Showing posts with label presiden ri. Show all posts
Showing posts with label presiden ri. Show all posts

Diktator, Fasis, dan Otoriter jadi Pahlawan?

 Diktator, Fasis, dan Otoriter jadi Pahlawan?

mbah subowo sukaris

Bumi Manusia itu sebuah buku yang menarik, mengisahkan jaman kolonial Belanda. Dan apa yang terjadi....dibreidel di jaman Suharto. Ya, atas perintah Suharto pada menteri P dan K, waktu itu Sjarief Thayeb.

     Bumi Manusia karya salah seorang tahanan Orde Baru yang dibuang ke Pulau Buru, tanpa sidang pengadilan. Begitu juga ribuan tahanan politik lainnya diangkat jadi anggota PKI oleh rejim Suharto, kemudian diasingkan ke Pulau Buru, Plantungan, Salemba, dan bui-bui lainnya. Pantaskah rejim yang mem-PKI-kan simpatisan/pengikut/pemuja Presiden Sukarno diberi gelar pahlawan?

    Lewat Suharto jadi anggota PKI jadi gampang (dikit-dikit terlibat g30s), sebab menurut orang PKI ori, susah banget jadi anggota penuh PKI, harus melalui berbagai tahapan, tidak semudah makan di warteg.

     Pembunuhan dalam perang saudara yang terjadi pada 1965 antara PKI dan NU tidak dihentikan oleh Suharto selaku orang yang memegang "Supersemar", pantaskah diberi gelar pahlawan? Dan paling miris pada serangan 6 jam di Yogya, menurut cerita Kol. Abdul Latief, bahwasanya Suharto enak-enakan makan soto sementara anak buahnya menyabung nyawa (Abdul Latief 1999: Suharto terlibat G30S).

     Begitulah sedikit mengenai sepak terjang "Bapak Pembangunan" yang mau diberi gelar pahlawan. Kalau jadi dapat gelar pahlawan, penulis khawatir, banyak tapol-tapol yang dipenjarakan dengan tuduhan ngawur "terlibat g30s" akan bangkit dari kubur!!!

     Sekian untuk sekali ini.

*****

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 12:49 PM

Apa ide awal makan bergizi gratis?

 Apa ide awal makan bergizi gratis?

mbah Subowo

Ide awal dari wacana di atas ialah mengontrol kekayaan ekonomi NKRI untuk tujuan tertentu. Bagaimana caranya? Seperti kita lihat sejak "makan bergizi gratis" digulirkan lantas timbul berbagai langkah dan alasan seperti efisiensi birokrasi pemerintahan, pengurangan anggaran di berbagai sektor, lembaga, departeman, dan sebagainya. Dan lantas mendirikan lembaga keuangan semacam Danantara, bank emas. Itu semua adalah cikal bakal munculnya ide "makan bergizi gratis". Itu semua yang terjadi adalah sebaliknya dan bukan alasan adanya program "makan bergizi gratis".

    Jadi bukan karena ide "makan bergizi gratis" lantas dilakukan efisiensi birokrasi akan tetapi "makan bergizi gratis" adalah semacam kompensasi daripada semua kebijakan di atas era pemerintahan 2024-2029.

    Untuk mengetahui tujuan sebenarnya semua yang disebut di atas, mari kita lihat dan tunggu saja hasilnya hingga 2029. Apa sekadar persiapan untuk memenangkan periode kedua? Apakah ada perbaikan taraf hidup rakyat jelata? Apakah ada kebijakan yang menguntungkan rakyat semacam salah satu contohnya: sertifikat tanah gratis, penghapusan tunggakan pajak kendaraan, diskon token listrik, dan paling utama apakah rezim ini kelak mampu berdikari di bidang ekonomi, kebudayaan, dan politik?

    Sekian untuk sekali ini.

*****

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 10:57 AM

Kisah Prabowo Sang Penerus Jokowi

Kisah Prabowo Sang Penerus Jokowi

Mbah subowo

Melalui jalan berliku jauh sebelum berdirinya Partai Gerindra besutan Prabowo berbagai narasumber menyaksikan Prabowo mencari semacam platform tentang citra diri dan calon partainya agar tampil mulus di depan publik, mengingat citra yang melekat kuat pada dirinya ialah sebagai pemimpin militer  sekaligus anak-mantu Soeharto. Soeharto tampil berkuasa setelah sukses dengan “creeping coup d’etat” melengserkan kekuasaan Bung Karno dan menjebloskan para pendukungnya ke dalam bui tanpa proses pengadilan.

     Ia (Prabowo) bertanya, “Apa saja yang perlu digaungkan lanjut dikerjakan agar Aku bisa diterima segala macam kalangan, baik pendukung Soeharto maupun lawan politik Soeharto?”

    Jawaban yang paling pas dan diterima oleh Prabowo ialah semacam usul agar sejak awal tampil di hadapan public menggambarkan dirinya sebagai “Sukarno Kecil” alias mengamalkan dan mendukung segala ajaran Bung Karno antara lain “Trisakti Bung Karno”.

   Lima tahun silam, pada usai gelaran pilpres 2019 Jokowi tak pelak lagi dan tanpa ragu ambil ancang-ancang kelak pilih Prabowo sebagai suksesor (pengganti) melanjutkan programnya sekaligus menjadi tameng terhadap para lawan politiknya.

    Langkah awal Jokowi yang menggegerkan tatkala Jokowi-Prabowo mengisap pipa perdamaian mengingat mereka baru saja ber“dapuk” sebagai musuh bebuyutan pada pilpres 2019.

    Dengan mengisap pipa perdamaian maka “rebut-ribut kecurangan” usai, selanjutnya Jokowi menganugerahkan posisi menteri  pertahanan pada rivalnya itu.

   Kini menjelang akhir jabatan Jokowi 2024 dan Prabowo yang tahu diri didukung oleh Jokowi sengaja tanpa ragu memasang strategi “balas budi” dengan memilih Gibran yang “lolos” dari lubang jarum “MK” sebagai pasangan dalam pilpres yang kemudian dijuarainya itu.

    Prabowo yang tampak seolah begitu “tergantung” pada Jokowi masih merasa perlu mendongkrak Kaesang ambil bagian pilgub DKJ. Dengan demikian kelak andai Kaesang sukses memimpin salah satu provinsi itu maka lengkap sudah kekuatan dan kerjasama Jokowi-Prabowo ala “glembuk solo” dalam mengendalikan dan mengamankan segala kebijakan politik baik semasa Jokowi berkuasa hingga selanjutnya masa pemerintahan di tangan Prabowo.

    Menengok kilas balik sebelum Prabowo meraih kemenangan: kepiawaian Jokowi “cawe-cawe” tidak diragukan -- begitu piawai dan andal -- bukan hanya mengatur “keluarganya” tapi juga partai-partai pendukungnya, dan lebih dari itu mampu mengeliminir atau “mengkhianati” partai pengusung dirinya yang telah berjasa dalam pilpres 2014.

    “Cawe-cawe” Jokowi memang jos-gandos, seorang presiden mampu hampir menguasai berbagai macam partai lain, mengatur dan mengarahkan ketua partai mereka, dan seterusnya. Jokowi “tegel” mengorbankan partai pendukungnya sendiri. Ia tidak ambil peduli dicap “tidak tahu” diuntung, "tidak tahu" berterima kasih oleh kalangan petinggi partai yang amat-sangat berjasa memberikan “pulung gaib wahyu keprabon” guna menduduki kursi singgasana RI 1.

    Strategi Jokowi cs (bersama keluarganya) yang kompak seirama dalam memisahkan diri mereka dari ikatan partai yang begitu besar jasanya boleh jadi hanyalah salah satu varian daripada taktik dan strategi “ala glembuk solo”.

     Boleh juga diberi gelaran taktik dan strategi “gelembuk solo” tingkat dewa, mirip sekilas akan tetapi beda dengan strategi yang dijalankan oleh presiden RI kedua dalam meraih takhta dan singgasana RI 1 yang memakan begitu banyak korban.

    Jokowi bukan hanya berhasil memukau rakyat Indonesia dengan citranya yang “pro” dia juga sekaligus mengendalikan hampir semua para petinggi partai pendukungnya dalam menjalankan roda pemerintahan.

   Semua hal di atas itulah yang telah menerbitkan keheranan sekaligus kekaguman Prabowo pada sepak-terjang Jokowi.

    Akhir kata “glembuk solo” adalah “kecerdasan” orang-orang solo dalam upaya untuk survive di jagad persilatan kehidupan maupun dalam dunia lain semacam politik praktis.

    Sekian untuk sekali ini.

*****

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 11:10 AM

Ramalan Joyoboyo tentang Gibran

 Ramalan Joyoboyo tentang Gibran

mbah subowo

Gibran ikut pilpres karena punya popularitas di atas rata-rata, mengapa Gibran begitu terkenal dan populer? Jawabannya dia anak presiden, lantas kalau bukan anak presiden.....? Demikian pertanyaan boleh dibuat maupun dijawab seterusnya.

   Fakta dalam sejarah: sosok manusia pilihan di bumi, entah raja, kaisar, presiden, orang suci, dan tokoh pemimpin lainnya, siapapun dia punya satu mata ujian dalam kehidupan atau semasa dia berkiprah: bagaimana kelak dari sifat dan watak keturunannya. Atau lebih lebih tepat perilaku anak-anaknya. Apakah mencoreng buruk muka ortunya, atau justru melukis keindahan pada wajah ortunya. Atau paling tidak apakah sang anak sekadar merepotkan ortunya, atau justru anugrah bagi ortu dan masyarakatnya, dan sebagainya.

    Orang tua bisa mendidik anaknya dengan segala kemampuan yang dimilikinya, tidak mudah untuk mengarahkan anak sendiri. Malah terkadang orang tua "nyerah" dengan kehendak sang anak. Dengan kata lain tiap ortu belum tentu mampu mengontrol sepenuhnya kehidupan dan masa depan sang buah hatinya. Anak yang baik kelak akan berguna bagi masyarakatnya, dan sebaliknya.

   Di jaman medsos serba canggih ini popularitas lebih mudah diraih di satu sisi, di sisi lain ialah mendompleng sosok ortunya. Sebagai gambaran di atas, salah satu indikator mengukur popularitas seseorang bisa dilihat dari keaktifannya di medsos dan dari jumlah pengikut pada akun medsos seseorang. Dukungan politik pada tokoh idola atau "ngefans" di jaman sekarang bisa diraih melalui gawainya, dengan kata lain popularitas serta kekuasaan cukup mudah digapai dalam dunia maya. 

   Fenomena Gibran anak presiden ikut nyapres, bisa dinilai sebagai bukti bahwa memanfaatkan medsos dengan bijak serta baik, dalam dunia digital khususnya, adalah upaya maksimal lingkaran kekuasaan saat ini untuk menjaga kesinambungan program para penguasa tertingginya. Dan juga mengamankan diri mereka bagi yang bersalah maupun bagi yang tidak bersalah selama berkuasa dari tuntutan hukum apapun kelak di masa depan.

   Kembali pada judul di atas, Joyoboyo yang didapuk sebagai peramal ulung di Nusantara pada salah satu bait syair ramalannya: "sing suwarane seru oleh pengaruh" bisa diterjemahkan kelak di masa depan barang siapa yang populer, paling terdengar suaranya atau punya pengikut dalam jumlah besar di medsos akan memiliki pengaruh di dunia nyata, juga dalam menggapai kekuasaan politik.

    Sebagai contoh kasus masa kini (menjelang pilpres 2024) anak penguasa Nusantara yang begitu populer: Gibran. 

    Untuk menilai apakah Gibran memiliki sikap dan kenegarawan atau pemimpin yang baik (jika kalah atau menang dalam pilpres 2024), bagaimana kelakuan dan wataknya jika kalah atau menang, maka kita tunggu saja agar sang waktu kelak yang akan menjawabnya. 

     Sekian untuk sekali ini.

*****

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 5:55 AM

Inilah bedanya Ganjar dan Prabowo

 Inilah bedanya Ganjar dan Prabowo

mbah subowo

Ganjar tidak pernah meminta dirinya menjadi capres 2024. Ganjar "kebetulan" terpilih oleh ketua umum parpol di mana dirinya bernaung. Sosok Ganjar kali ini pemimpin yang tidak meminta diri sendiri menjadi seorang pemimpin ataupun penguasa nomor satu di NKRI. Itulah sekadar mengenai Ganjar.

    Prabowo mencalonkan dirinya sendiri dengan dukungan elit partai yang dipimpinnya. Dengan sadar Prabowo mencalonkan dirinya berulang selama beberapa kali pilpres di masa sebelumnya. Sayang sekali ia belum mendapat hasil maksimal. Prabowo memang tangguh dan tidak pernah mengenal berputus asa untuk maju berkali-kali dalam pilpres.

    Dari perbedaan di antara kedua kontestan pilpres 2024, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri.

   Awam menganggap Ganjar cuma "wayang" partai. Sebaliknya Prabowo sungguh independen. Jika ditelaah lebih lanjut mana yang lebih baik: seorang yang sengaja mengangkat dirinya sendiri jadi calon penguasa atau seorang yang tidak berniat menjadi penguasa NKRI namun dipilih sebagai calon  penguasa oleh institusinya?

   Sekali lagi jika ditilik secara subyektif dari sudut pandang berbagai jurusan hasilnya tentu dapat diketahui kelebihan dan kekurangan dari kedua tokoh kontestan pilpres di atas. Selamat memilih!

   Sekian untuk sekali ini.

****

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 8:53 AM

Inilah lawan terberat Ganjar

 Inilah lawan terberat Ganjar

mbah subowo

Ganjar memang tidak berpengalaman dibanding Prabowo. Namun Ganjar punya satu modal dukungan besar dari "Jawa". "Jawa" pada akhirnya yang menentukan kemenangan dan kekalahan para capres. Siapa pun orangnya.

     Dengan munculnya ketiga capres belum resmi terdaftar, rasanya lawan Ganjar yang sejati belum muncul hingga detik ini. Prabowo dan Anies memiliki pendukung yang berbeda dengan pendukung Ganjar.

     "Serangan fajar" ataupun "serangan lainnya" biasanya sangat menentukan arah pilihan rakyat mengambang. Pada hari H itulah arah dukungan para pemilih seolah digiring atau merasa tersihir untuk memilih calon tertentu dengan kriteria dan alasan tertentu. Seolah ada "bisikan gaib", entah dari mana asalnya. Itu semua di luar kontrol akal pikiran manusia biasa.

     Kita tunggu saja deklarasi "jagoan" koalisi baru... dan muncul tidaknya lawan terberat Ganjar sama-sama memperebutkan suara "Jawa".

     Sekian untuk sekali ini.

*****


Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 6:17 PM

Inilah Ramalan Pemenang Pilpres 2024

 Inilah Ramalan Pemenang Pilpres 2024

mbah subowo

Ganjar nyata jadi lawan terberat Prabowo pada pilpres 2024.... Diperkirakan hanya ada tiga kontestan pasangan capres-cawapres pada kontestasi pilpres 2024. Ganjar PDIP diperkirakan berkoalisi dengan KIB (Golkar, PAN, PPP). Sedangkan Prabowo tetap dalam KKIR bersama PKB. Sedangkan Anies tetap dalam Koalisi Perubahan.

    Pada putaran pertama andai satu kontestan tersingkir, maka suaranya akan mendukung di antara kedua calon tersisa yang terus maju. Andai pada putaran pertama pasangan capres-cawapres dari Koalisi Perubahan tersingkir maka dukungan dari massa Koalisi Perubahan dialihkan mendukung kembali Prabowo (seperti pada 2019 yang lalu). Amien Rais menyatakan hal tersebut di berbagai plafon digital. Namun andai yang tersingkir justru Prabowo maka para pendukung Prabowo diperkirakan sebagian besar akan mengubah haluan untuk mendukung pasangan capres-cawapres yang diusung PDIP+KIB, Ganjar Pranowo. Dan satu lagi yang terakhir andai Ganjar Pranowo tersingkir pada putaran pertama, maka massa PDIP+KIB sebagian besar akan mengalihkan dukungan pada pasangan capres-cawapres PKB-Gerindra yakni Prabowo.

    Dari analisis sementara di atas maka dapat disimpulkan calon terkuat dan imbang adalah Prabowo dan Ganjar. Namun yang namanya takdir bisa berkehendak lain, bukan? Orang kejawen bilang tidak peduli siapapun orangnya asalkan dapat "pulung gaib wahyu keprabon" maka dialah Presiden RI Kedelapan!!!

    Perlu ditambahkan orang kejawen yang itu juga, bilang: "pulung gaib" yang wujudnya seberkas sinar cahaya misterius akan mengarah ke kediaman salah satu kontestan capres-cawapres 2024 yang otomatis tak dapat diganggu gugat akan muncul sebagai 'sang pemenang'.

    Sekian untuk sekali ini.

*****

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 3:08 PM

Siapa capres dukungan Jokowi?

 Siapa capres dukungan Jokowi?

mbah subowo

Berikut inilah nama yang "direstui" oleh Jokowi untuk "nyapres": Ganjar, Prabowo, sedangkan nama lainnya belum muncul. Lantas siapa capres yang "heboh" tapi "enggak" dipedulikan Jokowi? Jawabannya mudah, "Mas Anies B.".

    Jokowi memang terang-terangan mendukung nama disebutkan di atas karena dianggap mau meneruskan "program" nya, ya, program pembangunan IKN salah satunya, dan juga kebijakan hubungan ekonomi yang "mesra" dengan Republik Rakyat Tiongkok, Jepang, dan sebagainya.

    Sedangkan nama capres yang tidak dipedulikan, apa karena Jokowi tahu kebijakan yang bakal ditempuh kelak jika menang dianggap "antitesa" ? Hanya Jokowi yang tahu, bukan?

    Sekian untuk sekali ini.

*****

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 6:57 AM

Siapa pasangan paling tepat bagi Prabowo?

 Siapa pasangan paling tepat bagi Prabowo?

mbah subowo

Selain satu nama yang sudah fix: Cak Imin tentu masih banyak kandidat lain yang memungkinkan Prabowo lebih mulus lagi bisa memenangkan pilpres 2024. Apalagi jika terdapat parpol besar lainnya yang bergabung dalam Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya, tentu sosok baru cawapres 2024 bisa dipertimbangkan lagi.

     Selain daripada sosok cawapres yang berasal dari parpol baru, berikut ini nama yang bisa dipertimbangkan sebagai cawapres Prabowo yaitu: Sandiaga Uno mungkin berada pada urutan paling atas (dari Gerindra sendiri), selanjutnya ada nama-nama profesional ataupun seperti Erick Thohir, Sri Mulyani, bahkan sosok lain yang paralel dengan Cak Imin yaitu: Kofifah, Yaqut, masih tepat untuk mendampingi Prabowo. 

     Sekian untuk sekali ini.

*****


Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 11:10 AM

Siapakah calon presiden PDIP 2024?

 Siapakah calon presiden PDIP 2024?

mbah subowo

Partai yang satu ini serba rahasia tampaknya..... Mari main tebakan siapa calon RI-1 2024. Dari nama yang populer kerap muncul di media mungkinkah capres PDIP itu adalah: Bambang Pacul, Budiman S., Hasto Kristiyanto, Puan, Ganjar, Utut Adianto, Djarot Saiful, F.X. Hadi R,, Gibran, Maruarar, Ahmad Basarah, atau Ahok BTP?

    Siapapun yang kelak dipilih tentu bisa dibayangkan paling tidak sebading atau sekelas dengan Jokowi. Apa kriteria bagi yang masuk nominasi dan kemudian dipilih itu karena banyak jasa pada partai? Atau orang yang kira-kira membawa kebesaran Partainya? Boleh jadi semua harus diletakkan di atas pundaknya: kebesaran Partai, banyak jasa pada organisasi, bersih, dan tentu saja yang patuh serta populer, dan terakhir yang paling penting mengayomi "wong cilik".

    Sekian untuk sekali ini.

*****

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 2:55 PM

Inilah calon Presiden RI ke-8

Inilah calon Presiden RI ke-8

mbah subowo

Anies dicalonkan Nasdem sendirian, Ganjar dicalonkan PSI sendirian, Airlangga dicalonkan Golkar sendirian, Prabowo dicalonkan Gerindra sendirian, Puan dicalonkan PDIP sendirian, dan seterusnya. Ya, dicalonkan sebagai presiden RI kedelapan. Yang disebut di atas ada yang sudah fix ada juga masih rumor. Masing-masing parpol dengan perolehan kursi DPR RI sedikit (PSI), hingga paling banyak atau memenuhi parliamentary threshold yakni PDIP.

    Watak partai di NKRI begini, ada oposan setengah hati, oposan murni, musuh bebuyutan walau satu platform. Ada lagi yang jalan tengah, ada lagi yang.....

     Dari sekian nama tentu ada yang benar-benar sukses menjadi capres, dan tentu ada yang gagal nyapres karena tiadanya dukungan parpol dalam bentuk koalisi mengejar PT. Walau gagal jadi capres masih ada kemungkinan jadi cawapres, tergantung jualan yang paling laris merebut hati parpol.

     Kok belum ada yang berkoalisi resmi sepaket dengan capresnya? Tampaknya semua masih mengambil sikap "ojo kesusu-nya" Jokowi, khan. 

     Oia, dalam menentukan capres pilihan masing-masing parpol melalui berbagai cara. Konvensi rakyat, pucuk pimpinan partai, rembuk rakyat, dan masukan dari parpol wilayah cabang, dan sebagainya. Semua menjaring nama capres dengan cara dianggap sudah "konstitusional" menurut garis partai masing-masing.

     Para pemilih sudah menunggu siapa-siapa yang muncul jadi capres, untuk dijadikan pilihan hatinya. Syukur-syukur calon yang muncul telah lama dinantikan, kalau tak cocok mending pilih alternatif yang terbaik dari yang ada saja, bukan?

    Seru tentunya dengan munculnya koalisi yang sudah jelas pilihan capresnya, bagaimana jika tiba-tiba partai A, B, C berkoalisi mendukung si X? Masih perlu waktu untuk nego dulu. Apa keuntungan partai pendukung, jadi menteri kah? atau jadi wapres kah?

     Ya, ya paling banter 2023 baru muncul pembentukan koalisi-koalisi sekaligus capresnya. Yang nunggu-nunggu bakal kehabisan parpol, keburu digaet koalisi yang paling dulu terbentuk, bukan?

     Jadi untuk bentuk koalisi serius jangan "ojo kesusu" lagi tapi "cepetke wae". Memang masih dinamis suasananya, mana yang jelas menang tahap koalisi sekaligus capresnya itulah yang boleh dipilih alias nimbrung. Walau belum tentu juga bisa memenangkan pilpres kelak.

     Dalam menentukan langkah berkoalisi tahapan awal ialah memantau para capres belum 'jadi' dan juga kira-kira siapa saja pengusungnya. Selanjutnya menjatuhkan pilihan berkoalisi sehingga capres favorit agar bisa mengubah yang belum 'jadi' bakal punya kans terbesar untuk menang.

     Untuk 2022 tunggu dulu koalisinya yang resmi, ya, biarkan terbentuk dulu.

     Sekian untuk sekali ini.

*****


Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 9:32 AM

Boyongan ke IKN Nusantara

 

Boyongan ke IKN Nusantara

Mbah subowo

Bung Karno ingin pindahkan ibu kota Jakarta yang notabene pusat pemerintahan warisan kolonial Belanda. Pulau Kalimantan menjadi lokasi pilihan Bung Karno dengan satu alasan: penduduknya “welcome” dengan pendatang dari Jawa. Di masa orde baru terbukti dengan para transmigran Jawa “kerasan” tinggal di pulau yang malang-melintang dengan berbagai sungai-sungai besar.

     “Boyongan” untuk pindah ke rumah baru menurut tradisi kearifan lokal di pedalaman Jawa biasanya dilakukan sangat sederhana. Pertama sang tuan rumah membawa bantal, ya, bantal untuk tidur, sebagai simbol sudah menjadi penghuni rumah baru. Jika rumah baru tersebut berada di seberang sungai maupun laut dari asalnya tempat tinggal lama, maka biasanya untuk melakukan “boyongan” juga sang penghuni baru harus membawa sepasang itik, ya, itik sebagai simbol hewan yang mampu menyeberangi sungai.

    Hanya itu saja prosedur kearifan lokal di pedalaman Jawa untuk boyongan menempati rumah yang baru dibangun. Sebagai analogi, untuk pindah atau boyongan dari Jakarta ke IKN baru “Nusantara” tentu saja tidak cukup hanya membawa bantal dan sepasang itik, akan tetapi juga Para Yang Mulia bisa melakukan “kerja harian”, misalnya sekali saja menandatangani suatu keputusan penting di lokasi IKN baru. Ya, menandatangai suatu Surat Keputusan di IKN Nusantara sebagai simbol pemerintahan sudah boyongan menempati lokasi baru.

     Sekian untuk sekali ini.

*****

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 7:58 PM

Ramalan Joyoboyo tentang wilayah Papua

Ramalan Joyoboyo tentang wilayah Papua

mbah subowo
Bung Karno dan Gus Dur dua presiden RI yang bisa dijadikan panutan sebagai “bapak” yang baik dalam mengurus Papua secara bijaksana. Semasa pemerintahan Presiden Soekarno “gunung emas” Papua masih utuh dan tidak ada niatan membiarkannya dikelola oleh Negara asing selama beliau berkuasa…. Kita semua mengetahui Trisakti Bung Karno (mandiri dalam ekonomi) yang konsisten dijalankan masa itu, tanpa asing, aseng, apalagi asing dari jurusan Barat. Hasilnya memang waktu itu kehidupan rakyat jadi sengsara, tapi sumber daya alam seluruhnya di wilayah NKRI masih utuh menunggu dikelola anak negeri. 
     Mandiri dalam bidang ekonomi Bung Karno secara umum berarti sumber daya alam semuanya dalam posisi menunggu dikelola oleh sumber daya manusia anak bangsa sendiri. Bung Karno yakin dengan pendidikan yang baik kelak mandiri dalam ekonomi terwujud di masa depan.
     Presiden Gus Dur yang marak ke tampuk kekuasaan atas kursi RI satu walau cuma “sebentar”, akan tetapi kala itu masih sempat memberi kebijakan publik yang dihargai hingga saat ini: wilayah Irian Barat boleh berganti nama menjadi “Papua” dan dari sebagai suatu simbol budaya membolehkan “bintang kejora” dikibarkan dalam kegiatan budaya Papua.
     Dapatkah dibuktikan Papua bagian sah NKRI?
    Dalam buku “Meluruskan Sejarah Perjuangan Irian Barat” oleh Dr. Soebandrio (Perdana Menteri RI era 1960-an), dijelaskan secara lengkap kronologi pengakuan Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa Papua adalah sah wilayah NKRI.
     Secara umum, salah satu pedoman mengenai wilayah asal-muasal NKRI ialah sebagai satu kesatuan wilayah “Hindia-Belanda” Nederlandsch-Indie. Papua termasuk di dalam wilayah Hindia-Belanda, an sich!!
     Secara kebetulan pula mengenai lebar wilayah NKRI terdapat dalam “Ramalan Joyoboyo”, seorang raja Kediri, Jawa Timur, yang hidup pada abad keduabelas masehi terkenal sebagai nujum paling masyhur se nusantara. Kala pemerintahan Joyoboyo, sebagian tanah Papua (yang mirip kepala burung” berada dalam pengaruh keamanan Angkatan Laut Kerajaan Kediri). Berikut adalah bait syair dalam “Ramalan Joyoboyo” mengenai Tanah Papua:

Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit
Negarane ambane saprawolon (Joyoboyo 1100-an)

"Kelak di masa depan akan berkuasa seorang raja/pemimpin yang berkharisma dan memiliki kemampuan militer adiluhung memiliki prajurit dalam jumlah besar. Lebar negaranya seperdelapan lingkaran bumi."

Lebar wilayah NKRI secara geografis 95’ BT – 141’ BT. Lebar wilayah = 141-95-1= 45’. Lebar lingkaran planet bumi adalah 360’, bisa dihitung perbandingan lebar NKRI vs lebar Bumi, maka wilayah NKRI adalah 45’ : 360’ = 1/8 alias seperdelapan lebar dunia.
     Mengingat posisi perbatasan NKRI paling timur adalah titik koordinat 141’ berada tepat di perbatasan Papua (Indonesia) dan Papua Nugini, maka wilayah Papua (Indonesia) termasuk bagian dari “seperdelapan lingkar dunia” wilayah yang diperintah oleh raja/pemimpin dalam syair di atas.
     Sekian untuk sekali ini.
*****



Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 7:20 AM

Ramalan Jayabaya Pemerintahan Periode Dua Presiden Jokowi

Ramalan Jayabaya Pemerintahan Periode Dua Presiden Jokowi

mbah subowo
Pemilihan Umum Presiden RI untuk masa jabatan 2019-2024 dengan klimaksnya sang pemenang segera dilantik oleh MPR pada empat hari mendatang, 20 Oktober 2019.
     Parpol pengusung dan parpol bukan pengusung naga-naganya akan berkoalisi dalam kabinet maupun dalam lembaga legislatif sebagian atau seluruhnya.
     Koalisi pasca pemilihan umum presiden itu merupakan antiklimaks dari pilpres tempo hari yang sangat luar biasa penuh “kegaduhan politik”.
    Fenomena yang tengah terjadi saat ini (menjelang pelantikan sang pemenang pilpres) dalam dunia politik berbingkai NKRI yang tampak membingungkan bagi para pengamat politik dari mancanegara (Aussie) sebenarnya telah diprediksi oleh peramal masa depan yang paling ulung se-Nusantara Prabu Sri Aji Joyoboyo (abad keduabelas masehi -1100-an).
     Inilah bait syair yang menggambarkan dinamika politik menjelang pelantikan Presiden Jokowi periode kedua:
   ‘kanca dadi mungsuh – mungsuh dadi kanca’ –      
‘selot-selote mbesuk wolak-waliking zaman teka’
     Kelak di masa depan orang Jawa (Nusantara) akan mengalami datangnya suatu jaman serba terbalik. Dan salah satu tanda lambat-laun akan tiba jaman terbalik (dalam dunia politik): teman menjadi lawan -- lawan menjadi teman.
     Koalisi dan aliansi strategis antarparpol dalam kabinet dan parlemen periode 2019-2024 yang tengah berlangsung adalah tahapan historis demi derap langkah selanjutnya dalam menyongsong pilpres 2024.
     Sekian untuk sekali ini.

                    *****
Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 9:15 AM

Inilah ibukota baru presiden baru

Inilah ibukota baru presiden baru 2019

Subowo.

Presiden Jokowi boleh jadi akan mengambil keputusan penting untuk mengundangkan pemindahan ibukota NKRI dari Jakarta ke suatu wilayah sebelum beliau menginjak masa purnabakti (pertama) pada Oktober 2019. Siapapun presiden baru terpilih nanti yang akan ditentukan begitu selesai hasil penghitungan suara oleh KPU secara realcount dalam pilpres 17 April 2019, maka presiden baru (terpilih) akan memikul tanggung jawab membangun secara fisik ibukota baru sesuai undang-undang yang berlaku.
    Mendudah sejarah mengenai wacana pemindahan ibukota sejak pada akhir tahun limapuluhan tatkala itu Presiden Soekarno memilih Palangkaraya sebagai pengganti Jakarta. Situasi tahun-tahun tersebut masih dalam tahap perjuangan mengusir kolonialisme di Kalimantan Utara. Soekarno memilih Palangkaraya dengan asumsi wilayah jajahan Inggris di Kalimatan Utara akan menggabungkan diri dengan NKRI. Sehingga Pulau Kalimantan seluruhnya milik NKRI. Wilayah kolonialis Inggris tersebut sebenarnya tinggal selangkah lagi bergabung dengan NKRI. Tatkala itu Soekarno berada di atas angin, karena segenap rakyat dan para tokoh Kalimantan Utara siap menggabungkan diri dengan NKRI. Akan tetapi berkat campur tangan secara intelijen dan militer, serta berkat kelihaian kaum kolonialis Inggris telah mengubah jalannya sejarah. Kalimantan Utara sesuai keinginan kaum kolonialis pada akhirnya menjadi wilayah Kerajaan Malaysia Timur.
    Untuk kondisi saat ini bagaimana dengan strategi atau pilihan Soekarno masih berlakukah menjadikan Palangkaraya sebagai ibukota baru NKRI? Mengingat wilayah ini sekarang  memang menjadi “dekat” dengan wilayah perbatasan dengan negara tetangga Malaysia.
    Palangkaraya boleh saja tetap dipilih sebagai ibukota NKRI, akan tetapi dengan sendirinya perlu pertimbangan lagi menyangkut soal keamanan dan sebagainya sesuai dengan kondisi saat ini, mengingat Pulau Kalimantan bagian Utara adalah wilayah negara tetangga. Sama seperti Pulau Papua Barat NKRI yang juga terdapat wilayah perbatasan panjang dengan Papua Nugini yang notabene memiliki bagaian wilayah hampir separoh dari Pulau Papua.
    Jika pilihannya adalah wilayah (pulau) terluas Kalimantan sebagai bahan pertimbangan secara kebetulan dalam Sejarah paling awal Nusantara 450 SM ditemukan prasasti sejarah berada di wilayah Kutai, Krtanegara, Kalimantan Timur. Wilayah tersebut bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih sebuah lokasi pusat pemerintahan baru pengganti Jakarta. Sebagai wilayah yang jelas-jelas pernah dihuni oleh nenek-moyang (penduduk awal Nusantara) yang memiliki kebudayaan tinggi pada tahapan paling awal sejarah Nusantara. Boleh juga pendapat resmi di atas dibantah bahwa wilayah lain di Nusantara, a.l. Sulawesi, Jawa Barat dan lainnya juga memiliki kebudayaan tinggi dan lebih awal lagi sebelum 450 SM, berbagai klaim baru tersebut tentu harus dibuktikan dengan suatu temuan berupa benda arkeologis yang mencantumkan angka tahun pembuatannya.
    Realisasi pemindahan ibukota di tengah situasi penghitungan suara oleh lembaga KPU pasca pilpres 2019 dalam situasi politik yang masih “panas” sebenarnya kurang baik dalam konteks suasana membangun “rumah baru” pusat pemerintahan NKRI.
    Benarkah situasi pasca pilpres tidak/kurang kondusif? Jawabannya simpang-siur, tergantung siapa yang mengungkapkan hingga berbagai macam argumen telah datang dari para cerdik-cendikia baik tokoh sipil maupun militer.
    Menurut hemat penulis jawaban yang pas mengenai “kecurangan pilpres 2019” dimiliki oleh anak-anak kecil.
    Dalam suatu gelanggang permainan apapun biasa terjadi anak-anak menyerukan, “Liiiicik…!” oleh anak-anak di wilayah Pasundan. “Wiiiilet….!” oleh anak-anak di pedalaman Jawa. Atau, “Cuuuurang…!” oleh anak-anak di selingkaran wilayah Betawi, dan seterusnya.
    Itulah ucapan anak-anak yang berseru biasanya jika merasa kalah, atau sedang terdesak lawan main, atau pun sekadar seruan anak-anak memecah kesunyian.
    Ada kisah nyata Presiden RI keempat Gus Dur, saking kerap menghadapi situasi kegaduhan tertentu terutama di lingkungan legislatif akhirnya mengatakan, “Anggota DPR seperti anak TK (taman kanak-kanak).” Mungkin saking ributnya mereka satu sama lain jadi sama seperti anak TK.

    Sekian untuk sekali ini.
Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 11:20 AM

“Jalur Sutra” Jokowi dan Pemenang Pilpres 2019

“Jalur Sutra” Jokowi dan Pemenang Pilpres 2019

Mbah Subowo.

Salah satu “andalan” periode pertama masa pemerintahan JKW-JK yakni infrastruktur Jokowi yang seiring sejalan Jalur Sutra Tiongkok memang bukan suatu kebetulan belaka. Tiongkok tidak serta merta menanam investasi besar di sektor tersebut. Investasi Tiongkok tersebar di puluhan negara, NKRI justru tidak dilalui rute jalur sutra, kecuali perairan Selat Malaka, Selat Sunda, dan sekitarnya. Jalur sutra Tiongkok punya satu tujuan utama menjual barang produksinya dengan harga murah terutama di sepanjang jalur sutra. Biaya kargo udara maupun laut yang mahal segera berubah sangat murah dengan adanya kereta api kargo jalur sutra antarbenua.
     Sama seperti Jokowi yang melontarkan gagasan lantas dibuktikannya harga bbm di Papua sama dengan di wilayah lain, demikian pula Tiongkok bisa menjual “Xiaomi” sama murah di sepanjang jalur sutra yang terbentang ribuan kilometer melintasi benua Asia dan Eropa, mulai dari Tiongkok hingga Britania Raya.
    Jokowi memang seiring sejalan secara kebetulan, tol trans jawa, tol trans sumatera, tol laut dari Sabang sampai Merauke, semua saja “kebetulan” seiring dengan ambisi Tiongkok tersebut yang dicanangkan 2013, setahun lebih dulu dari Jokowi marak jadi RI 1.
    Pilihan Jokowi untuk mengantisipasi jalur sutra darat dan laut Tiongkok maupun Jepang ialah menarik pembeli itu sendiri untuk datang ke sini. Dengan daya tarik pariwisata yang luar biasa mengandalkan kekayaan alam daratan dan lautan, para pembeli itu bisa “sekali tepuk dua lalat mati” bertraveling sekaligus belanja lebih murah dari barang yang sama produk Republik Rakyat Tiongkok. Ya, keunikan saja yang bisa mengalahkan produk massal negeri Paman Mao itu. Anugerah Illahi berupa kekayaan alam yang dimiliki NKRI tidak tertandingi oleh negeri manapun termasuk negeri bersistem partai tunggal kelas pekerja Tiongkok.
    Poros Jakarta-Peking (Beijing) Bung Karno, maupun poros Wilwatikta-Campa Prabu Hayam Wuruk menjadi cerita Jalur Sutra Nusantara di masa lalu. Poros maritim dunia Jokowi adalah masa kini.
    Kembali pada judul di atas: di tangan Jokowi insya Allah NKRI tidak menjadi negeri seperti Suriah maupun Venezuela. Akan tetapi di tangan Prabowo NKRI insya Allah menjadi negeri yang sangat disegani dunia seperti semasa Bung Karno berkuasa. Kini “pilihan” di tangan Anda!!
    Dalam tradisi Jawa seseorang sebelum ia terpilih menjadi pemimpin akan kejatuhan pulung gaib (biasanya berbentuk cahaya di malam hari yang tepat berada di sekitar lokasi kediaman sang calon pemimpin), dalam konteks ini sebagai  pemegang kekuasaan (presiden).
    Sebagaimana diketahui pulung gaib akan jatuh kepada seseorang sesuai kehendak Illahi.  Dan kehendak Illahi itu salah satunya bakal mengejawantah dalam pilihan Anda pada 17 April 2019.

****





Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 9:12 AM

Ramalan Pilpres 2019

Ramalan Pilpres 2019

mbah subowo b. sukaris

Hubungan erat saling berkorelasi tentu ada bagi konstituen, hanya seberapa besar hal itu terjadi? Pertanyaannya ialah antara Pilgub DKI 2017 dan Pilpres 2019 akankah berbanding lurus dengan pilgub DKI 2012 dan Pilpres 2014 ? -- yang akan dapat kita saksikan bakal terungkap dan terbukti kebenarannya tidak lama lagi. Siapapun pemenangnya tidak menjadi soal, asalkan sama-sama sportif. 
     Kembali ke masa lalu: Kemenangan pasangan Anies-Sandi dalam pilgub DKI beberapa bulan yang lalu memang mengejutkan sekaligus .... Pasangan BTP yang sedang diujung tanduk terkena kasus hukum tentu saja harus menerima pil pahit dengan kekalahan tipisnya. Rasanya sulit dipercaya dan tidak mungkin jika yang terjadi adalah sebaliknya: yang kalah muncul sebagai pemenang dan yang menang jadi pecundang. Kini baru disadari bahwa dalam pilgub dki 2017 memang terjadi hal yang tidak wajar.
     Kemenangan dalam pilgub yang para pesertanya dalam kondisi anomali itu sebenarnya tidak wajar juga jika berpengaruh besar meramaikan serta mengubah jalannya perolehan suara masing-masing paslon dalam pilpres 2019 mengingat wilayah DKI adalah pusat pemerintahan NKRI.
     Strategi Jokowi dan Prabowo berbeda dalam hal siapa yang melakukan estafet jabatan dari pilgub ke pilpres. Jokowi menang dalam pilgub 2012 dan melakukan estafet pada pilpres 2014 dan sukses meraih kemenangan atas lawannya.
     Sandi yang adalah orangnya Prabowo berusaha mengulang sukses yang serupa dengan perjalanan Presiden Jokowi. Dalam pilgub 2017 Sandi sebagai cawagub berhasil memenangkan pilgub DKI 2017, selanjutnya akan melakukan estafet jabatan pada pilpres 2019 sebagai cawapres.... akankah ia mendulang kesuksesan yang sama dengan langkah yang telah dirintis oleh Presiden Jokowi? Walahualam bisawab.

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 6:36 AM

Menakar peluang Jokowi dalam pilpres 2019

       Menakar peluang Jokowi dalam pilpres 2019

             mbah subowo bin sukaris


SBY sukses memenangkan dua periode pilpres secara penuh  waktu (10 tahun) menduduki kursi RI 1. Soeharto sukses 32 tahun berkuasa berkat dirinya terus sebagai calon tunggal tiap pilpres selama enam periode melalui sistem pilpres tak langsung waktu itu. Bagaimana dengan peluang Jokowi ke depan? Jokowi memiliki kemampuan berlebih sekaligus juga kekurangan tertentu. Faktor kelebihan Jokowi dalam memegang pucuk pimpinan RI niscaya akan menutup semua kelemahan dan kekurangannya. Dalam beberapa tahun ke depan sisa periode pemerintahannya maka timbangan Jokowi sesuai prestasinya sendiri yang menentukan kemenangan maupun kekalahannya dalam pilpres 2019 mendatang.

     Prestasi kerja dalam segala segi yang tidak bisa berimbang dari sang petahana pada akhirnya membuka peluang meraih kemenangan bagi pendatang lama maupun baru dalam pilpres mendatang.
        Tatkala SBY pegang kekuasaan memang dia yang terbaik dalam jamannya, demikian pula Suharto menjadi malapetaka sekaligus anugrah dalam jamannya. Jokowi belum tuntas pegang rol pemerintahan sehingga belum bisa dinilai untuk saat ini. Rapor sementara Jokowi memang masih berimbang antara kelebihan maupun kekurangannya dalam memimpin NKRI selama 3 tahun.
Sebagai gambaran masa lalu rapor SBY selama dua periode total 10 tahun adalah baik, berimbang --;kelebihan dan kekurangannya jika ditimbang hampir setara.  Kita semua sama-sama menunggu bagaimana rapor Jokowi dalam 2 tahun ke depan.
      Salah satu petunjuk efektif tidaknya kerja organisasi adanya rantai komando yang efektif. (Dalam kasus peluncuran rudal Korea Utara yang tepat tengah malam, PM Jepang tidak efektif bereaksi pegang kendali pasukan beladiri Jepang).
       Sebagai ilustrasi di era 60-an ketua umum Partai Komunis Indonesia: Dipa Nusantara Aidit mengadakan uji coba seberapa efektifnya rantai komando Partai dari pusat kepada daerah paling terpencil. Hasilnya diperlukan dua hari setiap instruksi Partai sampai ke seluruh wilayah Indonesia.
      Salah satu ciri khas bernilai plus Jokowi yang efektif dalam mengelola negara ialah selalu memberi  komando terbuka kepada segenap aparatnya melalui berbagai kesempatan dan segala bidang tatakelola yang juga diliput media massa dalam berbagai bentuk yang menambah laju  informasi beliau di samping itu memang ada komando resmi berdasarkan aturan yang berlaku.

     Sekian untuk sekali ini.

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 10:37 AM

Ahok sang "Putra Mahkota" 2024

Ahok sang "Putra Mahkota" 2024

mbah subowo bin sukaris

Dalam prediksi kami sebelumnya mengenai Ahok: Ramalan Pemenang Pilgub DKI 2017 Kali ini kami tidak akan membahas lagi di sini apakah Ahok menang atau kalah dalam putaran kedua pilkada/pilgub DKI 2017. Jika Ahok kalah bisa saja dia jadi menteri, bukan? Kali ini kami meneropong kedepan delapan tahun mendatang. Selepas Jokowi turun panggung (jika ia berhasil memenangkan pilpres periode kedua 2019-2024), Prediksi kami Ahok pada 2024 akan maju sebagai wapres atau presiden RI kedelapan (entah partai mana yang tertarik mencalonkannya).
      Akan menjadi menarik jika posisi Ahok pada 2024 sebagai capres, sebagai cawapres itu hal biasa saja mengingat sebagaimana ia pernah tampil sebagai pemenang (bersama Jokowi) dalam pemilihan langsung sebagai wakil gubernur DKI pada 2012 yang silam.
      Sebagai capres 2024 jelas ujian berat bagi seorang Ahok, beragama minoritas, berbangsa minoritas, dan sebagainya. Kemenangan Ahok dalam putaran pertama pilgub DKI 2017 adalah luar biasa, mengingat ia person berasal dari serba minoritas! Dalam pilgub DKI putaran kedua ia bisa menang ataupun kalah, tergantung dari "pulung gaib wahyu keprabon" jatuh kepada dirinya atau tidak!
      Ngomong-ngomong "kesalahan" Ahok selama ini, sebenarnya ia berbicara dengan dialek "komunitas Tionghoa" yang serba tajam, dan rasanya bikin shock orang lain, mengapa? Ahok menggunakan tata bahasa Indonesia yang dicampur-baurkan dengan kaedah tatabahasa asing (mandarin, hokkian, dsb). Hasilnya memang seperti yang terjadi sekarang ini misalnya disebut dalam kasus "penistaan agama". Semua itu terjadi dan itulah akibat dialek campuran bahasa Indonesia yang dicampurkan dengan pola pikir (bahasa, dialek) bangsa Tionghoa. Misalnya kata "bohong" dalam pengertian mereka (orang Tionghoa) digebyah-uyah sebagai sesuatu sifat yang jelek, jahat dan sebagainya terhadap ucapan orang lain. Mereka biasa menggunakan kata "bohong" untuk menjelaskan sesuatu yang "lain dan berbeda" dan pengertian kata bohong itu berbeda bagi non-Tionghoa. Ada lagi kata "pakai" yang biasa juga menjadi ragam dialek khusus yang biasa dipergunakan dalam komunitas Tionghoa di Nusantara ini. Kata "pakai" bagi non-Tionghoa berbeda maknanya dibandingkan komunitas Tionghoa yang "malas" menggunakan kata lainnya untuk menyatakan sesuatu.
      Untuk mengajari orang Tionghoa berbahasa yang benar, memang perlu kesadaran mereka sendiri dengan "tidak malas" menggunakan kata yang lebih beragam ditambahkan lagi bangsa Tionghoa perlu belajar bahwa budaya bangsa lain a.l. Jawa, Sunda, Ambon, dsb, itu memiliki unggah-ungguh, basa-basi. Bangsa Tionghoa ini memang kurang basa-basi dan malas menggunakan kata-kata yang beragam makanya terjadilah miskomunikasi dengan penduduk beragama mayoritas yang sensitif. Menyalahkan Ahok atau membenarkannya perbuatan dan ucapannya itu tidak mungkin selama belum dipahami bahwa orang Tionghoa "emang gitu, ngomongnye!" Untuk memberi pelajaran ya sebenarnya gak usah repot-repot, ......

*****

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 6:58 PM

Awas!! Demo besar-besaran perangkap kaum kapitalis, liberalis, dan nekolim

Awas!! Demo besar-besaran perangkap kaum kapitalis, liberalis, dan nekolim

mbah subowo bin sukaris

Negara Kesatuan Republik Indonesia sejak jaman VOC tetap kaya dengan hasil alam dan sumber daya manusia melimpah ruah. Hingga awal abad keduapuluh satu ini sumber berkat dari anugerah Illahi itu tidak juga menjadi kering.
      Oleh sebab itu kaum nekolim, neoliberal, neo-neo lainnya sejak VOC hingga hari ini tetap menjadikan ibu pertiwi sebagai sasaran empuk guna mengeruk kekayaan alam dan sumber daya manusia, serta menjadikan NKRI sebagai pasar besar atas hasil produksi barang konsumtif dari negeri nekolim.
      Menyongsong adanya demo besar-besaran di ibukota, semua saja merasa sesuatu.... Memang betul di satu sisi gebyar demo 4 November 2016 bertujuan membela akidah, syariah, dan lainnya dari agama tertentu. Akan tetapi semua itu tidak dilakukan spontan tentu dan pasti ada dalangnya yang bisa jadi adalah "tangan tuhan". Dan tangan-tangan tak kasat mata itu sedemikian rupa hebatnya hingga menjangkau sudut tertentu yang tak pernah terpikirkan secara ilmiah maupun terdeteksi dengan cara lainnya.
     Tujuannya jelas tangan-tangan tak kasat mata itu ingin mengadu-domba antara komponen bangsa di negeri ini, dalam hal ini lakon wayang akan diperankan oleh penganut fanatis agama tertentu bersama pemerintah yang sah (DKI Jakarta). Keduanya juga tidak menyadari bahwa mereka sedang "digarap".
      Demo adalah alat kaum proletar untuk melawan pemilik modal tempat mereka bekerja dan menggantungkan hidupnya. Demo merupakan pengakuan akan eksisnya suatu wujud demokrasi Barat. Demokrasi asli indonesia adalah "Gotong Royong".
      Memprediksi daripada hasil akhir dari demo bisa ditebak, para pendemo menghadapi aparat bersenjata kepanjangan tangan negara (NKRI). Aparat negara yang pegang bedil jelas lebih unggul kekuatan mereka dibandingkan para pendemo, bukan? Mengutip sedikit dari dogma marxisme "kekuatan bersenjata adalah kekuatan yang selalu membela modal, atau kekuatan bersenjata selalu setia untuk menjaga negara cq kaum pemodal. Patut kiranya di sini ditambahi satu lagi kaum bersenjata juga akan melindungi eksistensi dirinya sendiri".
      Satu lagi jika alasan dari para pendemo itu wajib merasa "Ghirah" atau perasaan marah, cemburu, dan sebagainya atas tindak tertentu dari kelakuan aparat negara (Ahok). Maka dengan demo itu ada kepentingan mobilisasi massa yang bisa menunjukkan eksistensi mereka dalam ajang pilkada DKI Jakarta beberapa bulan mendatang. Itu pun memang sah-sah saja, bukan?
      Kita semua tahu bahwa NKRI bukan lagi negara otoriter, fasis, dan militeristik ala Orde Baru, kekuatan politik yang menjadi komponen bangsa dalam komposisi politik di NKRI jelas tetap memiliki keseimbangan alamiah dalam keadaan apapun. Karena itu tidak mungkin salah satu unsur kekuatan politik bisa menjadi kekuatan dominan di negara NKRI ini.
      Meminjam kajian teori Bung Karno, bahwa di NKRI kekuatan yang saling membentuk eksistensi negara berasal dari tiga unsur Nasasos yakni: Nasionalis, Agama, dan Sosialisme. Kami yakin jika ketiga unsur kekuatan politik dengan ideologinya masing-masing akan selalu seimbang secara alamiah sepanjang masa atau selama NKRI masih eksis di dunia ini.
      Dalam hitungan hari dua pihak saling berhadapan banteng: pendemo dan aparat. Dua kekuatan politik atau kepentingan kelompok yang memiliki tujuan masing-masing itu akan langsung bertemu di arena -- jalan-jalan ibukota. Mudah-mudahan tetap tertib seperti biasanya dan tidak timbul sesuatu pun yang tidak kita inginkan bersama.

*****.
Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 11:04 AM