September 26, 2010

G30S dan Teror Putih Ketiga

G30S dan Teror Putih Ketiga

mbah sghriwo

Dipa Nusantara Aidit sudah merasai kekhawatiran dalam hati bahwa bencana itu segera datang tak lama lagi, perasaan galau seperti itu hanya dipendam sendiri saja, dan hanya orang terdekat saja yang melihat keanehan pada air mukanya yang begitu sedih tepat menjelang detik-detik terjadinya "teror putih ketiga" pada bulan September 1965. Aidit lah yang dalam beberapa kesempatan menyebut istilah "teror putih" ini mengacu pada pembasmian kaum komunis Indonesia. Teror putih pertama terjadi pada 1926, teror putih kedua pada September 1948. 
    Aidit memang tahu betul jauh-jauh hari rencana Gerakan Untung cs yang akan bergerak menangkapi jenderal AD yang bersekongkol dalam "dewan jenderal" untuk dihadapkan kepada Presiden. Akan tetapi kekuasaan Aidit sebagai petinggi Biro Chusus yang besar itu sebenarnya tidak seratus persen mengendalikan faksi militer manapun dalam tubuh Tentara Nasional Indonesia apalagi sampai mampu ikut mencampuri gerakan sebelum gerakan itu bergerak. Aidit dan Sjam Kamaruzzaman sebagai pentolan BC tidak sepenuhnya memegang komando utama  pasukan Tjakrabirawa.
    Letnan Kolonel Untung Syamsuri sebenarnya mau mengulangi perjuangan kepahlawanan "Untung Suropati" yang berasal dari Bangil di masa kolonialis Belanda. Kesempatan itu datang dengan dukungan penuh dari Biro Chusus PKI yang memang tugas utamanya mempengaruhi militer agar mendukung kekuatan komunis tanpa menimbulkan kecurigaan sehingga BC tidak akan mengambil alih komando akan tetapi militer itu sendiri yang pegang kendali pasukan masing-masing. Untung yang menganggap dirinya akan seberuntung Untung Suropati yang marak jadi raja itu punya kedudukan strategis untuk mengulangi sejarah kepahlawanan lagi. 
    Biro Chusus PKI yang bersifat rahasia itu dalam memberi dukungan penuh pada pihak militer pengawal terdekat Presiden pimpinan Untung Syamsuri tentu tanpa persetujuan rapat paripurna petinggi PKI lainnya dalam hirarkie organisasinya. BC dan Letnan Kolonel Untung sebenarnya telah melakukan miskomunikasi dan masing-masing bergerak sendiri-sendiri alias tidak dalam koordinasi secara struktural maupun fungsional dalam upaya membela kedudukan Bung Karno sang  Pemimpin Besar Revolusi yang memegang komando tertinggi Tentara Nasional Republik Indonesia dari ancaman "dewan jenderal" yang hendak melakukan "kudeta" pada Hari Ulang Tahun TNI 5 Oktober 1965. 
    Sudah sewajarnya bagi pasukan paling setia pada Bung Karno yakni Resimen Tjakrabirawa pimpinan Letnan Kolonel Untung Syamsuri yang paling pantas mengambil prakarsa pencegahan atas segala sesuatu yang mengancam wibawa dan kekuasaan Pemimpin Besar Revolusi. Menjaga wibawa Presiden di dalam istana dan di luar istana artinya pasukan Tjakrabirawa juga memiliki wewenang di seluruh teritori wilayah Republik Indonesia dalam menggelar operasi keamanan utama menyelamatkan Presiden. Apalagi dalam suasana perang yang dicanangkan Bung Karno waktu itu untuk "mengganyang Malaysia" mentah-mentah dan mengenyahkan kolonialisme dari Nusantara dan sekitarnya. Kini (2010) keadaan menjadi berbalik justru Malaysia yang malah lebih berani unjuk gigi terang-terangan menantang untuk bertempur menghadapi seluruh kekuatan darat, laut, dan udara Tentara Nasional Indonesia.
