May 9, 2016

Semburan Lumpur Lapindo dan Kutukan Punggawa Majapahit

Semburan Lumpur Lapindo dan Kutukan Punggawa Majapahit

mbah subowo bin sukaris

Limaratus tahun yang silam, Sabdo Palon--Noyo Genggong, punggawa terakhir Majapahit sebagai tercatat dalam sejarah, telah menubuatkan suatu "kutukan", "ramalan", ataupun "titah" mengenai masa depan apa yang kelak terjadi terhadap Tanah Jawa.
     Sebagaimana para ilmuan sepakat bahwa Pangeran Wijil I (abad kedelapan belas) meramu kitab Asrar plus Bharatayuddha, Gatotkacasraya, dan Heruwangsa jadi gubahan "Ramalan Joyoboyo". Ramalan Joyoboyo isinya melulu mengenai perilaku manusia di masa depan. Demikianlah maka Sabdo Palon--Noyo Genggong juga meramalkan masa depan Tanah Jawa. Tempat kehidupan manusia Jawa akan berperilaku seperti digambarkan dalam "ramalan Joyoboyo" di atas.
     Tanah Jawa dan manusianya sudah diprediksi mengenai masa depannya sejak abad kelima belas hingga abad kedelapan belas, waktu itu kedatangan bangsa Barat baru dalam tahap awal dan belum mutlak menguasai wilayah Nusantara.
     Sebagaimana ramalan, kutukan, ataupun titah yang datang dari seorang yang berhati kecewa macam punggawa utama dan terakhir Majapahit tersebut di atas, adalah wajar saja isinya berupa bencana, kerusakan alam, bencana penyakit menular, dsb. Sebagai sejarah mencatat kisah Sabdo Palon--Noyo Genggong yang kecewa berat terhadap Brawijaya V -- yang terakhir ini raja terakhir Majapahit yang meninggalkan agama resmi kerajaan Syiwa-Buddha itu.
     Kekecewaan terbesar Sabdo Palon muntab dengan menyatakan bahwa sejak penguasa Majapahit tertinggi itu meninggalkan agama leluhur, maka Tanah Jawa tidak diberkati lagi (oleh Sang Baurekso atau Dang Hyang Tanah Jawi).
     Ramalan Joyoboyo yang digubah semasa bangsa Eropah telah menguasai Nusantara memang sangat akurat hampir tepat semua prediksinya mengenai solah-tingkah manusia Jawa/Nusantara. Sedangkan Ramalan Sabdo Palon--Noyo Genggong yang berasal dari sekitar masa peralihan Majapahit menjadi Kerajaan Islam pertama Demak, memang bernuansa pergantian "tatanan kehidupan Tanah Jawa" menjadi baru berbeda dari berabad sebelumnya.
     "Bukan karena Agama baru berarti penguasa yang baru juga," ...eh, salah, akan tetapi sebaliknya, "Penguasa yang baru akan membawa ajaran/agama/politik yang baru," kata sang pujangga nominee Nobel era Orde Baru.
     Tanah Jawa yang berganti tatanan baru, akan menghadapi bencana alam tiada akhir dan semua terjadi tanpa ada penangkal, dan perlindungan apapun.
     Masih ingat ramalan ilmiah oleh orang nomor satu NKRI pada 2016, Kota Jakarta akan tenggelam 2030?? Itu sudah dinyatakan limaratus tahun yang silam, bahwa air laut akan naik ke daratan utara Jawa. Karena Laut Jawa (bagian utara) memang kecil sekali diprediksi akan terjadi tsunami macam di Aceh tempo hari, akan tetapi akibat turunnya permukaan daratan Kota Jakarta akibat ulah manusia, maka air laut akan meluber ke daratan.
      Bagaimana semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo? Sebagai salah satu item berasal dari ulah manusia sehingga menimbulkan kerusakan Tanah Jawa maka itu juga termasuk yang sudah diprediksi limaratus tahun yang silam.

Bebaya ingkang tumeka,
Warata sa Tanah Jawi
Warna-warna kang bebaya,
Angrusaken Tanah Jawi
Sanget-sangeting sangsara,
Kang tuwuh ing tanah Jawi
Sabdo Palon--Noyo Genggong (abad kelima belas masehi)

Bahaya yang datang menghampiri merata tersebar seluruh Tanah Jawa/Nusantara. Bermacam-macam jenis bahaya serta bencana yang membuat Tanah Jawa rusak. Di masa depan kelak akan tiba masa masa paling sengsara di Tanah Jawa ini.

*****


Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 9:09 PM

No comments: