August 12, 2010

Pramoedya Ananta Toer Cerita dari Jakarta


Pramoedya Ananta Toer

Cerita dari Jakarta

mbah sghriwo

Sebut saja Kasan namanya. Ia salah satu perantau yang terdampar di stasiun Gambir jadi tukang angkut. Ia terpaksa ke kota karena terjadi penjahat merajalela di kampungnya. Ada tujuan khusus bagi misinya di Jakarta: mendapatkan senjata untuk melawan perampok di daerahnya. Sementara itu kehidupan ibukota terus berlangsung begitu saja dengan sendirinya salah satunya di gerbong kereta api di stasiun Gambir yang dekat Monas. Stasiun kota dan Gambir menjadi favorit di tahun limapuluhan bagi pendatang baru dari pelosok yang coba-coba mengadu nasib jadi kuli angkut barang. Dari stasiun yang disebut pertama barang dagangan didistribusikan dari kawasan kota berpenduduk mayoritas orang Tionghoa. Dan itu juga membawa rejeki bagi porter stasiun yang biasanya sepanjang hari terus berada di stasiun, tidur di gerbong malam hari dan jika sakit pun berdiam terus di gerbong yang sudah tidak dioperasikan itu bisa juga menjadi ruang yang hangat dan nyaman di malam hari.
    Porter atau kuli angkut di Gambir waktu itu ada yang kuat mengangkat beban hampir 100 kg atau satu kwintal. Kuli angkut stasiun yang berasal dari luar Jakarta bisa pulang kampung sekali sebulan atau dua minggu sekali untuk beristirahat dan menikmati hasil jerih-payahnya bersama keluarga yang berada jauh dari ibukota.
    Rel kereta api dan stasiun-stasiun kereta jarak pendek di ibukota menjadi favorit bagi yang mau bekerja menjadi kuli angkut. Kuli angkut dibutuhkan di mana-mana antara lain di pasar, pelabuhan, dan terminal bus antar kota.
    Cerita dari Jakarta menggambarkan suasana tahun 1950-an sesuatu yang berbeda dari imajinasi penduduk di pelosok bahwa uang dengan mudah didapat di kota-kota besar macam Jakarta. Kenyataannya memang demikian bagi yang beruntung uang receh atau uang gede mudah didapatkan dengan bekerja di perusahaan besar atau menjadi pegawai negeri tentu kalau punya tampang dan ijasah cukup, bagi yang kurang beruntung tidak memiliki pekerjaan yang baik, pekerjaan kantoran, maka yang tersedia adalah kerja badan: itupun bagi yang mau bermandi keringat dan berusaha akan tetapi yang lain lagi pekerjaan kasar pun sulit didapat karena ketatnya persaingan maka untuk sekadar makan sederhana bahkan sepotong singkong atau ubi yang mudah didapat di desa ibu kota Jakarta bisa berubah jadi neraka kehidupan. Panas udaranya panas temperamen manusianya dan panas-panasan pekerjaan yang mudah tersedia bagi orang dari pelosok, tukang parkir dan kuli angkut barang.


****

tulisan bersinggungan


PRAMOEDYA ANANTA TOER lengkap
Subowo bin Sukaris
hasta mitra Updated at: 10:13 AM

2 comments:

errik irwan w said...

Apakah buku ini masih ada? saya ingin beli. Bagaimana caranya?

Subowo bin Sukaris said...

Terimakasih atas komentar bung Errik Irwan W,

Perlu bung Errik ketahui bahwa Hasta Mitra memang pernah menerbitkan "Cerita Dari Jakarta" karya PAT sekitar 2000-an. Stok kami buku tersebut sudah lama habis. Oh, ya pada 2000-an Hasta Mitra memberikan kesempatan kepada distributor Adipura/Jalasutra Yogyakarta untuk mengedarkan buku itu.Di sisi lain versi bahasa Inggris "Tales from Jakarta" yang sampul buku bergambar stasiun Jayakarta itu diterbitkan oleh Hasta Mitra bekerja sama dengan Equinox publishing.
Pada akhir 2002 Hasta Mitra tidak lagi menerbitkan karya Pramoedya termasuk "Cerita dari Jakarta", dan hak penerbitan telah diambil alih oleh penerbit "Lentera Dipantara" milik keluarga Pramoedya sendiri. Jadi saya harap bung Errik maklum jika mencari karya Pramoedya untuk saat ini dapat dilakukan dengan menelusuri informasi melalui penerbit Lentera Dipantara.
Berikut ini salah satu outlet Lentera Dipantara yang dipajang di situs gramedia online. Silakan mengecek sendiri apakah buku itu ada atau tidak. Salam dan terimakasih.

http://www.grazera.com/search/book/pramoedya%20ananta%20toer