September 1, 2018

Arus Balik, Impian Kejayaan Nusantara

Arus Balik, Impian Kejayaan Nusantara

mbah Subowo B. Sukaris

"Semasa Prabu Hayam Wuruk Anumerta (-1389), Majapahit masih jaya di perairan Nusantara. Kapal-kapal perang Majapahit berlayar dengan gagah menjaga dan menghalau perompak di segenap sudut perairan Majapahit: Samudera Hindia, Samudera Pasific, Laut Arafuru, Laut Tiongkok Selatan dan perairan Mindanao," dongeng yang terus berdengung bertahan selama berabad.
    Tiongkok mulai menjamah perairan Nusantara begitu Sang Baginda wafat. Armada Tiongkok dengan diam-diam menyebar harta benda ke segenap bandar di berbagi kawasan Majapahit: berupa emas, permata, dan segala jenis barang mahal lainnya untuk menggoyahkan pengaruh pusat atas kerajaan di kawasan Majapahit, hasilnya ialah mereka mulai mengadakan pembangkangan pada pemerintah pusat.
    Dongeng itu masih segar dalam ingatan di awal abad kedupuluh satu ini berubah menjadi kenyataan. Tiongkok menjelma menjadi kekuatan ekonomi dunia. Adakah itu menjadi berkah atau musibah bagi Negeri Nusantara ini? Dapat diambil satu taktik cerdas yang dijalankan Tiongkok di negeri Srilanka ialah menggelontorkan piutang tanpa batas, untuk selanjutnya mengubah tagihan piutangnya menjadi konsesi mengelola salah satu pelabuhan laut negeri macan itu.
    Dengan memberikan utang besar kepada Republik Nusantara ini adakah Tiongkok sedang mengincar sesuatu? Misalnya Selat Malaka yang strategis itu. Entah pulau mana yang ingin dikuasainya dengan kekuatan piutangnya pada negeri ini.
    Di jaman Sriwijaya abad ketujuh masehi perguruan Buddha di sisi Timur pulau Sumatera yang menghadap Selat Malaka itu ramai dikunjungi pelajar dan yang terbanyak dari Tiongkok. Arus ilmu pengetahuan bergerak ke Utara dari wilayah Nusantara. Juga di masa Majapahit arus perdagangan rempah-rempah dan bahan obat-obatan mengalir dari Nusantara ke Utara dan ke Barat melintasi India menuju ke wilayah sebelah Barat.
    Kini, modal, barang, tenaga kerja semua saja dari segenap arah mengarah ke Nusantara. Dari Utara bisa disebutkan Tiongkok, Korea, Jepang, Taiwan dan seterusnya barang-barangnya membajiri Nusantara. Dari sebelah Barat, semua saja, modal, budaya, senjata, dan sebagainya mengalir menuju Nusantara. Arus mungkinkah membalik lagi dari Selatan ke Utara, dan dari Timur ke Barat?
    Sekian untuk sekali ini.


Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 7:17 PM

No comments: