh sebab itu tiada mungkin cinta di antara Resi itu dengan kaisarina dapat bersatu. Pada masa pemerintahan Suhita Bethari, Resi Haking mulai menaruh harapan baru apa yang dikemukakan dalam laporan rahasia akan mendapat perhatian dari Wilwatikta.
     Dalam satu laporan rahasia melalui kurir yang berlayar dari Campa hingga pelabuhan Gresik, sampailah ke tangan Kaisarina baru Majapahit Dewi Suhita Bethari.
     "Sejak Kublai Khan mengirimkan seribu kapal armada Tiongkok untuk menaklukkan Krtanegara pada 1292. Masa selanjutnya  kekaisaran negeri Tiongkok di bawah Mongol itu jatuh, dan selanjutnya kekuatan raja perang satu sama lain bertempur, di antara raja perang yang pada akhirnya keluar sebagai pemenang dalam memperebutkan Peking ialah raja perang Ming Jen Cu. Inilah awal dinasti Ming berkuasa. Beberapa kali kekuasaan berpindah dari dinasti Ming itu sendiri. Pada suatu kali tampillah Cheng Ho yang membantu Yongle merebut kekuasaan dari sesama klan dinasti Ming sendiri."
      "Yang Mulia Suhita Bethari,"
    Lanjutan dalam laporan itu, "Ma San Pao ini mendapatkan gelar tertinggi CEN dari kaisar Yongle, Cheng Ho. Sejak itu tiba-tiba saja terjadi pergerakan serentak orang-orang Tionghoa mulai dari di Barat daya Tiongkok mengalir ke Selatan mengisi bandar-bandar Majapahit. Bandar-bandar Majapahit yang diisi pendatang baru dari Tiongkok itu mulai menambah ramainya perdagangan dan juga kegiatan jasa antara lain di bandar Campa, Pahang, Malaka, Tumasik, Jambi, Puni, Brunai, Mindanao, hingga Palembang."
     "Yang Mulia Suhita Bethari harap berhati-hati karena mereka menyebarkan ajaran baru dewa yang satu. Majapahit adalah negeri Syiwa-Buddha, para raja-rajanya memeluk Syiwa, maka waspadalah terhadap ajaran baru ini! Dalam pengembaraan tugas sahaya yang terpaksa beralih memeluk Buddha, maka dapat sahaya ketahui bagaimana suara-suara dari talapuan pendeta Buddha biara-biara mulai dari wilayah pedalaman hingga bandar-bandar, bahwa mereka rata-rata tidak menyukai Cheng Ho yang menyebarkan ajaran dewa yang satu itu.
     Kaisar Yongle rupanya diam-diam merasa kewalahan menghadapi sepak-terjang Cheng Ho yang juga menyebarkan ajaran baru di berbagai lokasi di Tiongkok. Cheng Ho sering membisikkan sang kaisar agar menyerbu Majapahit. "Kekuatan Majapahit sangat detil kami ketahui, Yang Mulia. Mereka rapuh.... terutama angkatan lautnya."
     Yung Lok memang tidak bernafsu menyerang Majapahit seperti yang telah dilakukan Kublai Khan. Akan tetapi manusia yang satu ini harus diberi medan di luar Tiongkok. Dan dengan dalih mengagungkan negeri Tiongkok maka sang kaisar menyediakan dana tak terbatas untuk membangun sebuah armada kebesaran bagi Laksamana Cheng Ho.
      Pada akhirnya armada terdiri dari 60-an kapal berisi 40.000 prajurit itu sejak berlayar dari Shanghai yang diuntabkan langsung oleh sang kaisar, maka mulailah armada yang belum pernah dilihat sepanjang umat manusia itu berlayar menuju selatan. Jaring-jaring telik Cheng Ho mulai bekerja mengadakan pembersihan kontra telik sejak Campa hingga Malaka terutama terhadap kekuatan bajak, dan juga kekuatan Majapahit.
      Oleh keadaan yang mulai berubah itulah, Yang Mulia Suhita Bethari, telah memaksa sahaya memutuskan untuk memasuki pedalaman Campa dan terus menuju ke Tiongkok guna kepentingan keamanan beberapa pengikut sahaya. Untuk sementara Yang Mulia Suhita Bethari tidak usah mengirimkan apapun, begitulah penutup surat rahasia dari Resi Haking untuk terakhir kalinya.
      Sejak kedatangan armada kebesaran Tiongkok yang mengibarkan panji perdamaian dengan perbekalan harta-benda luar biasa akan tetapi juga yang diam-diam menyingkirkan jaring-jaring kekuatan Majapahit di Utara itulah untuk selamanya kekuatan armada pertama Majapahit yang mengawal perairan dan bandar Majapahit di Mindanao, Brunai, Puni, Pahang, Tumasik, Malaka, dan selanjutnya ke Selatan tak dapat lagi dipantau dari Wilwatikta.
*****

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 4:49 PM