hasta mitra: Joyoboyo
Showing posts with label Joyoboyo. Show all posts
Showing posts with label Joyoboyo. Show all posts

Ramalan Joyoboyo “Jaman Edan”

Ramalan Joyoboyo “Jaman Edan”
mbah Subowo

Belum puas atau belum cukup kencang manusia mengendarai mobil balap F1, atau naik jet tempur F22, atau naik roket Falcon ke ISS. Langkah berikutnya dengan 20 persen kecepatan cahaya mengarungi ruang angkasa ke tatasurya bintang terdekat antara lain Proxima Centaury atau Betelgeuse. Hal di atas memang masih mustahil saat ini karena faktor propulsi penggerak yang masih lambat ketinggalan jaman.
     Einstein, dan penerusnya dengan perhitungan paling mutakhir saat ini bahwa untuk sebuah wahana mencapai kecepatan dan percepatan mendekati cahaya berbanding lurus dengan jumlah energi yang dibutuhkan. Semakin cepat maka semakin banyak energi yang perlu dibawa dalam perjalanan. Teknologi yang masih tahap teoretis antara lain dalam bentuk di”mampatkan”, seperti dalam konsep warp-drive.
     Keinginan manusia menjelajah tatasurya di bintang lain untuk tujuan melestarikan spesies dengan propulsi mesin warp-drive. Salah satu yang paling maju secara teoretis antara lain menciptakan gelembung warp di sekeliling pesawat angkasa adalah keinginan yang gila (edan, -jawa).
Ya, inilah jaman edan sebagaimana diramalkan oleh Prabu Joyoboyo dan penerusnya R.Ng. Ronggowarsito.
     Manusia ingin melestarikan spesiesnya dengan cara hidup di planet selain bumi. Ide semacam ini telah memicu awal jaman edan/gila.
     Ada lagi kehidupan sekelompok manusia yang dirancang di atas atmosfer sebuah planet. Bahkan hidup di dalam perut sebuah planet dengan tujuan untuk menghindari radiasi matahari. Misalnya planet tersebut tidak memiliki atmosfer atau terlalu tipis atmosfir yang ada.
     Berlomba membuat permukiman permanen di bulan, planet Mars, dengan berbagai cara memang sedang diwujudkan oleh negeri adidaya dalam beberapa dasawarsa mendatang.
     Apa kunci daripada ambisi manusia di atas? Ya, penguasaan, penciptaan atas berbagai sumber energi. Energi fusi nuklir, propulsi warp-drive atau bahkan energi gelap yang memiliki prosentasi signifikan di alam semesta, yang sedang dipelajari beriringan dengan ide menjelajah tata surya lain.
     Materi gelap, energi gelap memang masih menjadi misteri terbesar di alam semesta. Itu juga ingin dipelajari oleh ilmuwan bumi, untuk apa? Sekilas tampak mereka ingin mempelajari/membuat sendiri materi atau energi yang “gelap-gelap” itu?
     Fenomena fisika terkini bagai di atas memang menakjubkan, mengapa saat ini tidak disebut saja kita mengarungi jaman kegelapan saja mengingat ilmuwan tengah mempelajari hal itu? 
    Jebule Prabu Joyoboyo tidak meramalkan jaman kegelapan melainkan "jaman edan".
     Sekian untuk sekali ini.
*****


Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 1:47 AM

Ramalan Joyoboyo mengenai Kiamat

 Ramalan Joyoboyo mengenai Kiamat Planet Bumi 2022

mbah Subowo

Ramalan Joyoboyo tentang Kiamat Bumi dihitung berdasarkan siklus waktu 700 tahun pertama, 700 tahun kedua, dan 700 tahun ketiga, total 2100 tahun. Setelah terjadilah Kiamat Bumi, maka selanjutnya manusia akan memasuki jaman baru.

    Perhitungan  matematis untuk tentang kapan periode Kiamat Planet Bumi yakni terjadi pada siklus ketiga menurut ramalan tersebut ada dua kemungkinan. Pertama perhitungan diawali tahun 1 Masehi, yang kedua dimulai tahun 78 Sebelum Masehi, yakni tahun dimulainya perhitungan Tahun Saka.

    Jika siklus diawali dengan hitungan penanggalan Saka (78 sebelum Masehi), maka periode 2100 tahun jika dihitung sesuai kalender Masehi jatuhlah pada 2022 saat ini. Dan jika dihitung mulai tahun 1 Masehi maka Kiamat Bumi akan terjadi pada tahun 2100.

    Sekian untuk sekali ini.

*****

 

 

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 5:17 PM

Ramalan Joyoboyo Pulau Jawa Terbelah Dua

 Ramalan Joyoboyo Pulau Jawa Terbelah Dua

mbah Subowo

Pencairan gletser di berbagai puncak gunung di seluruh dunia, daratan es greenland mencair, kedua kutub terus kehilangan masa gunung raksasa es, dan terjadinya gelombang panas, banjir bandang, kekeringan di sungai berbagai belahan dunia. Itulah kondisi cuaca ekstrem saat ini, dan diperkirakan mengakibatkan semakin tingginya permukaan laut. Pulau Jawa sesuai topografinya  dari ujung barat hingga timur pada bagian tengah agak ke selatan dipenuhi oleh benteng pegunungan dan perbukitan.

    Menyingkap misteri pada judul di atas, maka timbul pertanyaan bagian mana Pulau Jawa yang akan tenggelam. Secara kasat mata bagian yang agak minus wilayah dataran tinggi yaitu antara gunung Slamet dan Gunung Ciremai, kedua dataran inilah yang kelak mungkin bisa tenggelam jika permukaan laut meninggi.

     Sekian untuk sekali ini.

*****

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 10:51 AM

Pagebluk Pandemi Virus Jahat Ramalan Joyoboyo

Pagebluk Pandemi Virus Jahat Ramalan Joyoboyo
mbah subowo
Saat ini populasi dunia berada di tengah goro-goro pagebluk penyakit menular “pandemi flu 2019” yang kita tahu penyebabnya adalah sars virus korona nomor 2 dengan nama resmi “penyakit virus corona 19”.
     Virus ini sangat mengerikan penularannya sekaligus mematikan bagi mereka yang beriwayat penyakit bawaan dan tidak pandang bulu menyerang populasi manusia  di planet bumi.
     Pemicu mengamuknya wabah virus penyakit tentu saja akibat parahnya kerusakan lingkungan alam di bumi. Kita tahu virus akan semakin bertahan lebih kuat di lingkungan yang tercemar.
     Akibat dari kerusakan lingkungan yang factual saat ini seperti sedang mencairnya es di lingkungan kutub bumi akan mengubah drastis iklim dunia dalam beberapa tahun ke depan.
     Kedahsyatan pandemic Flu 2019 yang terdeteksi pada tutup tahun 2019 memang baru dialami umat manusia dalam seratus tahun ini. Seratus tahun yang silam juga terjadi pandemi penyakit virus akibat dari kerusakan lingkungan adanya  agro industry kolonialisme di negeri-negeri jajahan.
     Dengan goro-goro pandemi virus flu 2019 yang menekan aktivitas manusia di seluruh dunia, maka keseimbangan alam itu sekejab normal kembali. Tingkat polusi udara menurun, pencemaran karbondioksida tidak lagi melewati ambang batas serta cenderung menurun, suhu permukaan bumi normal kembali, dan lingkungan menjadi asri dan alami.
     Jika berlanjut bisa jadi lapisan ozon normal kembali dan pencairan besar-besaran es kedua kutub bumi akan batal.
     Seiring waktu, hingga terjadinya suatu kondisi di mana keseimbangan lingkungan pulih kembali serta selanjutnya terjaga dengan baik dipercaya dapat menghentikan wabah virus penyakit menular apapun jenisnya. Dengan kata lain setelah berubahnya tingkat polusi udara karena terjadinya “lockdown” serta penghentian kegiatan apapun di seluruh dunia terutama industri besar yang menimbulkan dampak lingkungan, maka serangan wabah virus itu akan menurun dengan sendirinya.
     Ya, tentu saja apa yang terlanjur terjadi yakni penularan antarmanusia memang harus diminimalisir, termasuk mengobati secara maksimal mereka yang sedang terserang virus tersebut.
     Joyoboyo ahli nujum paling masyhur di Jawadwipa dan Nusa Antara hingga detik ini dalam salah satu bait syairnya telah mengenal wabah penyakit atau pagebluk yang disebabkan oleh virus dengan vector nyamuk dan vector semut, antara lain yang kita kenal demam berdarah dengue.
     Berikut ini adalah syair ramalan Joyoboyo yang menjadi topik judul di atas:
akeh wong dicakot lemut mati
akeh wong dicakot semut sirna
akeh swara aneh tanpa rupa
bala prewangan makhluk halus padha baris,
pada rebut benere garis tan kasat mata, tan arupa

     Kelak di masa depan pada jaman terbalik atau wolak walik ing jaman yang muncul tiap seratus tahun sekali, maka pada tahun kembar pamungkas 2020 yakni tahun kembar kesepuluh. 
     Sekilas mengenai tahun kembar, tahun kembar pertama hingga puncaknya kesepuluh yang tidak bisa dibolak-balik di jaman terbalik atau wolak-walik ing jaman, jika dihitung mulai dari tahun kembar pertama Prabu Joyoboyo eksis memerintah kerajaan Kediri: 1111, 1212, 1313, 1414, 1515, 1616, 1717, 1818, 1919, dan 2020. 
   Setelah berakhirnya tahun kembar kesepuluh maka berakhir pulalah wolak-walik ing jaman  dan umat manusia akan memasuki jaman baru.
     Pada tahun kembar pamungkas akan muncul suatu peristiwa dahsyat: 
Lindu ping pitu sedino, 
lemah bengkah, 
Pagebluk rupo-rupo. 

Terjadi gempa terus-menerus tujuh kali dalam sehari, tanah retak serta longsor, bencana berbagai wabah penyakit menular.

Fakta yang tengah terjadi saat ini ialah pandemi virus jahat di segenap penjuru planet bumi. 
     Melanjutkan terjemahan syair pertama di atas: tatkala itu banyak orang digigit nyamuk, mati. Banyak orang digigit semut, sirna.  Sementara di dunia mayapada atau gaib juga sedang terjadi goro-goro yang sama dengan di alam marcapada. Akan terdengar banyak suara aneh tanpa rupa. Pasukan penguasa makhluk halus sedang menyusun barisan bersama, berebut garis tak kasat mata dan tak berbentuk yang lurus, dan benar.

     Kita tahu di jaman modern ini makhluk paling kecil adalah virus. Virus sangat banyak yang sudah eksis merugikan kesehatan manusia, antara lain virus ebola, virus H-I-V, berbagai macam flu disebabkan virus:  antara lain flu burung, flu babi, flu Spanyol, dan sebagainya.
     Nyamuk malaria melalui gigitannya juga menyebarkan infeksi oleh parasit sejenis plasmodium. Khusus malaria  telah ditemukan obatnya yakni pil kina sebagai obat paten bernama klorokuin.
     Masih adalagi virus yang disimbolkan dengan “semut” lebih berbahaya dari virus yang berasal dari gigitan nyamuk Aedes pembawa virus dbd maupun nyamuk anopheles penyebab malaria pembawa parasit plasmodium. Dalam ramalan tersebut disebutkan barangsiapa yang digigit semut yang merupakan simbul  makhluk kecil semacam virus maka orang itu akan “sirna” dari dunia.
     Mudah-mudahan seiring waktu terjadinya keseimbangan alam serta selanjutnya umat manusia wajib menjaga lingkungan di bumi sebaik mungkin maka virus-virus jahat apapun yang menyebabkan penyakit pada umat manusia itu akan menjadi jinak.
     Sekian untuk sekali ini.
*****

  
Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 11:18 AM

Ramalan Joyoboyo tentang perang dagang

Ramalan Joyoboyo tentang perang dagang
mbah subowo
''Ribut sekali seperti pasar saja!''
     Begitulah suasana dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas, tatkala guru meninggalkan ruangan mengajar untuk keperluan tertentu.
     Ya, pasar tradisional memang berisik dengan suara pedagang dan pembeli yang sedang berinteraksi atau tawar-menawar. Jaman terus berganti tiada lagi kebisingan salah satunya beralih ke minimarket, supermarket, dan hypermarket. Yang terdengar dalam ruangan benderang berpendingin udara paling-paling hanya ada salam penyambutan di pintu, “Selamat berbelanja!”
     Di level lebih tinggi antarnegara, barang masuk ke negeri lain maka dikenai pajak barang masuk. Kesepakatan itu tentu harus adil bagi kedua belah pihak baik dari volume maupun nilai total perdagangan. Dan biasanya mulai terjadi kisruh pada dua Negara yang berlebihan mengirim barang-barang hingga membanjiri negeri lain, sementara yang dibanjiri tidak bisa balas menggempur balik dan akhirnya kebanjiran barang impor.
     Di tengah panggung dunia yang terjadi selanjutnya “Perang dagang” antara dua negeri berlawanan ideologi kini memasuki babak baru seolah tidak akhir, kecuali para penggagasnya pada turun panggung atau tidak memiliki kebijakan public lagi.
     Di balik perang dagang, adalah upaya para pihak yang berusaha mengendalikan pihak lain. Jalan terakhir mengobarkan perang tariff itu ditempuh sebagai alasan ketimpangan neraca salah satu pihak. Benarkah demikian?
     Tiongkok maju pesat perekonomiannya dalam sepuluh tahun terakhir. Mitra dagang terbesarnya tentu saja merasa khawatir tak mampu membendung laju Tiongkok semakin kaya raya.
     Apa yang kelak terjadi pada babak akhir? Hancurkah system dan ideologi Marxisme-Maoisme? Atau pihak lawannya dengan sistem kapitalisme-neoliberalisme yang terjerumus ke jurang resesi menuju kebangkrutan?
     Pepatah dengan kearifan masa silam mengatakan, “Gajah bertarung melawan Gajah, pelanduk yang berada di tengah pertempuran akan menjadi korban.”
     Negoisasi kedua belah pihak kontestan perang dagang tampaknya terhenti hingga satu menyerah, atau mengambil kebijakan lunak terhadap lawannya.
     Nujum masyhur Nusantara yang hidup delapan abad silam memprediksi hal di atas dalam satu bait syair ramalannya:

Pasar ilang kumandange (Joyoboyo, 1100-an)

     Di masa depan akan memasuki jaman baru, jaman yang penuh kejutan, pada masa itu pasar menjadi hening, sepi tak ada suara apapun. Walau demikian proses jual-beli dapat berlangsung juga antara kedua belah pihak.
     Akan tetapi dalam keheningan pasar di masa depan itu bila terjadi ketidaksepakatan antara pembeli dan penjual maka pertengkaran an keributanlah yang terjadi tiada habisnya. Tak ada lagi terdengar suara penuh sopan-santun antara pedagang dan pembelinya.
     Sekian untuk sekali ini.
*****








Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 7:04 AM

Ramalan Joyoboyo tentang perjalanan angkasa

Ramalan Joyoboyo tentang perjalanan angkasa
mbah subowo
Wahana angkasa yang kita kenal hingga detik ini a.l.: balon udara, helicopter, pesawat terbang, drone, roket, dan seterusnya. Upaya perjalanan dengan wahana yang bisa bergerak setara kecepatan cahaya pun telah diupayakan umat manusia.
     Kelak mereka akan mampu menempuh perjalanan antarplanet di tatasurya, bahkan mengarungi antargalaksi dalam hitungan jarak jutaan tahun cahaya.
     Berbagai pertanyaan menyelubungi para pakar angkasa, mengenai satu hal: keberadaan selain penghidupan di bumi.
     Para pakar angkasa selanjutnya berimajinasi: adakah alien telah berhasil menggapai teknologi berkecepatan cahaya untuk mengunjungi kita?
     Ada juga pakar terkini punya pendapat kontroversial menganggap bahwa bumi dan seisinya hanyalah jebakan dalam game digital para alien.
     Para pakar lain lagi berimajinasi: andai mereka (alien) pernah mengunjungi bumi… Itu pun bisa dipertanyakan lagi kapan tepatnya mereka (pernah) eksis di alam semesta?
     Mungkin dan barangkali jutaan tahun silam alien pernah berkunjung hingga ke bumi…. Akan tetapi mereka telah punah sekian juta tahun yang silam juga.
     Soal wahana perjalanan di angkasa, semua berawal dan berujung dari andal-andal teknologi yang dikuasai beberapa gelintir Negara maju. Kabar terkini sebentar lagi manusia akan menjelajah tatasurya diawali dari kunjungan (lagi) ke Bulan, dan dilanjutkan menuju Mars….
     Perjalanan yang memakan waktu bertahun itu pun banyak kendala khususnya kesehatan para angkasawan. Sekali lagi para pakar menimbang-nimbang beragam wahana yang bisa mempersingkat waktu perjalanan. Realistis teknologi yang dikuasai saat ini mulai dari pembangkit tenaga listrik berupa baterai dengan sumber tenaga dari fisi nuklir. Dan roket jumbo sebagai tenaga pendorong tatkala lepas landas maupun bermaneuver di angkasa.
     Pilihan teknologi pendorong pesawat angkasa yang dalam status hipotesa: pendorong laser, emdrive, dan gabungan keduanya.
     Sebagai gambaran terkini realitanya penggunaan mesin pendorong bekerja atas dasar reaksi kimia masih digunakan tatkala “dibutuhkan” dalam penjelajahan angkasa.
     Kita ketahui teknik “terbang” wahana luar angkasa masih menggunakan sistem katapel ditenagai gaya gravitasi antarplanet. Hanya untuk pindah-pindah orbit dari satu pusat gravitasi ke pusat gravitasi lainnya (planet-planet maupun bintang-bintang) tatkala itulah dibutuhkan roket pendorong konvensional.
     Untuk perjalanan sejauh ke Mars, tentu dibutuhkan “menyalakan” roket berkali-kali hingga tiba di tujuan. Dan tentulah roket serba jumbo yang harus dibangun untuk perjalanan sejauh itu.
     Sebagai sumber listrik di dalam pesawat untuk berbagai navigasi maupun penunjang kehidupan untuk wilayah “dekat” bisa mengandalkan panel surya dengan sumber energy berasal dari matahari kita. Sedangkan untuk wilayah yang “gelap” atau perjalanan panjang sejauh ke Mars dan menunjang kehidupan para awak pesawar luar angkasa berikut ini yang diandalkan:    
     Para ahli optimis mengerjakan sumber tenaga yang tahan lama bertahun-tahun yakni tenaga nuklir berbasis isotop Pu 238 yang ajaib plus langka, boleh jadi masih jadi primadona dalam decade ini.
     Joyoboyo nujum masyhur dari bumi pertiwi delapan abad silam telah memprediksi perjalanan di awang-awang dalam satu bait syair:

Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang

     Kelak di masa depan ada wahana buatan manusia yang bergerak di angkasa, barang, manusia, dan lainnya tentu bisa terbawa dengan mudah. Kala di masa itu tentu kehidupan sudah memasuki tahap jaman baru yang meninggalkan masa silam berabad dalam kesahajaan.
     Dengan kemampuan mengendalikan berbagai wahana angkasa itulah manusia kelak bisa menggapai planet, bintang, dan apapun itu yang berlomba berkerlipan dalam kegelapan angkasa di malam hari.
     Sekian untuk sekali ini.


*****


Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 12:46 PM

Ramalan Joyoboyo tentang kerusakan ekosistem bumi

Ramalan Joyoboyo tentang kerusakan ekosistem bumi
mbah subowo
Pada era 60-an kondisi alam di bumi masih asri sebagai contoh begitu sederhana penghidupan penduduk hampir semua pedesaan di Jawa. Sebagai gambaran ekosistem asri tepatnya di wilayah sekitar Goa Selomangleng, Kediri. 
     Gunung Wilis, Ngliman, Ndungus, dan wilayah perbukitan salah satunya Klotok era 60-an masih dipenuhi tanaman besar yang rimbun, nun jauh di lembah Sungai Brantas permukaan air sungai selebar satu kilometer itu masih tinggi hampir menyentuh bibir sungai, tidak pandang waktu demikian juga di musim kemarau.
     Hamparan perbukitan di bawahnya sepanjang mata memandang terhampar permadani hijau sawah-sawah selalu terendam air dan basah sepanjang tahun, air mengalir terus dengan irigasi sederhana.
     Telah berabad berlangsung sebagai itu.
     Di waktu yang sama di ibukota Jakarta hanya ada bangunan bertingkat Hotel Indonesia dan Wisma Nusantara. Mobil-mobil Jepang “kotak sabun” sesekali berseliweran gagah di jalanan yang lengang.
     "Modernisasi" di seluruh planet bumi mulai era 70-80-90-00 hingga sekarang ini berlangsung suatu kemajuan menakjubkan oleh umat manusia mengalahkan kehidupan hampir duaribu tahun sebelumnya -- limapuluh tahun terakhirlah yang telah mengubah dunia!!!! 
     Sayang sekali, kemajuan itu juga diiringi ludesnya ekosistem alami sebagai imbas dari penggunaan besar-besaran bahan bakar fosil dan barang tambang lain sejenisnya. Dan berkat kemajuan teknologi di segala bidang, populasi umat manusia juga semakin bertambah terus.
     Kini saksikanlah akibatnya! Sawah-sawah berubah total menjadi kering di musim kemarau, demikian pula pada siang dan malam udara terasa terik. Pemandangan hamparan hijau dan pepohonan di lembah-lembah dari perbukitan Klotok-Wilis telah berganti dengan bangunan mewah, setengah mewah, dan sederhana milik penduduk yang terus “berjubel” memenuhi lahan-lahan dengan bangunan tempat tinggal.
     Menengok anak sungai dan Sungai Brantas alirannya sangan tipis dan sebagian dasar sungai menjadi kering di saat kemarau. Jika di masa silam kabut muncul dari sekitar mata air di perbukitan, kini semua itu telah hilang bersamaan dengan hilangnya pepohonan yang kini berganti menjadi lahan pertanian sederhana atau dibiarkan gundul begitu saja.
     Semua itu sudah diprediksi dalam satu bait syair oleh nujum masyhur Nusantara Sri Aji Joyoboyo.

Kali ilang kedunge (Joyoboyo, 1100-an)

     Kelak di masa depan sungai-sungai di Jawa/ Nusantara akan kekeringan, cadangan sumber mata air (kedung) di bagian tertentu di tepian atau di tengah sungai yang kedalamannya lebih akan lenyap. Mungkin kedung itu tertutup oleh hasil erosi yang terbawa aliran dari hulu sungai. Dengan hilangnya kedung maka air akan “bablas” mengalir terus tak sempat lagi parkir mengendap dan meresap masuk ke dalam tanah. Cadangan air yang lenyap akibat kerusakan ekosistem itulah membuat sulitnya mendapatkan air di kemarau.


     Sekian untuk sekali ini.
*****

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 2:14 PM

Ramalan Joyoboyo tentang Ahok

Ramalan Joyoboyo tentang Ahok

Mbah subowo
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pernah dijungkalkan oleh demo penolakan dari hampir sejuta orang sebelum tersalurkan secara demokratis dalam pemilihan gubernur. Ahok tumbang dan gagal merebut kursi nomor satu DKI Jakarta. Selepas dari tahanan menjalani hukuman, kini Ahok kembali menduduki posisi tinggi sebuah BUMN strategis, dan paling basah -- karena urusan minyak dan gas.
     Era 70-an siapapun yang bekerja pada BUMN yang satu ini baik secara langsung maupun tak langsung akan hidup makmur dan serba kecukupan.
     Seiring waktu berjalan, pertanyaan publik pendukung maupun bukan penggemar Ahok saat ini: “Berapa lama Ahok bertahan di posisi jabatannya yang baru? Bagaimana kinerjanya? Dan seterusnya….”
     Salah satu referensi untuk menjawab hal tersebut atas berbagai pertanyaan yang terlintas di kepala publik mengenai satria yang pernah berpasangan dalam kontestan pilgub DKI dengan orang yang kini nomor satu di negeri ini adalah sbb.:

idune idu geni
sabdane malati
sing mbregendhul mesti mati (Joyoboyo, 1100-an)

Bait syair ramalan Joyoboyo yang boleh ditafsirkan bebas: Kelak di masa depan ada seorang satria yang bila berbicara akan terasa pedas bagi siapapun seolah dapat mengeluarkan api dari mulutnya.
     Satria ini juga akan mengeluarkan perkataan yang sifatnya sangat berakibat membuat celaka atau menjadi bumerang bagi siapapun, baik bagi orang lain maupun bagi diri si satria sendiri. Orang menyebut dengan istilah, “Mulutmu adalah harimau-mu.”
     Barangsiapa yang “ngotot” pada satria yang satu ini akan menanggung sendiri kerugiannya, bahkan sampai paling fatal.
     Sekian untuk sekali ini.
*****


Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 9:03 AM

Ramalan Joyoboyo Pulau Jawa Tenggelam

Ramalan Joyoboyo Pulau Jawa Tenggelam

mbah subowo
Media informasi seluruh dunia mengabarkan: permukaan air laut (2019) akan naik seperempat hingga tigaperempat abad mendatang, menenggelamkan hampir semua kota pantai di bumi.
     Penyebab permukaan air laut naik terutama sekali akibat dari mencairnya es di wilayah kedua kutub bumi. Upaya pencegahan: mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan menghentikan penghancuran hutan-hutan hanya berjalan di tempat, alasan ilmiah mengacu pada populasi manusia sangat besar membutuhkan penghidupan tiada batasan. Bumi tentu saja memiliki ambang batas tertentu menolerir tingkat kerusakan alam.
     Sosok nujum masyhur Jawadwipa aka Nusa Antara yang memerintah sebuah kerajaan maritim di belahan Timur Jawa delapan abad yang silam: Sri Aji Joyoboyo dalam bait syair berikut ini menggambarkan masa depan kondisi Pulau Jawa atau Nusantara:

   “Pulau Jawa kalungan wesi” – (Joyoboyo dari abad keduabelas masehi)

     Kelak di masa depan di selingkaran Pulau Jawa akan dikalungi rel besi. Faktanya pemerintah Hindia Belanda demi kepentingan tanam paksa pada abad kesembilan belas (1800-an) membangun jaringan jalan kereta api di seluruh Jawa untuk mengangkut hasil panen terutama tebu, setelah digiling di pabrik gula selanjutnya punya tujuan ekspor ke Eropa.
     Mengingat jalan raya sekarang sudah menggunakan beton bertulang besi, maka mirip juga dengan rel yang juga terbuat dari besi/baja. Pada masa orde baru telah dimulai pembangunan jalan tol Jagorawi dan terus berlanjut pada era presiden berikutnya hingga tahap sekarang ini pembangunan tol besar-besaran pada masa pemerintahan Presiden Jokowi.
     Masih ada lagi pembangunan tol di atas laut yang juga berfungsi menahan abrasi laut. Mengingat bangunan di perairan yang sebagian besar menggunakan material baja akan semakin menggenapi ramalan Joyoboyo tersebut.
     Syair Joyoboyo “Pulau Jawa kalungan wesi” yang paling tepat memang pembangunan tol yang berada di leher Pulau Jawa, yakni kalung yang berada di tepi pantai atau di luar daratan (leher) Pulau Jawa.
     Kelak sebelum terjadi (sebagian) Pulau Jawa benar-benar tenggelam, akan lebih dulu (berbarengan) dengan selesai dibangunnya tol yang dipancangkan mulai dari Selat Sunda, Laut Jawa, hingga Selat Bali atau mengelilingi Jawa dari ujung Barat ke ujung Timur.
     Dilihat dari arah angkasa Pulau Kalimantan akan tampak Pulau Jawa memang benar-benar berkalung wesi.
     Sekian untuk sekali ini.

*****

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 12:28 PM

Inilah lokasi istana Prabu Joyoboyo

Inilah lokasi istana Prabu Joyoboyo

mbah subowo bin sukaris

Melanjutkan tulisan kami, Rahasia Kraton Sri Aji Joyoboyo maka berikut ini sekadar tambahan info:

Satu lagi informasi mengenai lokasi kraton Kediri ca. Sri Aji Joyoboyo yakni ditemukannya kereta kencana kerajaan Kediri semasa itu. Lokasi benda yang diyakini dan dianggap oleh penduduk sebagai kereta kencana itu berada di sekitar jembatan perbatasan Mojoroto dan Ngampel pada 1987. Lokasi aliran sungai kecil itu memang tidak begitu jauh dari wilayah Selomangleng, Botolengket -- wilayah yang merupakan hipotesa lokasi kraton Sri Aji Joyoboyo.
      Penemuan itu terjadi bersamaan dengan pembangunan plengsengan anak sungai Brantas yang melewati wilayah Batulengket, Bujel. Anak sungai Brantas itu hulunya berada di Bukit Klotok.
   Sumber informasi yang sama juga menyebutkan adanya arca naga/ular di wilayah Pamenang, yakni lokasi petilasan Prabu Joyoboyo.
     Arca tersebut dianggap keramat oleh penduduk setempat yang juga memperingatkan pekerja yang sedang mengerjakan plengsengan kecil.
      Sebagai perbandingan bentuk kereta kencana yang berada di museum Airlangga di Selomangleng fisiknya memiliki hanya dua roda atau satu as roda. Pada 1970-an penduduk menamai "bendi" untuk kereta yang bisa mencapai kecepatan sekitar 6o kilometer perjam itu. Kereta jenis itu biasanya juga dipergunakan sebagai kereta perang atau kereta komando pasukan dan dikendalikan oleh perwira perang.
      Kereta kencana memiliki paling kurang empat roda atau dua as roda lebih. Tentu penemuan di sekitar jembatan Mojoroto itu tidak akan dinamai kereta kencana melainkan hanya "bendi" belaka jika rodanya cuma dua. Jika penduduk setempat menamai kereta kencana maka tentu memiliki jumlah roda sebanyak yang kami perkirakan di atas.
     Keberadaan kereta kencana tersebut tidak diketahui oleh sumber kami. Atau mungkin akan ditemukan kembali dan akan kami berikan perkembangannya pada kesempatan lain.

*****


Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 10:39 AM

Ramalan Jayabaya tentang kutukan bagi Orde Baru

Ramalan Jayabaya tentang kutukan bagi Orde Baru

mbah subowo bin sukaris

Korban peristiwa/tragedi 1965 menurut para akademisi serta data berbagai karya ilmiah dari segenap penjuru dunia tidak diragukan kebenarannya berjumlah lebih besar daripada korban perang Vietnam vs Amerika Serikat.
      Bangsa Belanda yang “mengasuh” pribumi Nusantara selama tiga setengah abad sudah mengetahui betul, bahwa bangsa yang lemah-lembut hidup di jamrud khatulistiwa ini bisa beringas tanpa sebab yang logis.
      Kesimpulan para pakar Belanda adalah alam bawah sadar mereka (kaum pribumi)  yang masih menyimpan memori kegelapan purba jika terpicu oleh “sesuatu” maka secara spontan bertransformasi menjadi tindakan primitif dan barbar.
      Akhir-akhir ini (5/2016) berita cetak maupun online meributkan soal beredarnya “lambang organisasi terlarang”, aparat masih bertindak  sama semasa Orba tetap menggunakan payung hukum Tap MPRS 25/1966 serta Tap MPR 1/ 2003.
      Di satu sisi negara yang sah mengukuhi keabsahan Tap produk “rekaan” Orde Baru tersebut, sementara di sisi lain menganggap Tap tersebut inkonstitusional sejak dalam pikiran pencetusnya.
      Pro-kontra mengenai penyelesaian kasus tragedi 1965 selama puluhan tahun tidak pernah tuntas. Mengapa? Peristiwa 1965 yang berupa banjir bandang darah yang berujung pada maraknya Soeharto ke panggung kekuasaan pada 1967 (dengan cara menjungkalkan Proklamator Bung Karno) diramalkan tuntas pada 2027 tercantum dalam Kitab Musarar  Jayabaya, sinom kedelapan belas,

                 gajah meta
            Semune tengu lelaki
             Sewidak warsa nuli
         Ana dhawuhing bebendu
              Kelem negaranira
           Kuwur tataning negari 
                                                                               (Kitab Musarar, sinom 18)

“gajah meta semune tengu lelaki (Raja [baca: presiden]  yang disegani/ditakuti, namun nista [baca: Soeharto]). Selama enampuluh tahun (dihitung sejak beliau mulai marak ke singgasana) menerima kutukan sehingga negaranya tenggelam (tak berjaya)  dan hukum menjadi carut-marut tidak karuan.”

Kutukan bagi Orde Baru selama 60 tahun yang akan berakhir pada 2027, sebelum titimangsa itu maka negara akan tenggelam dalam berbagai kesulitan, masalah, serta mengalami carut-marut hukum seperti yang tercantum dalam Kitab Musarar Jayabaya bernuansa  Islami ditulis oleh Sunan Giri III pada 1618 M.
      Sedangkan bukti otentik bahwa Sri Aji Jayabaya memiliki karya tulis (ramalan) menurut para akademisi  sejauh ini memang belum ada, akan tetapi tidak bisa dibantah lagi bahwa beliau (Sri Aji Joyoboyo) memang berabad-abad dipercaya adalah nujum ampuh pada jamannya.

*****
Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 10:01 PM

Ramalan Joyoboyo mengenai 'blusukan' Jokowi

Ramalan Joyoboyo mengenai "blusukan" Jokowi

mbah subowo bin sukaris

Jokowi kini tidak lagi "blusukan" di dunia "marca" atawa nyata, akan tetapi beliau blusukan online saja mengingat ketatnya protokoler resmi istana.
     Sebagai pembanding Bung Karno dalam biografinya sering menerobos protokoler istana untuk bisa jajan sate di kaki lima, atau blusukan mengunjungi tempat lainnya.
     Blusukan ke segmen area "bawah" dan membahas masalah penemuannya ke permukaan publik itulah kepiawaian Jokowi sebelum menjadi orang nomor satu di negeri ini.
     Ngemeng-ngemeng beberapa hari belakangan ini (4/2016) di tubuh anggota dewan yang terhormat terjadi kejutan, orang yang selama ini bersuara dan bertabiat "vokal" telah tersingkir dan terjungkal dari kursinya dengan cara misterius. 
     Tokoh "vokal" yang tersingkir dari kursinya kini bukan lagi wakil "partai". Apa yang terjadi? Di masa lalu, tatkala getolnya Jokowi terus saja masih "blusukan" dan menghentikannya setelah menjadi orang nomor satu, mereka -- orang-orang "vokal" itu posisinya sangat dominan? Tokoh vokal yang banyak jumlahnya itu nyohor baik di situs berita cetak, dan media elektronik audio visual. 
     Kini dunia politik di negeri ini berputar berbalik arah lagi, dan tak dapat dipungkiri akibat pergeseran ini salah satunya bersumber dari suara dalam berbagai bentuk yang berasal dari warga dunia maya "netizen". 
     Suara para "netizen" itu sudah sedemikian rupa sangat mempengaruhi kehidupan dunia nyata. Kekuatan warga dunia maya berkat adanya dan didukung perangkat teknologi, mereka dengan mudah saling berbagi satu sama lain dalam skala lebih luas untuk menyoroti satu persoalan publik yang tengah jadi trending topik.
     "Blusukan" vs pencitraan merupakan dua hal yang bertolak belakang. Blusukan Jokowi yang tulus dilakukan itulah yang benar menurut kaedahnya, akan tetapi sebaliknya "blusukan" tokoh vokal yang berpamrih ingin mencari "nama" adalah pencitraan diri. 
     Sebenarnya mereka para "vokalis" itu tidak pernah blusukan ke bawah. Andai waktu diundur kembali.....
     Sebagai keterangan mengenai "blusukan" kita dapat mengutip ramalan kuno abad keduabelas masehi, "Sing suarane seru bakal oleh pengaruh..." Karya dalam bait ramalan Joyoboyo itu artinya, "Siapapun (anggota dewan) yang bersuara "vokal" akan jadi menentukan sekali arah mana keputusan kebijakan dalam forum sidang dewan yang terhormat."
     Dihimbau agar mereka (para Yang Terhormat) itu blusukan secara nyata sehingga tahu betul apa yang sedang dibutuhkan "di bawah" dan masalah penting apa ada di sana, dan selanjutnya membawa bunga rampai masalah tersebut ke permukaan publik: itulah tugas para kontributor dewan yang terhormat agar kelak dapat mengambil kebijakan yang pas dan sesuai kebutuhan publik.

