April 14, 2016

Inilah bedanya Mega dan Jokowi

Inilah bedanya Mega dan Jokowi

mbah subowo bin sukaris

Para pembenci Bung Karno itu ternyata ada. Bung Karno yang dianggap sekuler, Bung Karno yang pro-komunis, Bung Karno yang kolaborator Jepang, dan lain-lain. itulah hanya alasan mengada-ada untuk tidak mengkultus individukan sosok luar biasa tersebut. Sosok Bung Karno bagi pemujanya: ia penulis luar biasa, Bung Karno orator tiada tandingan, Bung Karno punya puluhan gelar Doctor Honoris Causa, Bung Karno yang bisa berpidato di depan sidang PBB menggunakan Inggris fasih berjam-jam membuat pendengarnya terkesima, dan seterusnya daftar panjang lagi.
     Pembenci dan pemuja Bung Karno tak pelak lagi akhirnya mengarahkan sasarannya kepada Megawati. Para pembenci yang memang ada itu tetap berlaku serupa pada Mega, juga para pemuja Bung Karno akan menaruh simpati pada Megawati.
      Jokowi yang bukan sangkutan dengan Bung Karno memang mungkin saja anak ideologis beliau. Tentu Jokowi anak ideologis Bung Karno, sebagaimana Mega mempu melihat potensi tersebut dalam diri Jokowi. Jika Jokowi bukan Sukarnois, barangkali Mega punya pertimbangan lain lagi soal jagoannya itu. Sukarnois itu menjunjung Trisakti, mandiri dalam politik, mandiri dalam budaya, mandiri dalam ekonomi.
     Apakah para pembenci Soekarno juga membenci Jokowi? Belum tentu jawabannya. Apakah pemuja Soekarno akan bersimpati pada Jokowi? Belum tentu juga. Jokowi berbeda dengan Mega, apalagi dengan sosok Bung Karno.
     Lebih tepatnya posisi Jokowi adalah di tengah-tengah antara Mega dan Soekarno.
     Sewaktu Megawati menduduki kursi nomor satu di Republik ini, para pemuja Soekarno cukup kecewa dengan sikap Mega tidak melakukan apapun terhadap posisi politik mendiang ayah kandungnya. Sehingga pada akhirnya para pengikut Soekarno hanya bisa mengelus dada belaka, hampir tak ada kebijakan Mega yang bertujuan mengembalikan kejayaan Indonesia di masa lalu -- era Soekarno. Pada era Jokowi ini era kejayaan masa lalu bukan hanya sebatas tahun enampuluhan, akan tetapi jauh ke masa silam di mana kerajaan Majapahit yang merupakan negara maritim terbesar di belahan bumi selatan. Itulah visi salah satu menteri Jokowi, dan tentu saja visi Jokowi sendiri. Jokowi melihat lebih jauh daripada Indonesia era kemerdekaan. Indonesia/Nusantara dimulai pada antara abad keduabelas masehi hingga abad kelimabelas itulah bagian dari visioner Jokowi.
     Sementara Mega yang selama puluhan tahun berpolitik berada di bawah tekanan Orde Baru Soeharto, tentu selalu bertindak hati-hati untuk tidak membahayakan dirinya sendiri dan partainya.
     Majapahit era Hayam Wuruk dan Republik Indonesia era Soekarno, merupakan era mandiri penuh kejayaan di mana peran Indonesia/Nusantara dengan segala sepak terjangnya dalam percaturan politik dunia sangat diperhitungkan oleh negeri lain. Secara ekonomi mungkin Majapahit lebih makmur dibandingkan era Soekarno. Secara politik era Soekarno lebih mempengaruhi secara global dibanding Majapahit. Akan tetapi secara militer baik era Soekarno maupun era Majapahit sama-sama disegani di dunia.
     Majapahit sanggup menjaga perairan Nusantara dari sasaran bajak laut dan perompak. Jokowi mencobanya juga. Laut Cina Selatan sejak Majapahit memang termasuk daerah kekuasaan Majapahit sekaligus terkadang termasuk dalam kekuasaan Tiongkok. Hal itu silih berganti tergantung kekuatan militer masing-masing antara kerajaan di belahan bumi selatan dan kerajaan di belahan bumi utara itu pada masa silam.
      To Laut Jokowi bukan sekadar harga semen di Papua sama dengan di Jawa, akan tetapi di balik itu terdapat visi Majapahit dalam menjaga perairan Maluku yang kaya rempah-rempah pada jamannya. Kini yang perlu dijaga agar tidak dijarah orang asing bukan rempah-rempah Maluku yang berharga di masa lalu melainkan kekayaan laut antara lain hasil laut berupa ikan, barang tambang berupa: cadangan gas dan minyak bumi, dan lain sebagainya.


*****
Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 5:58 PM

No comments: