April 6, 2018

Republik Desa dan jatidiri bangsa

Republik Desa dan jatidiri bangsa Indonesia

mbah subowo bin sukaris

Akhir-akhir ini situasi politik di tahun politik 2018, semakin tidak menunjukkan jatidiri "bangsa Indonesia". Musyawarah untuk mufakat dan gotong-royong salah satu sendi "demokrasi" asli bangsa, dan "republik desa" sebagai bentuk "pemerintahan" selama berabad telah dilupakan. Seolah mereka yang menang atau kalah dalam pemilhan umum adalah suatu sumber sah daripada kebenaran absolut dalam berbangsa dan bernegara.
     Tidak usah berpanjanglebar, situasi dunia yang sedang dilanda krisis perdagangan global "perang dagang" seolah hal yang terjadi di planet lain. Tak butuh perhatian. Perhatian penguasa dan "oposan" dengan segenap energi tetap dicurahkan untuk menjadi pemegang sah membawa arah politik yang utama sesuai keinginan masing-masing.
      Sejak Presiden Tiongkok, ketua tertinggi PKC berjumpa dengan petinggi Korut, Amerika Serikat mulai menabuh genderang perang dagang terhadap Tiongkok. Persahabatan dua negeri Komunis di pesisir Timur benua Asia itu rupanya membuat Pemerintahan Trump ketar-ketir. Ditingkahi dengan Rusia yang selama ini menjadi target serangan Britania Raya, membuat kedua negeri bertetangga itu memadukan kekuatan militer dan lainnya. Dunia diambang krisis besar, yang seperti diucapkan oleh politisi kubu oposisi bahwa Indonesia Bubar 2030.
     Baru saja "mingkem" menyatakan kejutan itu, tiba-tiba dalam dua puluh empat jam, menjadi kenyataan. Rusia dan Tiongkok bersatu menghadapi Amerika Serikat, seperti yang ada dalam buku "Ghost Fleet". Indonesia menuju skenario 2030 selama perang dagang belum usai, merasai dampak global tanpa pandang bulu.
     Dalam buku karangan ahli strategi politik dan intelijen itu disebutkan Rusia dan Tiongkok berhasil menghancurkan teknologi Amerika, sehingga hanya satu pilihan bagi US untuk melawan, dengan kapal perang yang serba manual. Perang dagang hanya pembukaan, atau testcase. 
     Gontok-gontokan, dan serangan terbuka terhadap lawan politik bukanlah jatidiri "bangsa Indonesia". Dan jatidiri bangsa Indonesia adalah "sokoguru" kebudayaan Timur.
     Kehancuran Majapahit dipicu oleh serangan Tiongkok, di samping faktor lainnya dari dalam negeri, antara lain korupsi.
     Tiongkok yang memiliki kekuatan ekonomi nomor dua dunia itu bisa saja dan mungkin memenangkan perang dagang. Walau berbagai kajian para ahli ekonomi dan politik mancanegara menyatakan tiada yang bakal keluar sebagai pemenang dalam perang dagang ini.
     Kemenangan Tiongkok, berarti kehancuran bagi negeri Indonesia. Kemenangan Amerika mungkin belum tentu Indonesia mengalami hal itu. Itulah pelajaran dari sejarah Majapahit, lagi pula semasa Majapahit belum ada itu negeri Paman Sam. 
     Kejutan besar pada 1997 berupa krisis moneter jelas satu faktor utama yang menggulingkan Orde Baru. Dan penemuan teknologi faximile telah membuat Sovyet Uni bubar. Pada menjelang kejatuhan Orde Baru, internet provider baru saja masuk Jakarta, berita-berita politik bawah tanah bebas beredar, itu juga faktor yang merontokkan rezim Soeharto.
     Medsos, dan gadget telah berulang kali coba menghancurkan Jokowi, ada alumni sekian-sekian yang bekerja menggunakan kecanggihan teknologi untuk mengumpulkan masa. Itu tidak sesuai dengan jatidiri bangsa Indonesia. Teknologi bukan lagi di tangan manusia yang mengendalikannya. Akan tetapi yang sebaliknya terjadi, manusia semakin dikendalikan robot. Robot yang berbentuk internet dan gadget dan variannya itulah yang mengendalikan manusia. Superkomputer mengendalikan semua arus lalulintas dunia maya. 
     Sekian untuk sekali ini

*****
Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 10:21 AM

No comments: