September 13, 2011

Joesoef sebagai Editor Pramoedya, Novelis calon Penerima Nobel

 Joesoef sebagai Editor Novelis calon Penerima Nobel

Bung Joesoef,

Kisah ini hasil imajinasi saya pribadi tentang nenek saya dari pihak ibu, nenek yang mandiri dan saya cintai.
     Naskahnya telah saya perbaiki dengan 2 tembusan. Yang asli dirampas di Kodam pada tgl. 13 Ok. 1965. Yang kedua pada Bakri Siregar dan tidak pernah dikembalikan. Yang ketiga pada Piet Santoso Istanto, juga tidak pernah dikembalikan. Yang tercetak ini belum pernah mengalami perbaikan.
     Sementara itu disertakan thesis Savitri Sherer yg. menyebut selintas tentang karya ini hal. 238–253. Saya akan senang sekali kalau bung cantumkan nama bung sebagai editor.
      Terimakasih,
      Pram.
     Jak.20 Sep.1985.

Itulah kata-kata Pramoedya –- dalam tulisan tangan (Joesoef Isak 80 tahun 2008: xxvii). Pram menulisnya di kertas sampul berkas fotokopi 54 lembar kertas A4 berisi kisah “Gadis Pantai” yang oleh Pram dijahit rapi. Kisahnya difotokopi dalam format kolom-kolom suratkabar. Kualitas fotokopi sangat jelek, harus dibaca dengan kaca pembesar, hurufnya terlalu kecil dan kabur, rupanya difotokopi langsung dari mikro-film. Begitulah dokumentasi milik ANU, Canberra, Australian National University tempat promovenda Savitri Sherer menyelesaikan disertasi PhDnya dengan topik Pramoedya Ananta Toer.
     Kisah “Gadis Pantai” pernah dimuat sebagai cersam (cerita bersambung/fuilleton) dalam “Lentera”, lampiran budaya suratkabar Bintang Timur. Pramoedya sendiri mengeluh bahwa naskah yang tercetak di Bintang Timur penuh kesalahan tik dan cukup sering terjadi baris-baris yang hilang. Ketika itu teknologi setting masih menggunakan mesin Intertype dengan matrijs baris-baris timah panas. Fotokopi yang diterima dari ANU tidak-bisa-tidak harus dibongkar-pasang besar-besaran karena urutan nomor terbitan tidak teratur. Terlalu sering editor dihadapkan pada kalimat yang putus begitu saja tanpa bisa dilacak lagi ke mana dan bagaimana kelanjutannya.
      Berikut ini redaksi khusus menceritakan hubungan antara Pramoedya dan editornya di Hasta Mitra. Kita juga cuplik ringkas butir-butir yang bisa kita dengar langsung dari Joesoef mengenai hubungan kerjanya dengan novelis kaliber Nobel itu.
      Joesoef profesinya hanya dan terutama wartawan saja, sama sekali tidak punya latar-belakang sastra. Hasjim Rachman dan juga Joesoef sendiri pernah menawarkan kepada Pram sekurang-kurangnya lima nama sesama sastrawan Lekra yang tenar, produktif dan mampu menjadi editor. Pram hanya singkat menjawab, “tidak, saya pilih bung Joesoef.”
      Joesoef bangga dan merasa mendapat kehormatan sekaligus sadar memikul tanggung-jawab besar, karena itu ia berusaha mengimbali kepercayaan setinggi itu dengan kerja optimal. Editing diusahakan maksimal akurasi dalam data historis, juga menyangkut aspek estetik diusahakan selalu kompatibel dengan gaya dan spirit Pram. Joesoef tidak pernah menulis produk sastra, hanya semasa wartawan muda usia 20-an cukup banyak membaca semrawutan berbagai karya literer. Shakespeare, Tolstoy, Dostojevsky, Gorki, Chekov, Emile Zola, Balzac, Stendahl, Flaubert, Gide, D.H. Laurence, Hemmingway, Margareth Mitchell, Steinbeck, cerpen ringan-ringan yang sudah dikategorikan klasik seperti karya Guy de Maupassant, juga penulis dan penyair Belanda de 80-ers, Willem Kloos, Jacques Perk, Slauerhoff dsb. Pernah juga Joesoef tergila-gila pada hampir semua karya sandiwara Bernard Shaw. Karya-karya itu semua dibaca lewat terjemahan Belanda. Sebelumnya Joesoef tidak kenal Pramoedya, malah tidak pernah membaca Pram ketika nama Pramoedya Ananta Toer di awal 50-an mulai tenar lewat novel-novel – atau lebih tepat cerpen-cerpen panjang –- seperti “Cerita dari Blora”, “Keluarga Gerilya” dan lain-lain.
      Kita catat sedikit pengalaman Joesoef sebagai editor mengenai ciri-ciri khas Pramoedya sebagai penulis novel, sbb.:

•    Pram adalah penulis yang tidak pernah membaca ulang atau mengoreksi naskahnya yang sudah rampung dia tulis. Sesudah jadi buku pun dia cuma mengebat-ngebat halaman-halaman sekedar melihat layout atau tampilan design naskah yang sudah jadi buku itu. Dia pernah mengatakan, kalau dia mulai memeriksa ulang apa yang sudah ditulisnya, dia khawatir akan berkepanjangan malahan bisa melahirkan novel lain lagi. Ketika jumpa Günter Grass di Hamburg, penulis pemenang Nobel dari Jerman itu berkata kepada Joesoef, “Saya sebaliknya dari Pram – semua karangan saya harus saya baca dan kontrol ulang, walaupun sudah diedit redaksi penerbit.”

"Gadis Pantai" oleh Joesoef Isak dianggap pekerjaan editing terberat, karena naskah asli dalam bentuk microfilm dan dalam isi naskah hampir 30 persen dalam kondisi cacat tidak terbaca/hilang.

•    Sekali Pram mempercayakan editing naskahnya kepada Joesoef, dia konsisten menyerahkan segalanya pada Joesoef. Pada mulanya ada hal-hal yang Joesoef merasa perlu minta persetujuan Pram, karena yang mau dikoreksi cukup besar, kadang-kadang menyimpang jauh dari aslinya. Pram konsekuen menjawab, “Terserah pada bung! Tulis saja yang bung anggap terbaik.” Karena berkali-kali mendapatkan jawab yang sama, Joesoef seakan pegang mandat blanko, koreksi atau perubahan apapun sudah tidak ditanya atau diberitahukan lagi kepada Pram. Menurut Joesoef, boleh jadi Pram tidak tahu perubahan apa saja yang sudah dilakukan dalam naskahnya, dan sudah beredar di dunia, tetapi rupanya tidak jadi soal baginya. Begitulah konsekuennya Pramoedya pada saat dia sudah satu kali ucapkan, “Terserah bung!”
•     Ada kekecualian -– Pram sendiri yang cerita. Versi bahasa Inggris Nyanyi Sunyi Seorang Bisu -– The Mute’s Soliloquy – adalah satu-satunya naskah yang tuntas dia baca ulang seluruhnya, pener-jemahnya (John McGlynn) maupun penerbitnya di Amerika (William Morrow, New York) khusus memintanya. Pram mengatakan “saya menangis membaca tulisan saya sendiri.” Itulah produk karya Pulau Buru satu-satunya yang bukan novel, non-fiksi bersifat biografis. Di situ terdapat daftar lengkap ratusan nama lengkap alamat para tapol yang mati karena sakit, kecelakaan, berkelahi sesama tapol, karena kelaparan atau mati dibunuh petugas. Kopkamtib yang bertanggung-jawab melahirkan Buru sebagai pulau pembuangan tidak pernah punya daftar seperti itu, keluarga yang kehilangan tidak pernah diberitahu.
•    Mengenai tetralogi Bumi Manusia, kepada Joesoef Pram pernah mengatakan jilid 1 - 2 - 4 bung yang edit, saya akan edit jilid 3, Jejak Langkah. Pram lalu mulai mengedit, tetapi baru mengerjakan kurang-lebih 150 halaman dari 1.000 halaman lebih tik-tikan spasi 2 dia berhenti, seluruh berkas yang sudah dan belum digarap dikembalikan kepada Joesoef. “Saya tidak sanggup, tolong bung saja teruskan.”
     Ketika ditanyakan apa sebab Jejak Langkah jarak terbit jilid II ke jilid III menunggu sampai hampir satu tahun, Joesoef hanya menjelaskan tentang kesulitan modal. Itu alasan benar, tetapi ada pertimbangan lain yang membuat Pram ragu dan lama berpikir. Joesoef tidak mau mendetail memasuki substansi persoalan, hanya mengatakan ada hal-hal yang tidak perlu dibeber ke depan umum.

Dalam naskah asli tetralogi sebagaimana sudah rampung ditulis di pulau Buru, untuk Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa nama Minke muncul sebagai tokoh “aku”. Di Jejak Langkah jilid III, tokoh “aku-Minke” berganti men­­­­­­jadi Raden Mas Tirto Adisoerjo. Wa­lau­pun tidak ada pen­jelas­an apa-apa, pem­­­­­­­­­baca dengan sendirinya mengerti Tirto Adisoerjo adalah Min­­­ke yang sebelumnya sudah muncul di jilid I dan II, cerita yang beralih jilid de­ngan lancar terus mengalir. Untuk ji­­lid IV Rumah Ka­ca tokoh “aku” di­pegang oleh Pa­ngemanann.
     Tetapi­ seba­gai­ma­­­­na yang kemu­di­an beredar resmi di Indonesia dan di dunia, dalam Jejak Langkah tokoh “aku” kembali pada Minke, tidak jadi pakai na­ma Tirto Adisoerjo. Pram merasa terganggu hati-nuraninya untuk memakai nama otentik Tirto Adisoerjo, karena dia tidak ingin bersikap seakan dia lebih tahu tentang Tirto Adisoerjo daripada keluarga keturunan Tirto Adisoerjo sendiri yang masih banyak hidup di berbagai tempat di Indonesia, di Jawa dan juga bahkan di Timur Indonesia, Maluku dan Ternate. Selain karena kurang modal kerja, gara-gara itulah Jejak Langkah agak lambat terbit. Prof. Wertheim di Wageningen Belanda, membujuk Pramoedya untuk jangan risau. Wertheim coba meyakin­kan, apa yang ditulis Pram bukanlah karya sejarah, bukan karya ilmiah. Walaupun ada singgungan dengan sejarah tetapi ia karya fiksi – novel tidak perlu akurasi setepat-tepatnya, pengarang bebas berimajinasi.  Wertheim adalah orang di belakang layar yang membantu Joesoef meng­edit karya tetralogi itu, terutama mengenai keakuratan data sejarah dan aspek hukum perdata yang muncul dalam tetralogi itu. Dia misal­nya mengirimkan pada Joesoef beberapa halaman fotokopi Burgelijk Wetboek berisi fasal-fasal yang mengatur warisan Belanda yang kawin dengan seorang nyai. Perbaikan mengenai pembagian waris­an kemudian dilakukan sesuai pasal undang-undang menurut petunjuk Prof. Wertheim.
     Jalan keluar yang akhirnya disetujui Pramoedya, nama otentik  Tirto Adisoerjo dalam Jejak Langkah tidak digunakan, nama fiktif Minke kembali dipakai.

-- Mengenai “Gadis Pantai”, kondisi fisik manuskrip itu memang memaksa “overhaul” yang menyeluruh. Joesoef menceritakan bahwa Pramoedya tetap konsekuen, dia silakan Joesoef mengadakan perombakan dan perbaikan, “Bagaimana baiknya menurut bung!” Joesoef mengubah semua sanjak-sanjak sesuai dengan kaedah pantun, bahkan mengubah juga salah satu karakter tokoh yang muncul dalam kisah Gadis Pantai.
    Gadis Pantai yang beredar dalam berbagai bahasa, kalau pembaca banding-bandingkan dengan yang asli sebagai cersam di surat kabar Bintang Timur tentu akan melihat perbedaannya. Setelah Gadis Pantai jadi buku, Pram hanya senyum mengangguk, “Ya saya sudah lihat. O.K. Bagus,” reaksinya singkat.
--    Masih ada cerita menarik mengenai riwayat perjalanan naskah Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Selepas dari Buru 1979 dan sudah tujuh tahun berada di rumahnya di Utan Kayu – baru pada tahun 1986 ketika membongkar gudang dia temukan tumpukan naskah setinggi 10 cm lebih. Semua hasil ketikannya sendiri di Pulau Buru, kertas dupiklat tipis ukuran A4 yang dilipat dua menjadi 4 halaman. Seperti biasa Pram mengetik rapat dengan spasi satu. Dia lupa bahwa ia pernah menulis buku satu-satunya yang bukan novel, judul pun sudah diberikan: “Nyanyi Tunggal Seorang Bisu”. Berkas tumpukan kertas lusuh sudah berwarna kuning dia bawa ke Jalan Duren Tiga, kepada Joesoef dia berkata, “Bung, saya baru temukan tumpukan ini. Coba baca, kalau menarik tolong diedit, barangkali bisa diterbitkan.” Pram selalu merendah hati kalau menyampaikan naskah. Bukan main Joesoef terkejut. Ternyata isinya laporan otentik pengalaman di Pulau Buru. Karena tadinya kertas berserakan yang dikumpulkan dan ditumpuk rapi, dengan sendirinya kronologi ceritanya tidak urut –- tapi segera bisa ditangkap isi kertas-kertas lapuk itu bakal menggegerkan. Apa yang Pram tulis mencekam sekali, mengharukan, semua serba realistis, otentik, true story. Joesoef segera menanganinya tetapi sadar bahwa buku dengan isi seperti itu tidak mungkin diterbitkan. Novel yang fiktif saja dilarang, apalagi kisah kesaksian langsung mengenai berbagai fakta kekejaman para pengawal di Buru yang nyata kejadiannya. Hasjim Rachman yang selalu mengatakan, “Aku tidak takut pada Jaksa Agung!” kali ini ngepèr mundur – kalau yang ini tunggu dulu.... Yang ditulis Pram semuanya benar, aku sendiri ikut mengalami. Yang aku takuti, bukan bukunya saja yang dibredel, tetapi Hasta Mitra ditutup. Habislah riwayat kita kalau sampai Hasta Mitra ditutup, begitu reaksi Hasjim.
    Naskah yang sudah diedit, dilayout sampai pers-klaar (siap cetak) cukup lama disimpan dalam laci. Pram menyetujui ketika Joesoef mengusulkan naskah itu dikirim ke Holland saja. “Terserah pada bung,” katanya. Joesoef menawarkan naskah itu pada temannya, Prof. Henk Maier dengan permintaan kalau tertarik tolong carikan penerjemah dan penerbit di negeri Belanda. Judul Indonesianya sudah sedikit berubah dari “Nyanyi Tunggal  seorang Bisu” menjadi “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu”, dalam bahasa Belanda terbitan 1988 dipakai judul “Lied van een Stomme”. Boleh jadi Lied van een Stomme adalah satu-satunya buku yang terbit dalam bahasa asing lebih dulu sebelum terbit dalam bahasanya sendiri. Pada saat Lied van een Stomme di Belanda sudah naik ke mesin cetak, Pramoedya datang lagi ke Jalan Duren Tiga membawa setumpuk kertas kumal yang lebih banyak jumlahnya daripada yang sebelumnya. Yang mau diceritakan di sini, terbitnya “Lied van een Stomme” dalam dua jilid, itu jelas terjadi karena “kecelakaan” bukan karena direncanakan -– not by design. Semua gara-gara Pramoedya menemui kembali tulisannya tidak sekaligus satu kali tetapi dalam dua tahap.
       Enam tahun kemudian sesudah dua jilid terbitan Belanda ’88-’89 masuk pasaran, dua minggu sebelum ulang tahun Pram 6 Februari 1995, Pram nekat meminta supaya “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” diterbitkan saja, tepat untuk memperingati hari ulang tahunnya ke-70. Kali ini Hasjim Rachman pun nekat, kepalang basah, semua buku toh sudah pada dibredel.
      Masalahnya sekarang mencari percetakan yang mampu cetak-jilid dalam waktu dua minggu selesai. Naskahnya sendiri tidak problem, karena sudah tiga tahun lebih dalam keadaan siap-cetak. Dua percetakan bersedia menangani dan menyanggupi sebelum ulang tahun Pram 6 Februari akan selesai. Tetapi kedua percetakan itu mengembalikan naskah kepada Joesoef dengan permintaan maaf yang sebesar-besarnya. “Kalau saya cetak buku bapak, rasanya buku ini pasti dibredel tetapi yang celaka percetakan saya mungkin bakal disita.” Rupanya pihak pencetak sempat membaca apa isi naskah yang diberikan kepada mereka, sehingga timbul ketakutan. Gara-gara penolakan sampai dua kali dengan alasan yang sama, Hasta Mitra kehilangan waktu satu minggu. Ketua Asosiasi Jurnalis Independen, kelompok wartawan yang dipecat PWI, menjadi bidadari penyelamat. Waktu tinggal enam hari, ketua AJI Santosa mengatakan kepada Joesoef: Kasih naskahnya kepada saya, bung Joesoef tidak usah tahu di mana saya akan mencetak. Sehari sebelum ulangtahun Pram, akan saya serahkan order 1.000 exp. yang bung pesan.
      Sampai tanggal 5 Februari ternyata buku belum selesai dicetak –- Hasjim dan Joesoef gelisah, Pram tidak tahu apa-apa karena sudah dijanjikan segalanya akan beres pada hari ulang-tahunnya. Pada hari H. 6 Februari menjelang magrib para tamu sudah mulai berdatangan ke rumah Pram di Utan Kayu... Romo Mangun, Sitor Situmorang, Goenawan Mohamad, Ong Hokham, Gus Dur, Hariman Siregar, Sukmawati, juga para wartawan asing dan banyak lagi lainnya hadir. Joesoef keringat dingin -– mau telepon percetakan tidak tahu di mana alamat percetakan.
    Beberapa menit sebelum pk.6 sore buku akhirnya datang juga, para tamu sudah kumpul di teras atas rumah Pram di jalan Multi Karya Utan Kayu.
        Kualitas cetak mengecewakan, buku memakai kertas koran murahan, cukup banyak halaman yang lepas karena jilidnya kurang baik. Tetapi para tamu memaklumi, bahkan menghargai Hasta Mitra berani muncul dengan buku itu. Naskah yang beberapa tahun disimpan dalam laci akhirnya bisa dibaca juga orang Indonesia dan bukan saja orang Belanda. Yang penting: buku terbit!!!

    Catatan penutup: “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” pegang rekor juara satu. Itulah buku Pramoedya yang dalam waktu minim 10 hari sudah dibredel Jaksa Agung.

--    Satu lagi, jangan pernah tanya pada Pram novel-novel mana atau jilid berapa yang dia anggap terbaik dari karya tetralogi Buru itu? “Tidak ada yang terbaik atau kurang baik; semua itu anak rohani saya. Sekali mereka dilahirkan, masing-masing menempuh nasibnya sendiri-sendiri.”
     Ada satu hal yang tidak kesampaian. Menurut Joesoef, Pram berniat menulis buku mengenai Bung Karno yang sebelumnya pernah ia nilai negatif, tetapi penilaian berubah setelah sempat merenung dalam tahanan, apalagi mendapat perbandingan dengan jenderal yang baru jadi Presiden dengan cara “mendem jero” Soekarno. Pram kepingin menulis tetapi merasa writers-block sudah menyumbat kreativitasnya. Joesoef tidak pernah lupa ucapan Pram tentang Bung Karno yang menurut Joesoef telah menjadi kata-kata bersayap, gevleugelde woorden, winged-words. “Bung Karno adalah satu-satunya politikus dan negerawan di zaman modern yang mempersatukan rakyat dan negerinya tanpa menumpahkan satu tetes darah pun.” Bandingkan dengan Harto, untuk membangun Orde Baru jutaan orang dia bantai dan jebloskan dalam penjara.
Joesoef sendiri punya komentar tentang Suharto dalam kaitan dengan “Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober” yang dirayakan tiap tahun. Dia katakan “Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober” rancu dan salah kaprah. 1 Oktober 1965 adalah hari awal Suharto menunggangi maksimal habis-habisan kesaktian Pancasila untuk merebut ke­kuasaan tertinggi negara, lantas selama tiga-puluh tahun dalam kerja-sampingan membangun negara dia gilang-gemilang berhasil memperkaya seluruh keluarga anak-cucu berikut kroni-kroninya, ramai-ramai pata-céngké menjadi milyuner dolar...  Pancasila dan Trisakti Bung Karno dan Indonesia Mandiri dia buang ke keranjang sampah. Itu komentar bung Joesoef.

