Ramalan Joyoboyo mengenai 'blusukan' Jokowi

Ramalan Joyoboyo mengenai "blusukan" Jokowi

mbah subowo bin sukaris

Jokowi kini tidak lagi "blusukan" di dunia "marca" atawa nyata, akan tetapi beliau blusukan online saja mengingat ketatnya protokoler resmi istana.
     Sebagai pembanding Bung Karno dalam biografinya sering menerobos protokoler istana untuk bisa jajan sate di kaki lima, atau blusukan mengunjungi tempat lainnya.
     Blusukan ke segmen area "bawah" dan membahas masalah penemuannya ke permukaan publik itulah kepiawaian Jokowi sebelum menjadi orang nomor satu di negeri ini.
     Ngemeng-ngemeng beberapa hari belakangan ini (4/2016) di tubuh anggota dewan yang terhormat terjadi kejutan, orang yang selama ini bersuara dan bertabiat "vokal" telah tersingkir dan terjungkal dari kursinya dengan cara misterius. 
     Tokoh "vokal" yang tersingkir dari kursinya kini bukan lagi wakil "partai". Apa yang terjadi? Di masa lalu, tatkala getolnya Jokowi terus saja masih "blusukan" dan menghentikannya setelah menjadi orang nomor satu, mereka -- orang-orang "vokal" itu posisinya sangat dominan? Tokoh vokal yang banyak jumlahnya itu nyohor baik di situs berita cetak, dan media elektronik audio visual. 
     Kini dunia politik di negeri ini berputar berbalik arah lagi, dan tak dapat dipungkiri akibat pergeseran ini salah satunya bersumber dari suara dalam berbagai bentuk yang berasal dari warga dunia maya "netizen". 
     Suara para "netizen" itu sudah sedemikian rupa sangat mempengaruhi kehidupan dunia nyata. Kekuatan warga dunia maya berkat adanya dan didukung perangkat teknologi, mereka dengan mudah saling berbagi satu sama lain dalam skala lebih luas untuk menyoroti satu persoalan publik yang tengah jadi trending topik.
     "Blusukan" vs pencitraan merupakan dua hal yang bertolak belakang. Blusukan Jokowi yang tulus dilakukan itulah yang benar menurut kaedahnya, akan tetapi sebaliknya "blusukan" tokoh vokal yang berpamrih ingin mencari "nama" adalah pencitraan diri. 
     Sebenarnya mereka para "vokalis" itu tidak pernah blusukan ke bawah. Andai waktu diundur kembali.....
     Sebagai keterangan mengenai "blusukan" kita dapat mengutip ramalan kuno abad keduabelas masehi, "Sing suarane seru bakal oleh pengaruh..." Karya dalam bait ramalan Joyoboyo itu artinya, "Siapapun (anggota dewan) yang bersuara "vokal" akan jadi menentukan sekali arah mana keputusan kebijakan dalam forum sidang dewan yang terhormat."
     Dihimbau agar mereka (para Yang Terhormat) itu blusukan secara nyata sehingga tahu betul apa yang sedang dibutuhkan "di bawah" dan masalah penting apa ada di sana, dan selanjutnya membawa bunga rampai masalah tersebut ke permukaan publik: itulah tugas para kontributor dewan yang terhormat agar kelak dapat mengambil kebijakan yang pas dan sesuai kebutuhan publik.

*****

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 3:44 PM