March 24, 2013

Ramalan Sabdo Palon, "Kerusakan moral orang Jawa/Nusantara."


Ramalan Sabdo Palon, "Kerusakan moral orang Jawa/Nusantara"

mbah Subowo bin Sukaris



Dari keduapuluh bait ramalan Sabdo Palon yang hidup pada abad kelimabelas masehi terdapat prediksi akurat mengenai musibah bencana alam dan kerusakan ekosistem di Nusantara. Di antara prediksi terpenting yakni yang terdapat pada bait pamungkas/akhir terdapat dua prediksi mengenai kerusakan moral orang Jawa/Nusantara. Bait terakhir ini tercantum pada bait/syair ke 19-20.
      Bait/syair ke 19-20 memang tidak tertulis dengan menyatakan secara langsung mengenai rusaknya moral orang Jawa/Nusantara akan tetapi justru mengemukakan solusi untuk memperbaiki moral orang Jawa/Nusantara yang telah rusak.
      Kerusakan moral orang Jawa/Nusantara terutama disebabkan oleh tibanya masa wolak-waliking jaman/jaman terbalik-balik yang sukar dimengerti oleh siapapun juga. Jaman terbalik ini pun telah diramalkan oleh Joyoboyo yang hidup pada abad keduabelas masehi.
      Kerusakan moral orang Jawa/Nusantara yang tengah terjadi pada awal abad keduapuluh satu ini memang tidak mengherankan, karena setelah jaman terbolak-balik selanjutnya akan berganti memasuki jaman edan (jaman tidak karuan juntrungannya). Siapapun akan terlindas jaman edan ini tidak terkecuali bagi mereka yang berasal atau tidak berasal dari kelompok agama/kepercayaan.
      Sedikit mengutip solusi Joyoboyo sembilan abad yang silam dalam menyiasati jaman edan ini: "Jadilah orang yang eling dan waspada". Maka Sabdo Palon enam abad yang lalu telah memberikan solusi yang senada sbb.:


 Podo siro ngupoyowo,
 sarono ingkang sejati,
 sahadad ingkang sampurno,
 sampurno jatining ngurip,
 kalamun tan biso olih,
 nyatakno ingkang satuhu,
 kang nganti prapteng loyo,
 loyo sajeroning ngurip,
 iyo iku margane kalis beboyo.


 Yen siro durung uningo,
 takokno guru kang yekti,
 kang wus putus kawruhiro,
 kawruh mring kasidan jati,
 budo budining yekti,
 kang kok anut rinten dalu,
 ing pundi dunungiro,
 lawan to asalireki,
 yen wus lojo ing ngendi iku dunungnyo.


Kalian semua (orang Jawa/Nusantara) berusahalah selalu mencari jati diri masing-masing. Beribadahlah kalian masing-masing sebaik mungkin (sesuai agama/kepercayaan). Kesempurnaan ibadah kalian itu akan menemukan jati diri yang sempurna dalam kehidupan yang sejati. Andai kalian telah mendapatkan kesempurnaan hidup itu pertahankanlah hingga datangnya peperangan akhir dalam proses kehidupan. Maka kalian akan kalis terhadap segala marabahaya.

Andai kalian (orang Jawa/Nusantara) belum mengerti serta mengetahui apa itu jati diri dan kehidupan sejati, bertanyalah pada guru yang berilmu, guru yang telah memiliki kemampuan ilmu kawruh. Ilmu kawruh itu mengenai segala sesuatu mengenai jati diri dan kehidupan sejati. Satu contoh bagi kaum Buddhis ialah guru yang telah memahami ilmu tentang budi (baik).
      Apapun agama/kepercayaan yang kalian anut dan jalankan ibadahnya siang malam, itulah letaknya si jati diri, tidak hanya mencari asal mula hidup kalian saja, melainkan cari juga hendak ke mana kalian akan menuju kehidupan (selanjutnya).

Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 1:17 PM