Kerja-sama Pramoedya-Joesoef selama dua dekade lebih -– bersamaan waktunya dengan kekuasaan Suharto –- dapat dicatat sebagai hubungan yang unik. Bulat-bulat Pramoedya mempercayakan segalanya kepada Joesoef, sehingga ucapan, “Terserah pada bung Joesoef”, menjadi terkenal. Para tamu, wartawan, ilmuwan, siapa saja dari dalam dan luar negeri yang mau jumpa atau wawancara akan selalu mendengar kata-kata baku Pram itu... “Bicara saja sama bung Joesoef”, “kalau dia setuju, saya setuju.”
     Itulah tahun-tahun Joesoef bukan saja jadi editor, tetapi praktis juga merangkap sekretaris pribadi, purel, literary agent dan sekaligus interpreter. Pramoedya mengerti bahasa Inggris dan Belanda, tetapi dia lebih suka mengekspresikan diri dalam bahasa Indonesia. Kunjungannya ke luar negeri, Amerika, Kanada, Belanda, Prancis, Jerman dan Jepang juga selalu didampingi Joesoef. Nama Joesoef seakan lengket seperti perangko dengan nama Pramoedya. Yang menyedihkan Joesoef adalah ketika ia bersama Pram sepulang dari Amerika-Kanada pada bulan Juni 1999 berada di Hamburg Jerman, ia menerima kabar Hasjim Rachman meninggal karena kanker ganas; dan pada bulan April 2006 ketika ia berada di Xiamen Tiongkok, ia menerima s.m.s. dari anaknya bahwa Pramoedya meninggal. Kedua rekannya meninggal pada saat ia berada di luar negeri.
     Joesoef bercerita betapa luar biasa dua rekan kerjanya itu. Inisiatif dan kreativitas bisa sepenuhnya dia kembangkan berkat kepercayaan bulat dari Pram, sedangkan Hasjim dengan gaya Medan selalu berkata, “Kau jangan risaulah!” Kau tentukanlah naskah apa yang kau mau edit, buku apa mau kau terbitkan, uang-cetak-jualbuku-soal duwit, itu bagian aku. Jangan takut pada Jaksa Agung, kalau buku dibredel, rugi, uang tidak masuk, itu semua urusan aku, jangan kau ikut-ikut risau.
     Bagaimana tidak ikut risau, setiap kali beaya keluar, uang tidak pernah kembali, buku selalu dibredel, modal ludes. Perusahaan tidak berjalan normal, modal tidak bisa berakumulasi. Hanya jilid pertama “Bumi Manusia”, satu-satunya buku Pramoedya yang bisa beredar sampai enam bulan. Hasta Mitra yang baru berdiri mendadak jadi kaya, Pramoedya bisa dibelikan mobil oleh Hasjim Rachman. Joesoef sudah berkhayal Hasta Mitra akan menjadi salah satu penerbit besar di Indonesia. Setelah enam bulan itu, semua mimpi indah bubar jalan, Hasta Mitra selanjutnya jalan terseok-seok sampai Suharto sendiri yang lengser. Bahwa Bumi Manusia bisa beredar cukup lama sampai enam bulan, itu jelas mengindikasikan adanya dilema dalam power-structure. Kubu yang menganggap buku Pram berbahaya dan harus diberangus berhadapan dengan kubu yang menganggap Bumi Manusia “tidak ada apa-apanya”, tidak perlu dibredel. Dilema yang makan waktu enam bulan menguntungkan Hasta Mitra. Dalam dokumentasi surat-suratkabar awal 80-an, dapat dibaca bahwa dua pejabat yang paling bertanggung-jawab atas keamanan dan ketertiban masyarakat pada saat itu, yaitu Jaksa Agung Ali Said SH dan Pangkopkamtib Sudomo, justru menjadi pejabat yang menganggap Bumi Manusia tidak perlu dilarang. Tetapi di sini kita lihat bahwa di atas segalanya sistemlah yang serba menentukan, sistem tidak mentolerir pemikiran lain, semua mesti serba seragam sesuai kemauan Kekuasaan Orde Baru.
     Joesoef ketika ditanya pendapatnya tentang tuduhan kejaksaan  agung bahwa buku-buku Pram menyebar-luaskan Marxisme-Leninisme, lakonik mengatakan sepanjang mengedit ratusan halaman dan ribuan baris karya Pram, dia tidak pernah jumpa kamerad Lenin atau Marx, ngumpet di sela-sela baris, di balik titik, di balik-balik koma pun tidak. Edan! Joesoef cuma geleng-geleng kepala bertanya-tanya: pejabat-pejabat di kejaksaan agung dan PDK yang memutuskan berangus buku-buku Pram apakah sekarang bisa damai-damai saja dengan hati nurani sendiri? Masihkah mereka yakin Pram dan Hasta Mitra dengan novel B.M.nya menyebar-luaskan marxisme dan leninisme yang bikin PKI bangkit kembali?
     Sekarang buku-buku Pramoedya beredar bebas, lantas apakah apa betul masyarakat jadi resah? B.M. ternyata tidak meresahkan masyarakat sama sekali –- yang jelas meresahkan masyarakat adalah meroketnya harga B.B.M.
      Dalih para pejabat, masyarakat tidak bisa terima beredarnya buku-buku Pram karena menyebar-luaskan Marxisme-Leninisme, lantas apakah sekarang PKI Malam atau PKI Siangbolong sudah berdiri lagi setelah masyarakat bebas membaca buku-buku Pram?
     Itulah yang dimaksudkan oleh Joesoef kejaksaan agung dungu, bahkan bodoh-tidak-ketolongan. Enggak ada soal, bikin soal. Tetapi larangan terhadap buku-buku Pramoedya sampai detik ini tetap saja belum dicabut. Masih tidak mau berhenti dungu?
     Mengenai puja-puji betapa beraninya Hasta Mitra terbuka berha­dapan dengan kekuasaan Suharto, Joesoef mengatakan, “Saya sebe­narnya tidak berhenti cemas ketakutan. Pengalaman penjara memang mengagungkan dan memperkaya -– menobelkan –- nalar dan nurani, tetapi saya takut dan tidak mau dipenjarakan lagi untuk kedua kalinya. Akan tetapi betapa besar pun diganggu rasa takut, jangan sekali-kali “sang takut” diperlihatkan pada Penguasa. Penting kendalikan takut! Penguasa maunya kita takut dan sukarela menghentikan segala kegiatan. Ini berarti buku tidak terbit, tanpa Penguasa perlu mengeluarkan larangan tertulis.”
      Joesoef mengingatkan kawula muda, jangan perlihatkan takut pada Penguasa, jangan sekali-kali sukarela sensor diri sendiri. Begitulah wa­tak Hasta Mitra yang menyebabkan penerbit itu dapat label “icon perlawanan” terhadap otoriterisme Orde Baru. ***
Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 2:50 PM

No comments: