September 2, 2010

Soekarno korban perang dunia dingin



Soekarno korban perang dingin

Suar Suroso 

mbah sghriwo

Negeri sosialis yang kini tersisa sebagian besar berada di garis pantai timur benua Asia berturut-turut Republik Demokratik Rakyat Korea, Republik Rakyat Tiongkok, Republik Demokratik Vietnam. Jenderal MacArthur panglima tentara Amerika Serikat yang bersiasat sebagai panglima pasukan PBB berkeras untuk menghancurkan semua negeri sosialis yang bercokol di benua Asia tersebut. Jendral MacArthur menganggap ancaman komunis di Eropa dapat diselesaikan dengan melenyapkan negeri-negeri komunis tersebut. 
    Pada 1950-an MacArthur yang menjadi penguasa protektorat di Jepang kedudukannya lebih tinggi daripada kaisar Jepang sebagai jenderal panglima Sekutu pemenang perang dunia kedua yang belum lama berselang. Sebagai wakil Amerika serikat dia berkuasa menerima surat-surat dari dutabesar asing yang berkedudukan di Jepang.
    MacArthur juga seorang "panglima pasukan PBB" yang berusaha meluaskan medan peperangan di Korea hingga melewati perbatasan daerah Republik Rakyat Tiongkok di sungai Yalu.
    Pasukan Amerika Serikat dan negara Barat yang tergabung sebagai pasukan multinasional itu mau melenyapkan kekuatan militer dan negeri Republik Rakyat Demokratik Korea atau Korea Utara dari peta dunia. Gempuran pasukan "PBB" memang sudah berhasil merangsek melewati garis 38 derajat dan mencapai Pyongyang ibukota negeri Ginseng yang gagah berani itu bertahan dengan gigih di antara salju-salju.
    Sementara ini Mao Zhedong, Zhou Enlai, Zhu De dan lain-lain pimpinan Tentara Merah Tiongkok mulai mengadakan pertemuan untuk memutuskan membantu atau tidak membantu negeri tetangga yang sedang tertimpa musibah itu. Dan keputusan akhir pimpinan Tiongkok ialah membantu tetangganya yang sedang tertimpa bencana diserbu oleh tentara asing pimpinan Amerika Serikat.
    Zhu De salah seorang panglima Tentara Merah Tiongkok pun dikirim untuk memimpin pasukan Tiongkok yang disebut sukarelawan Tiongkok menyeberangi perbatasan dan masuk ke dalam wilayah Korea Utara. Pasukan Tentara Merah yang terkenal berdisiplin dan taat pimpinan itu mengenakan seragam putih-putih untuk menyamar di tengah hujan salju menjelang bulan Desember itu. 
    Senjata yang dipergunakan sukarelawan Tiongkok dan pasukan Korea Utara ialah siasat dan kecerdikan dalam melawan senjata modern dan bom-bom pasukan "PBB" sehingga berhasil memukul mundur pasukan asing dari garis 38 derajat dan musuh pun berlindung di garis 37 derajat.
    Pasukan komunis Tiongkok sekitar 200.000 itu pun meneruskan serangannya hingga memasuki daerah pertahanan musuh di garis 37 derajat. Karena logistik yang terlalu jauh maka akhirnya mengurungkan diri bertempur lebih jauh lagi. Pasukan gelap yang diam-diam membantu tetangganya itu pun setelah yakin pasukan Korea Utara dapat mengkonsolidasikan diri maka mengundurkan diri dari wilayah Korea kembali ke wilayah sendiri.
    MacArthur yang mengetahui Tiongkok mengirim pasukan secara diam-diam itu pun berusaha menggempur perbatasan untuk memancing Tiongkok membalas serangan sehingga perang meluas lagi. Tiongkok hanya mengirimkan Mig-Mignya tanpa berusaha mengirimkan pasukan Darat besar-besaran.
    Kegagalan MacArthur di medan Korea mengakibatkan jenderal ini pun dipecat sebagai panglima pasukan Amerika Serikat. MacArthur sering bertindak sendiri tanpa berkoordinasi dengan Washington. Jenderal baru pun dikirim ke Korea, akan tetapi ternyata kwalitasnya tidaklah sehebat MacArthur sehingga akhirnya Korea Utara dapat bertahan sampai hari ini.
Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 12:12 PM

No comments: