Perang paregreg Angkatan Laut Majapahit


Perang paregreg Angkatan Laut Majapahit

mbah Subowo bin Sukaris

1404 Masehi
Kelemahan Majapahit yang ditunjukkan dengan pembangkangan terhadap Majapahit oleh Bhre Wirabhumi sang Adipati Lumajang itu menyeret bawahan Majapahit lainnya: kerajaan Klungkung, Bali, dan juga kerajaan Dompu di Jembatan Matahari. Mereka ramai-ramai berusaha melepaskan diri dari pusat kekuasaan.
      Pembangkangan oleh kerajaan Klungkung di Bali yang membawahi Lombok; dan pembangkangan kerajaan Dompu yang membawahi Jembatan Matahari ditambah Demung di Sulawesi Selatan rupanya mendapat sokongan dari Armada Keempat Angkatan Laut Majapahit yang menjaga Laut Selatan. 
      Wilayah yang berusaha melepaskan diri ini memang berada di bawah kekuasaan Armada Keempat AL Majapahit yang meliputi perairan selatan Jawa, Bali, Lombok, terus ke Timur hingga Pulau Timor. Armada Keempat ini dipimpin oleh Laksamana Mandarang dari kerajaan Demung, Sulawesi Selatan. Demung merupakan kerajaan bawahan dari kerajaan Dompu yang memiliki pangkalan AL terbesar di teluk Sumbawa.
      Armada andalan Majapahit dalam keadaan sulit ialah Armada Kelima yang menguasai Laut Utara Pulau Jawa dipimpin oleh Gde Sadiarta seorang Laksamana dari Bali. 
Dengan berlarut-larutnya paregreg, maka kali ini Gde Sadiarta sedang menjalankan misi rahasia mendaratkan pasukan di beberapa titik sebelah utara Lumajang.
      Perintah Sri Maharatu Hyang Smodra Wisesa Suhita itu demikian kerasnya, "Tembak, tembak, dan tembak siapa pun yang melakukan pembangkangan terhadap kami."
Sejak pagi Armada Kelima meninggalkan Gresik kini tengah memasuki perairan Selat Madura, terus menuju ke Timur. 
      Di kapal bendera Armada Kelima itu terdapat seorang bocah yang memiliki pandangan mata terbaik di seluruh Armada. Narman yang berada tepat di bawah juru tinjau itu tiba-tiba berseru, "Ada yang sedang mendatangi ke arah sini, Yang Mulia!"
      Gde Sadiarta yang berdiri di anjungan pimpinan berseru, "Juru tinjau, coba lihat di depan sana ada apa!" Panglima Armada itu mulai bertanya-tanya dalam hati. Operasi ini tidak mungkin bocor, karena yang tahu cuma dirinya, sang Maharatu, dan Ni Ken Parsini.
      "Tidak ada apapun, Yang Mulia," jawab juru tinjau dari atas menara kapal.
      "Coba lihat sekali lagi, Narman!" perintah panglima armada kelima.
      "Betul, mulai terlihat titik-titik, mungkin sebarisan kapal, Yang Mulia," sahut pemuda belia itu sambil menunjuk ke suatu arah.
      Gde Sadiarta merasa ada yang bakal mengganggu wilayah kekuasaannya. Tak mungkin armada lain yang kesasar di perairan ini, "Coba lihat lagi ke jurusan sana, juru tinjau," perintah Panglima Armada itu sambil menunjuk ke suatu titik di Timur.
      "Tidak terlihat apapun, Yang Mulia." Juru Tinjau itu mengucek matanya berkali-kali, dan tetap saja tak tampak apapun di kejauhan sana.
      "Turun, kau!" Tiba di tingkatan lebih rendah, tempat yang diduduki juru tinjau itu kini digantikan oleh Narman. 
"Sebarisan kapal sedang lurus mengarah kemari. Yah, kapal perang, Yang Mulia!" Narman terus mengamati titik di kejauhan yang mulai terbentuk itu.
      "Bagaimana dengan bentuk gelar kapal itu?" tanya Gde Sadiarta.
      "Mereka membuka gelar "lidi terapung", tampak jelas itu Armada Keempat."
      Jadi Mandarang telah memihak Wirabhumi, pikir Gde Sadiarta. Sejenak laksamana itu termenung. Ia yang tengah berada di kapal bendera dan membawa pengikut armada sebesar ini mungkin saja bisa mengikuti jejak Mandarang. Bukankah mudah baginya mendarat di Selatan Bali dan kemudian tinggal mengutarakan niatnya kepada raja Klungkung. Maka armada sebesar ini akan menjadi miliknya, dan tinggal tenang-tenang saja di Bali menjadi penguasa pulau itu. Mandarang memang memberikan ilham kepada dirinya, yakni, dengan membangkang terhadap Majapahit, dan membawa kabur armada laut yang besar itu selanjutnya tinggal diam-diam saja tanpa melakukan sesuatu sambil menunggu pertarungan antara Wirabhumi melawan Majapahit. Siapapun yang keluar sebagai pemenang di antara keduanya maka tak bakal mereka mampu mengadakan serangan balasan terhadap wilayah yang berada jauh dari pusat Majapahit. Majapahit terlalu lemah jika telah keluar sebagai pemenang dalam paregreg itu.
      "Segera bentuk gelar 'Dua Jajaran'," perintah Gde Sadiarta kepada juru bendera. Kesibukan pun terjadi isyarat-isyarat kepada seluruh armada agar segera membentuk gelar perang "dua jajaran" mulai dilaksanakan.
      "Narman, bagaimana kekuatan mereka di depan sana itu?" tanya panglima armada kelima Majapahit itu sambil mengawasi kejauhan.
      "Yang Mulia, kekuatan mereka besar sekali, lebih besar dari kekuatan armada Yang Mulia...." sahut Narman tanpa ragu-ragu.
      Gde Sadiarta segera memerintahkan juru bendera memberikan isyarat untuk mengganti gelar "dua jajaran" menjadi gelar "piting gangsir"
      Gelar dua jajaran pun berubah menjadi piting gangsir, kapal-kapal pemburu armada kelima kini berpindah ke ujung kiri dan kanan dari jajaran kapal perang yang tengah melaju. Kapal pemburu yang berlapis-lapis jumlahnya itu segera melesat maju meninggalkan jajaran sambil mempersiapkan senjata cetbang mereka. 
      Tugas kapal pemburu ialah menyerang kapal bendera lawan. Sementara dalam formasi gelar dua jajaran tidak bisa dilakukan untuk menghadapi kekuatan musuh yang memasang formasi lebih lebar dan besar dalam jumlah itu. Armada keempat Mandarang tidak mengubah gelar "biting kambang" (lidi terapung) rupanya mereka terlalu percaya diri dengan kekuatan sebesar itu.  Gelar "dua jajaran" armada kelima bisa-bisa malah membuat musuh mudah mengepung dengan "biting kambang" mereka dan membuat armada Gde Sadiarta tak bisa berkutik lagi.
      Armada keempat dan Armada kelima Angkatan Laut Majapahit memiliki kekuatan hampir separoh dari kekuatan Majapahit secara keseluruhan.
      Armada kelima yang dibawa Gde Sadiarta yang dibawanya itu memang bukan kekuatan seluruhnya dari Armada Laut Jawa. Sebagian armada kelima telah ditugaskan untuk tetap menjaga wilayah bagian barat perairan Laut Jawa.
      Gde Sadiarta berusaha sekali lagi agar tidak terjadi tembak-menembak di antara armada Majapahit, "Naikkan isyarat agar armada keempat segera meninggalkan dan menjauhi laut Jawa!" Isyarat pun segera diberikan kepada Armada keempat agar segera menjauh dari Laut Jawa dan kembali ke Laut Selatan. 
      Mereka, armada keempat rupanya bukan mematuhi isyarat penguasa perairan di selatan Pulau Madura itu akan tetapi malah terus maju menantang.
      Narman melaporkan lagi, di atas kapal bendera Mandarang telah terpasang bendera isyarat "siap bertempur".
      Pimpinan Armada Kelima memutuskan untuk meladeni pertempuran laut dan memerintahkan memberi isyarat "siap menghadapi pertempuran" kepada seluruh armada.
      Laksamana Gde Sadiarta tertegun menyaksikan betapa besar ukuran kapal bendera Armada Keempat. Juga kapal-kapal pengiringnya yang jumlahnya sebanyak itu, dari mana mereka membangun armada sebesar itu. Ia tidak habis pikir mengenai itu. Kali ini ia sungguh berusaha lebih memusatkan perhatian pada pertempuran laut sangat berat ini.
