October 30, 2019

Ramalan Joyoboyo tentang wilayah Papua

Ramalan Joyoboyo tentang wilayah Papua

mbah subowo
Bung Karno dan Gus Dur dua presiden RI yang bisa dijadikan panutan sebagai “bapak” yang baik dalam mengurus Papua secara bijaksana. Semasa pemerintahan Presiden Soekarno “gunung emas” Papua masih utuh dan tidak ada niatan membiarkannya dikelola oleh Negara asing selama beliau berkuasa…. Kita semua mengetahui Trisakti Bung Karno (mandiri dalam ekonomi) yang konsisten dijalankan masa itu, tanpa asing, aseng, apalagi asing dari jurusan Barat. Hasilnya memang waktu itu kehidupan rakyat jadi sengsara, tapi sumber daya alam seluruhnya di wilayah NKRI masih utuh menunggu dikelola anak negeri. 
     Mandiri dalam bidang ekonomi Bung Karno secara umum berarti sumber daya alam semuanya dalam posisi menunggu dikelola oleh sumber daya manusia anak bangsa sendiri. Bung Karno yakin dengan pendidikan yang baik kelak mandiri dalam ekonomi terwujud di masa depan.
     Presiden Gus Dur yang marak ke tampuk kekuasaan atas kursi RI satu walau cuma “sebentar”, akan tetapi kala itu masih sempat memberi kebijakan publik yang dihargai hingga saat ini: wilayah Irian Barat boleh berganti nama menjadi “Papua” dan dari sebagai suatu simbol budaya membolehkan “bintang kejora” dikibarkan dalam kegiatan budaya Papua.
     Dapatkah dibuktikan Papua bagian sah NKRI?
    Dalam buku “Meluruskan Sejarah Perjuangan Irian Barat” oleh Dr. Soebandrio (Perdana Menteri RI era 1960-an), dijelaskan secara lengkap kronologi pengakuan Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa Papua adalah sah wilayah NKRI.
     Secara umum, salah satu pedoman mengenai wilayah asal-muasal NKRI ialah sebagai satu kesatuan wilayah “Hindia-Belanda” Nederlandsch-Indie. Papua termasuk di dalam wilayah Hindia-Belanda, an sich!!
     Secara kebetulan pula mengenai lebar wilayah NKRI terdapat dalam “Ramalan Joyoboyo”, seorang raja Kediri, Jawa Timur, yang hidup pada abad keduabelas masehi terkenal sebagai nujum paling masyhur se nusantara. Kala pemerintahan Joyoboyo, sebagian tanah Papua (yang mirip kepala burung” berada dalam pengaruh keamanan Angkatan Laut Kerajaan Kediri). Berikut adalah bait syair dalam “Ramalan Joyoboyo” mengenai Tanah Papua:

Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit
Negarane ambane saprawolon (Joyoboyo 1100-an)

"Kelak di masa depan akan berkuasa seorang raja/pemimpin yang berkharisma dan memiliki kemampuan militer adiluhung memiliki prajurit dalam jumlah besar. Lebar negaranya seperdelapan lingkaran bumi."

Lebar wilayah NKRI secara geografis 95’ BT – 141’ BT. Lebar wilayah = 141-95-1= 45’. Lebar lingkaran planet bumi adalah 360’, bisa dihitung perbandingan lebar NKRI vs lebar Bumi, maka wilayah NKRI adalah 45’ : 360’ = 1/8 alias seperdelapan lebar dunia.
     Mengingat posisi perbatasan NKRI paling timur adalah titik koordinat 141’ berada tepat di perbatasan Papua (Indonesia) dan Papua Nugini, maka wilayah Papua (Indonesia) termasuk bagian dari “seperdelapan lingkar dunia” wilayah yang diperintah oleh raja/pemimpin dalam syair di atas.
     Sekian untuk sekali ini.
*****



Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 7:20 AM

No comments: