Rahasia Semburan Lumpur Lapindo Sidoarjo

Rahasia Semburan Lumpur Lapindo Sidoarjo


mbah subowo bin sukaris

Top Hits 100 hari pemerintahan SBY memanen badai di mana-mana yang mengarah langsung pada sang Presiden. Siapa kiranya menebarkan angin? Pada masa pemerintahan Gus Dur 2001, SBY, yang saat itu menjabat sebagai Menteri, ia berpartisipasi sebagai salah satu penulis yang menyumbangkan karya dalam buku berupa kumpulan tulisan dari 'sahabat' Bung Karno yakni "100 Tahun Bung Karno" berjudul "SBY dan Tri Sakti Bung Karno".
     Sejak 2001 itulah angka 100 terus mengiang-ngiang dalam benak beliau. Pada kabinet Indonesia bersatu jilid satu program seratus hari lima taun yang silam berjalan dengan mulus saja; salah satu faktor penting ialah JK berada di sisi SBY, sehingga meredam semua gejolak menyudutkan SBY dari Partai yang dipimpin JK itu sendiri.
    Jawaban, "Siapakah yang kini membikin badai dan angin ribut itu," dapatlah dengan mudah diduga: JK tidak lagi mengontrol Partainya sendiri agar tidak menyerang SBY. Apalagi JK sudah turun dari jabatan pimpinan partai dan diganti oleh AB.
    AB yang memiliki pengeboran gas alam, pt lapindo brantas, di Sidoarjo telah melakukan kesalahan besar dengan pengeboran yang sembrono menjadi miring, sehingga berakibat tenaga bumi keluar menyembur ke atmosfir sambil membawa lumpur cair yang menimbulkan bencana tertutupnya wilayah daratan pemukiman penduduk dengan cairan lumpur panas di wilayah seluas Porong, hingga saat ini AB atau ahli lain belum berhasil menjinakkan lumpur di daerah semburan Porong itu.
    Kembali ke masa silam yang terlupakan. Sejak Mojokerto menuju wilayah Porong itu telah dibangun terusan atau kanal pengendali banjir untuk menjinakkan sungai Brantas yang mengalir ke Surabaya oleh Prabu Erlangga pada tahun 1040-an. Sehingga wilayah Surabaya bebas banjir dan menghasilkan Sidoarjo menjadi wilayah pertanian baru yang sangat subur sehingga rakyat hidup makmur pada masa itu. Itulah salah satu karya Erlangga yang dahsyat dalam memakmurkan rakyatnya.
    Terusan Porong dibangun sekitar 1000 tahun yang silam, dan selama itu pula aliran sungai Brantas meresap ke dasar daerah Porong. Secara matematis aliran sungai Brantas itu tertampung dan mengendap selama 1000 tahun dan cadangan gas yang besar di daerah itu (terbukti  dengan pilihan pengeboran di lokasi itu) membutuhkan waktu 1000 tahun pula dapat berhentinya semburan lumpur yang kini tengah berlangsung. Alhasil untuk menghentikan semburan lumpur Porong akibat pengeboran ngawur itu tepat di lokasi yang dibangun oleh Prabu Erlangga itu menunggu waktu saja. Dan risiko membludaknya Sungai Brantas akibat kekacauan di terusan Porong bisa menjadi risiko baru yang sama dengan risiko 1000 tahun yang silam.
    Prabu Erlangga dikenal sebagai titisan Wishnu, dewa pembangun, merupakan dewa bagi kaum petani. Dapat dibayangkan bagaimana seribu tahun yang lalu untuk membangun terusan sepanjang puluhan kilometer itu tanpa alat-alat modern. Berapa banyak tenaga petani yang dikerahkannya, baik secara sukarela maupun tidak atas mau sendiri.
    Badai 1000 tahun yang tengah melanda AB akibat gagal usaha dalam mengeruk hasil tambang gas di Sidoarjo demi kepentingan pribadi dialihkan secara kilat kepada presiden SBY hanya dalam kurun singkat 100 hari pada awal masa pemerintahannya.
****

related post
Semburan Lumpur Lapindo dan Kutukan Pemberontak Majapahit