      Gde Sadiarta dan Mandarang tidak jauh berbeda kedudukannya di daerahnya sendiri. Dua-duanya merupakan pewaris potensial kekuasaan di kerajaaan sendiri, oleh sebab itu mereka ditarik ke Majapahit agar tidak merecoki pemerintahan yang menjadi bawahan Majapahit.
      Kebijakan bagi Armada Laut Majapahit ialah memang memungkinkan untuk memelihara armadanya dengan berbagai sumber dari wilayah kekuasaannya. Maka yang terjadi kemudian ialah persaingan dari masing-masing Armada untuk menunjukkan kelebihan dan kebesarannya sendiri.
****
Turino yang sedang berada di kapal pemburu itu telah bersiap di belakang cetbangnya. Peluru-peluru cetbang sebesar buah kelapa itu telah disusun rapi. Pemuda itu berasal dari daerah Karangsetra, ia bertekad pertempuran sekali ini harus dimenangkan dengan dirinya dapat keluar dalam keadaan hidup.
      Ia telah berjanji kepada tunangannya untuk berdinas pada Angkatan Laut selama dua tahun. Setelah menyelesaikan masa dinas itu ia akan pulang kampung dan hidup sebagai nelayan seperti yang lainnya.
      Tanpa pernah menjadi prajurit Angkatan Laut maka anak kecil pun tahu bahwa siapapun tidak akan sanggup melawan bajak.
      Kapal bendera yang menjadi sasarannya itu tampak begitu besar, Turino telah bersiaga, begitu mendekati sasaran maka pemburu-pemburu itu mulai melepaskan cetbangnya sambil terus berputar-putar cepat terus mengelilingi sasarannya. Kapal pengiring yang menjaga kapal bendera armada keempat segera saja menjadi sasaran tembak puluhan pemburu yang datang dari kiri kanan "piting gangsir" dari Armada Kelima dan setelah menyingkirkan kapal pengiring dilanjutkan dengan terus menembaki kapal bendera Mandarang. 
      Sekali ini tembakan Turino mengenai lambung kapal, dan sekali lagi mengenai tiang agung kapal bendera itu.
     Kapal-kapal pengiring Armada Keempat yang masih selamat terus  sibuk melayani serangan pemburu-pemburu Gde Sadiarta. Pada akhirnya kapal pengiring itu tak mampu bertahan dan mulai terpisah dari kapal bendera.
      Kebiasaan awak pemburu kapal Majapahit menorehkan pisau pada lengan dan menutup lukanya dengan jelaga setiap kali kapal musuh berhasil mengenai tembakannya dan tenggelam. 
      Sudah sembilan torehan di lengan Turino demikian juga yang dilakukan oleh teman-temannya sekapal.
      "Kalau kapal bendera ini tenggelam terkena tembakan maka satu torehan besar akan menyilang," katanya dalam hati.
      Tanpa ada kapal pelindung lagi kapal bendera yang terlalu besar itu pun akhirnya menjadi sasaran empuk cetbang pemburu, dan kini mulai terbakar layar-layarnya. Tiang agungnya pun sudah patah tertembak. Kapal itu kini tidak mampu lagi memimpin armada.
      Gde Sadiarta begitu melihat kapal bendera Mandarang tidak berdaya segera menghentikan pertempuran dan memerintahkan pemburu untuk mengusir armada keempat meninggalkan laut Jawa dan kembali ke Laut Selatan melalui Selat Bali.
      Menjelang senja pendaratan pasukan itu pun berjalan mulus dilakukan sebagaimana misi yang diemban Armada Kelima. Tiga titik pendaratan berlangsung dan para prajurit yang diturunkan ke darat itu akan memasuki medan pertempuran darat di wilayah Lumajang.
      Menjelang gelap Gde Sadiarta memerintahkan kapal untuk bersauh di tengah laut pada suatu jarak dari tempat ia mendaratkan pasukan. Esok pagi ia akan melanjutkan perjalanan kembali ke Gresik untuk melaporkan kepada Sri Maharatu mengenai jalannya pertempuran oleh adanya pembangkangan Armada Keempat Majapahit.

***** 

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 12:30 AM