    Dalam suasana konfrontasi ganyang Malaysia dan perang dunia dingin antara kubu kapitalis dan kubu sosialis-komunis, kekuatan komunis yang selalu menggentarkan dunia Barat sepanjang masa terutama terhadap kaum kolonialis dan kapitalis -- kini (1965) semakin berkembang di Nusantara -- tentu menghadapi hal demikian pihak asing yang anti-komunis tidak akan tinggal diam apalagi  jika sampai Nusantara jatuh menjadi negeri kemunis. Untuk itulah upaya mendongkel Presiden Soekarno semakin gencar dilakukan oleh dinas rahasia asing dan dinas intelijen dari negara-negara lain yang ingin Nusantara berada di bawah pengaruhnya secara ekonomi dan militer. Dalam beberapa kali pidato Presiden Soekarno sudah menyinggung hal ancaman asing tersebut, dan kepada pasukan Tjakrabirawa ancaman terhadap presiden berarti menjadi tugas dan tanggung jawabnya penuh untuk mengambil segala sesuatu tindakan yang diperlukan, di dalam wilayah istana maupun di luar istana mencakup seluruh teritori Republik Indonesia.
    Kembali pada perasaan Bung Aidit menjelang hari-hari H gerakan militer AD menangkapi jenderal-jenderal itu. Bung Aidit bertanya-tanya pada diri-sendiri apa yang akan terjadi kelak setelah gerakan militer tersebut? Bagaimana kalau gagal sehingga membangkitkan kembali teror putih dari sarangnya dengan sasaran tetap: PKI? Perasaannya memang gelisah tanpa jelas penyebab dan cara mengatasinya. Bung Aidit yang sehari-hari hidup di tengah masyarakat dan tidak bersembunyi di hutan-hutan, hal itu sangat merisaukan hatinya dari segi keamanan seandainya terjadi apa-apa tentu sulit baginya menyelamatkan diri dan keluarganya. Dengan demikian akhirnya ia pasrah menghadapi apa yang kelak terjadi dan tanpa persiapan apapun hanya menunggu saja waktu berjalan. Kemungkinan terburuk datangnya kehancuran Partai di bawah pimpinannya berikut pembantaian dan pemburuan orang-orang komunis sama sekali belum terlintas dalam pikirannya. Ia tidak mempersiapkan rencana x untuk menghadapi yang terburuk. Aidit lebih bergelut dengan perasaan gelisahnya sendiri di kantor CC Kramat Raya itu. Ia murung saja di hari-hari terakhir itu. Pertanda buruk itu tidak pernah disadarinya sampai ia kemudian memutuskan meninggalkan ibukota kelak setelah terjadinya gerakan Letnan Kolonel Untung yang gagal disebabkan terbunuhnya jenderal-jenderal yang tertangkap. Kematian para jenderal itu berakibat fatal dan menimbulkan kekacauan gerakan yang tidak memperhitungkan bila terjadi demikian.
    Teror Putih Ketiga yang diramalkan oleh D.N. Aidit  beberapa hari sebelum 30 September 1965 memang akhirnya menjadi kenyataan, suatu prestasi gemilang bagi blok Barat dan dunia kapitalis pimpinan Amerika Serikat sehingga ramai bergendang perut memuji kehebatan masing-masing dalam menyusun strategi melenyapkan kekuatan komunis di Nusantara yang konon berlimpah kekayaan alam, dengan telah tumpas kekuatan komunis  dalam jumlah besar yang menggentarkan hati dan menjadi mimpi buruk mereka yang mendukung Doktrin Truman maupun McCarthy yang anti-komunis maka tak ada lagi benteng dan banteng penjaga bagi sumber daya alam di Nusantara sehingga pada akhirnya jatuh ke tangan modal multinasional hingga hari ini dengan merugikan rakyat Indonesia pemilik sah kekayaan tersebut.
****
Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 10:34 AM

1 comment:

Anonymous said...

membuka wawasanku matur suwun