*****

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 3:44 PM

Ramalan Joyoboyo mengenai pemerintahan Ahok

Ramalan Joyoboyo mengenai pemerintahan Ahok

mbah subowo bin sukaris

Pada 2014, Ahok (Basuki T.P.) itu marak menduduki singgasana DKI 1 karena di paroh waktu menggantikan kedudukan yang ditinggalkan oleh Jokowi.
      Sama yang terjadi pada 2001, Megawati marak menduduki kursi RI 1 menggantikan paroh waktu singgasana yang ditinggalkan oleh Gus Dur yang turun panggung sebelum waktunya. Megawati (2014) yang mengusung/menunjuk Jokowi hingga marak menduduki kursi RI 1, dan dengan sendirinya membuat Ahok otomatis menduduki posisi Jokowi waktu itu, DKI 1.
      Ahok dan Mega sama-sama berposisi sebagai wakil dan naik daun meneruskan jabatan paroh waktu yang belum selesai ditinggalkan atasannya.
      Kelak Jokowi pada 2019 berjuang untuk jabatan RI 1 periode kedua, sedangkan Ahok pada 2017 harus berjuang menduduki DKI 1 untuk membuktikan bahwa dirinya memang layak secara penuh menduduki kursinya..
     Pertanyaannya ialah apakah baik pemerintahan Jokowi maupun Ahok akan sukses melanjutkan kekuasaan di masa depannya? Atau keduanya gagal, atau salah satu saja yang sukses.......
      Berikut ini ramalan Joyoboyo tentang (pemerintahan) Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) yang mewakili bangsa Tionghoa dan Jokowi (Ir. H. Joko Widodo) yang mewakili bangsa Jawa.

cina alang-alang keplantrang dibandhem nggendring
melu Jawa sing padha eling
sing tan eling miling-miling
mlayu-mlayu kaya maling kena tuding
eling mulih padha manjing 
(Joyoboyo abad XII M)

Bangsa Tionghoa yang mengalami tekanan darurat tetap berusaha berpindah-pindah akan tetapi dalam koridor wilayah Nusantara.
    Mereka berusaha mendekati orang Jawa (penduduk setempat) jika mereka (bangsa Tionghoa) tersadar terhadap kesalahan sendiri.
      Mereka yang tidak mau sadar diri atas kesalahan masing-masing terus merasa was-was bak seorang pencuri yang tertangkap basah, kemudian hidup dalam pelarian berpindah-pindah tempat tinggal.
      Mereka (bangsa Tionghoa) yang tidak bersalah apapun dan memutuskan tetap tinggal di tempat, akhirnya bersama bekerja dengan penduduk sekitarnya.

Menurut hemat kami, terlepas dari kekurangan dan kelebihan mereka masing-masing, Ahok dan Jokowi yang asal-muasalnya adalah dwitunggal dan contohnya tatkala bersinergi bahu-membahu memimpin DKI.
     Kemenangan Ahok pada pilgub 2017 sangat penting bagi pemerintahan pusat, dan semua upaya akan selalu didukung oleh Jokowi sejak saat ini.
     Posisi Ahok yang menduduki kursi DKI 1 yang berada di garis depan akan menjadi aman, sekaligus menjamin kekuatan inti pemerintahan Jokowi baik saat ini maupun di masa mendatang. Dan seandainya terjadi dengan kemenangan Ahok pada 2017 akan memuluskan jalan bagi Jokowi merebut periode 2, pada pilpres 2019.


*****
Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 6:29 PM

Ramalan Joyoboyo tentang KPK

Ramalan Joyoboyo tentang KPK

mbah subowo bin sukaris

Kita semua teringat gonjang-ganjing perburuan koruptor semasa SBY: Tidak pandang bulu apakah ia seorang petinggi partai, pemimpin daerah, anggota dewan yang terhormat, dan lain sebagainya semua saja dijerat dan diseret oleh KPK untuk diadili dalam perkara korupsi.
      Tatkala itu, semasa pemerintahan SBY, hampir tiap hari berita media cetak dan elektronik menyiarkan wajah tak bersalah para koruptor yang notabene dan terang-terangan tak kenal malu menjarah uang negara. Semua saja diciduk KPK, tak ada kecualinya apakah ia seorang pejabat atau pengusaha, dan juga dari kalangan manapun tak pernah dibeda dan dikecualikan.
      Kini setahun lebih, setelah SBY lengser keriuhan berita tentang yang satu itu semakin jarang terdengar lagi. Memang bukan itu berarti orang sudah jera berkorupsi ria, atau sudah tidak ada aparat negara melakukan korupsi -- para koruptor --, akan tetapi KPK sendiri seiring lengsernya SBY juga ditimpa musibah mengalami masalahnya sendiri, semua orang tahu hal itu! 
     Meneropong masa lalu: Semasa kerajaan Majapahit, -- menurut sebuah sumber khusus --, badan sekelas KPK dalam situasi darurat terpaksa dibentuk oleh rakyat yang progresif-revolusioner untuk mengadili siapa saja yang merugikan negara baik secara politik maupun finansial. Rakyat bertindak demikian karena negara Majapahit tidak berdaya dalam upaya membasmi para penyalahguna kekuasaan baik dari kalangan pejabat sipil maupun militer.
      Majapahit yang tidak berdaya menjelang masa keruntuhannya itu pun membiarkan saja massa membikin pengadilan rakyat. Hasilnya Majapahit yang tinggal sekepal itu memang akhirnya bersih, bahkan sebelum muspro dari muka bumi.
     Kembali ke masa kini, bagaimanapun juga siapa pun dapat memprediksi jauh ke depan, tanpa kehadiran KPK yang bernyali dan memiliki kekuasaan sebesar tatkala masa pemerintahan SBY, maka akibatnya jelas, para koruptor akan semakin leluasa merajalela dalam menjarah uang negara. 
      Berikut ini sekadar ramalan Joyoboyo yang mandahului jamannya yakni mengenai masa depan bahwa korupsi harus diberantas oleh lembaga negara yang bening dan jujur:

Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit
Kepingin urip mewah
Joyoboyo abad xii

Kelak di masa depan banyak orang hanya mementingkan uang tidak peduli bagaimana cara untuk mendapatkannya
Karena dengan uang segalanya bisa dibeli, mereka yang hidup di masa depan itu inginnya hidup mewah

*****
Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 11:14 AM

Ramalan Joyoboyo, gambaran akhir pasca pemerintahan Jokowi

Ramalan Joyoboyo, gambaran pasca pemerintahan Jokowi

mbah subowo bin sukaris

Presiden Jokowi boleh jadi marak dalam satu atau dua periode ke depan menduduki singgasana kepresidenan. Atau boleh jadi juga tidak genap memerintah selama 5 tahun pertama atau tahun kedua. Semua prediksi ke depan pemerintahan Jokowi itu akan terjawab oleh sang waktu. 

     Kita semua tahu bahwa undang-undang yang membatasi masa jabatan kepresidenan hanya selama dua periode, hal itu mungkin membuat sebagian orang mulai menduga-duga apa jadinya setelah Presiden Jokowi turun panggung? Berikut ini merupakan prediksi dari Kitab Musarar Joyoboyo yang mungkin terjadi tatkala Jokowi turun panggung. 

     Pada salah satu bait asmaradana yang mendampingi bait yang menggambarkan NKRI retak (pasca pemerintahan SBY) dalam Kitab Musarar Jayabaya (abad keduabelas masehi 1100-an) terdapat gambaran NKRI pasca pemerintahan Presiden Jokowi. Mengapa bait ini tersebut kami anggap sangat tepat menggambarkan masa sesudah Jokowi? Jawabannya ialah setelah bait yang menggambarkan peristiwa goro-goro itu selanjutnya terdapat bait mengenai munculnya Ratu Adil "Tunjung Putih", (termaktub dalam kitab Musarar). Apakah pengganti Jokowi berarti sosok Ratu Adil Tunjung Putih? Wallahualam bisawab....


      Akeh ingkang gara-gara, Udan salah mangsa prapti, Akeh lindhu lan grahana, Dalajate salin-salit, Pepati tanpa aji, Anutug ing jaman sewu, Wolung atus ta iya, Tanah Jawa pothar pathir, Ratu Kara Murka Kuthila pan sirna

Banyak kejadian dan peristiwa alam maupun dalam kehidupan masyarakat manusia yang luar biasa. Musim penghujan tidak teratur dan sering datang dengan curah hujan tinggi (kebanjiran) hingga tidak ada curah hujan sama sekali (kekeringan). Gempa bumi sering terjadi dan menelan banyak korban jiwa manusia, ternak, dan harta benda, demikian juga sering terjadi fenomena alam misterius yakni terjadinya gerhana bulan, dan gerhana matahari. 
      Semua itu seolah berarti membuat nyawa manusia tidak berharga lagi. Peristiwa apapun yang terjadi itu semua sama persis seperti yang terjadi pada 1800-an tatkala pemerintah kolonial Belanda menjalankan "tanam paksa" guna mengganti kerugian akibat peperangan di Jawa (Perang Diponegoro) yang tidak sedikit menelan cadangan kas negeri induk Nederland Raya, semasa perang tatkala itu Tanah Jawa tidak terurus pertanian, perkebunan dan kehidupan normal telah menjadi berantakan. Selanjutnya Belanda menjalankan politik etis, dan musnahlah Ratu Kara Murka Kuthila.

*****

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 12:56 PM

Ramalan Jayabaya tentang pemimpin pilihan langsung rakyat

Ramalan Jayabaya tentang pemimpin pilihan langsung rakyat

mbah Subowo bin Sukaris

Pemilihan langsung (pilsung) oleh rakyat dari bupati hingga presiden yang mulai berlangsung sejak lengsernya Orde Baru berganti Orde Reformasi sudah diramalkan oleh Sri Aji Jayabaya yang hidup sembilan abad yang silam. Kekuatan Orde Baru yang selalu berusaha bangkit kembali (bahaya laten) dari rebahannya memang baru sebagian saja tumbang pada Mei 1998 akan tetapi sebagian besar akar dan batangnya masih kokoh kuat berdiri tegak hingga hari ini. Jika saat ini (2014) muncul perdebatan sengit dan alot dalam dewan perwakilan rakyat NKRI dimotori serta dibenggoli oleh partai-partai lawas penyokong kejayaan Orde Baru yang tidak setuju pilihan langsung oleh rakyat dalam menentukan pemimpin mulai tingkat RT hingga Presiden maka pihak yang demikian berusaha melawan arus perkembangan sejarah kemajuan masyarakat! 
      Dalam hukum perkembangan sejarah kemajuan masyarakat maka barang siapa mencoba membendung lajunya perkembangan sejarah masyarakat maka ia akan terseret banjir bandang arus sejarah. Setelah terseret dan terombang-ambing maka selanjutnya ia akan kehabisan tenangga hingga tenggelam dalam pusaran waktu dan lenyap untuk selamanya!
      Berikut ini bait pamungkas ramalan Sri Aji Jayabaya mengenai pilihan secara langsung oleh rakyat. Dalam suatu pilihan langsung maka rakyatlah yang akan memutuskan dengan memberikan jumlah suara terbanyak bagi siapa pemenang di antara para calon yang tampil dalam pilsung..

para kawula padha suka-suka
marga adiling pangeran wus teka
ratune nyembah kawula

Setiap kali diadakan pemilihan umum baik untuk memilih apa saja mulai dari memilih ketua RT hingga memilih anggota DPRD maka rakyat bersuka ria menyambut pemilihan umum itu.
      Mereka merasa itulah salah satu bentuk keadilan dari Yang Kuasa telah tiba.
      Coba perhatikan dalam pemilihan umum misalnya pilihan Lurah. Seorang kontestan calon lurah akan mendatangi tiap penduduk untuk sekadar memperkenalkan dirinya sebagai kontestan calon lurah, dan bla-bla-bla. Bahkan tiap penduduk desa diundang makan gratis tiap malam hari selama masa kampanye oleh para kontestan calon lurah yang bersangkutan. Para pemimpin itu (sang bakal calon lurah) benar-benar seolah menyembah rakyat, demi mendapatkan suara mereka dalam bilik pencoblosan nanti.

*****

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 5:21 PM