December 19, 2012

Formasi intelijen Angkatan Laut Majapahit di Laut Cina Selatan

Formasi intelijen Angkatan Laut Majapahit
di Laut Cina Selatan

mbah Subowo bin Sukaris

1405 Masehi
Salah seorang putra selir Prabu Hayam Wuruk Anumerta dalam upaya membuang diri karena asmara tak sampai dengan penguasa jagad Majapahit Ratu Kusumawardhani memegang peran sebagai Kepala dinas rahasia kerajaan Majapahit berkedudukan di Campa.
     Resi Haking, tiada henti mengirimkani surat rahasia  menyangkut urusan keamanan di wilayah Utara Majapahit kepada Kusumawardhani.  Ia menjadi mata dan telinga bagi Majapahit sekaligus telah menjadi sumber keterangan dari istana bagi armada pertama Majapahit yang berada di perairan Laut Cina Selatan, Puni (Singkawang), Brunai, maupun Mindanao (Filipina). Armada pertama Majapahit di bawah pimpinan Laksamana Suhadi itu juga termasuk menjaga keamanan bawahan Majapahit: Pahang, Tumasik, dan Malaka.
     Kusumawardhani yang lebih memilih Wikramawardhana bahkan pada akhirnya tidak mengindahkan satu pun laporan rahasia yang mahapenting yakni mengenai gerak-gerik Cheng Ho yang gencar menyebarkan ajaran baru mulai dari Yunnan hingga Tiongkok Selatan.
     Siapa gerangan Cheng Ho ini? Keberhasilah Cheng Ho memarakkan ke singgasana Tiongkok bagi kaisar Yongle Huang Ti pada akhirnya menjadi saingan pribadi sang Kaisar.
     Kusumawardhani dari singgasana Majapahit untuk masa selanjutnya bahkan tidak pernah mau tahu apa isi laporan Resi Haking. Ia khawatir jangan-jangan itu berisi surat cinta.
     Sang resi yang membuang diri dari pusat Majapahit memang masih saudara kandung Kusumawardhani karena ia lahir dari rahim seorang selir Hayam Wuruk Anumerta.
     Oleh sebab itu tiada mungkin cinta di antara Resi itu dengan kaisarina dapat bersatu. Pada masa pemerintahan Suhita Bethari, Resi Haking mulai menaruh harapan baru apa yang dikemukakan dalam laporan rahasia akan mendapat perhatian dari Wilwatikta.
     Dalam satu laporan rahasia melalui kurir yang berlayar dari Campa hingga pelabuhan Gresik, sampailah ke tangan Kaisarina baru Majapahit Dewi Suhita Bethari.
     "Sejak Kublai Khan mengirimkan seribu kapal armada Tiongkok untuk menaklukkan Krtanegara pada 1292. Masa selanjutnya  kekaisaran negeri Tiongkok di bawah Mongol itu jatuh, dan selanjutnya kekuatan raja perang satu sama lain bertempur, di antara raja perang yang pada akhirnya keluar sebagai pemenang dalam memperebutkan Peking ialah raja perang Ming Jen Cu. Inilah awal dinasti Ming berkuasa. Beberapa kali kekuasaan berpindah dari dinasti Ming itu sendiri. Pada suatu kali tampillah Cheng Ho yang membantu Yongle merebut kekuasaan dari sesama klan dinasti Ming sendiri."
      "Yang Mulia Suhita Bethari,"
    Lanjutan dalam laporan itu, "Ma San Pao ini mendapatkan gelar tertinggi CEN dari kaisar Yongle, Cheng Ho. Sejak itu tiba-tiba saja terjadi pergerakan serentak orang-orang Tionghoa mulai dari di Barat daya Tiongkok mengalir ke Selatan mengisi bandar-bandar Majapahit. Bandar-bandar Majapahit yang diisi pendatang baru dari Tiongkok itu mulai menambah ramainya perdagangan dan juga kegiatan jasa antara lain di bandar Campa, Pahang, Malaka, Tumasik, Jambi, Puni, Brunai, Mindanao, hingga Palembang."
     "Yang Mulia Suhita Bethari harap berhati-hati karena mereka menyebarkan ajaran baru dewa yang satu. Majapahit adalah negeri Syiwa-Buddha, para raja-rajanya memeluk Syiwa, maka waspadalah terhadap ajaran baru ini! Dalam pengembaraan tugas sahaya yang terpaksa beralih memeluk Buddha, maka dapat sahaya ketahui bagaimana suara-suara dari talapuan pendeta Buddha biara-biara mulai dari wilayah pedalaman hingga bandar-bandar, bahwa mereka rata-rata tidak menyukai Cheng Ho yang menyebarkan ajaran dewa yang satu itu.
     Kaisar Yongle rupanya diam-diam merasa kewalahan menghadapi sepak-terjang Cheng Ho yang juga menyebarkan ajaran baru di berbagai lokasi di Tiongkok. Cheng Ho sering membisikkan sang kaisar agar menyerbu Majapahit. "Kekuatan Majapahit sangat detil kami ketahui, Yang Mulia. Mereka rapuh.... terutama angkatan lautnya."
     Yung Lok memang tidak bernafsu menyerang Majapahit seperti yang telah dilakukan Kublai Khan. Akan tetapi manusia yang satu ini harus diberi medan di luar Tiongkok. Dan dengan dalih mengagungkan negeri Tiongkok maka sang kaisar menyediakan dana tak terbatas untuk membangun sebuah armada kebesaran bagi Laksamana Cheng Ho.
      Pada akhirnya armada terdiri dari 60-an kapal berisi 40.000 prajurit itu sejak berlayar dari Shanghai yang diuntabkan langsung oleh sang kaisar, maka mulailah armada yang belum pernah dilihat sepanjang umat manusia itu berlayar menuju selatan. Jaring-jaring telik Cheng Ho mulai bekerja mengadakan pembersihan kontra telik sejak Campa hingga Malaka terutama terhadap kekuatan bajak, dan juga kekuatan Majapahit.
      Oleh keadaan yang mulai berubah itulah, Yang Mulia Suhita Bethari, telah memaksa sahaya memutuskan untuk memasuki pedalaman Campa dan terus menuju ke Tiongkok guna kepentingan keamanan beberapa pengikut sahaya. Untuk sementara Yang Mulia Suhita Bethari tidak usah mengirimkan apapun, begitulah penutup surat rahasia dari Resi Haking untuk terakhir kalinya.
      Sejak kedatangan armada kebesaran Tiongkok yang mengibarkan panji perdamaian dengan perbekalan harta-benda luar biasa akan tetapi juga yang diam-diam menyingkirkan jaring-jaring kekuatan Majapahit di Utara itulah untuk selamanya kekuatan armada pertama Majapahit yang mengawal perairan dan bandar Majapahit di Mindanao, Brunai, Puni, Pahang, Tumasik, Malaka, dan selanjutnya ke Selatan tak dapat lagi dipantau dari Wilwatikta.
*****
Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 4:49 PM